Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mark-up

Haba-Haba Herman RN

Pemanggilan para pejabat di gampông Apa Teulah karena diduga korupsi semakin marak. Mulai pejabat tingkat elit sampai dengan pejabat tingkat tengik. Maksudnya mulai pejabat kelas kakap sampai pejabat kelas teri. “Apakah semua pejabat korupsi?” batin Apa Teulah sambil terus mengamati lembar koran lokal yang baru tiba di meja depan rumahnya.
“Pakoen lom, Cutbang? Sabé lôn kalon Cutbang sosah até. Peuna, Bang? Neupeugah bak lôn,” ucap Maimunah yang hadir membawa sepiring goreng pisang ke hadapan suaminya.
“Ini, coba ke baca sendiri koran hari ini. Apalagi yang dilakukan pejabat kita,” sahut Apa Teulah sambil memberikan koran yang sedang dibacanya kepada Maimunah.
“Berita yang mana, Cutbang?”
“Apa ndak ke lihat itu. Kasus korupsi lagi di Aceh. Kemarin pejabat-pejabat Bireuen diperiksa polisi. Hari ini giliran mantan bupati Bireuen. Si Tafa itu ikut dipanggil polisi dengan kasus serupa, mark-up alias penggelembungan uang. Ndak habis-habisnya kasus korupsi di gampông ini. Heran aku.”
“Iya, Cutbang. Adalagi ini, kasus pelatihan guru juga sedang disorot. Katanya, pihak Tarbiyah IAIN dan Yayasan FKIP juga menggelapkan dana pelatihan guru,” timpal Maimunah.
“Apa sudah tertutup mata pejabat-pejabat negeri ini sehingga semuanya terlibat mark-up? Kelihatan sekali kalau uang telah menutupi mata mereka,” tandas Apa Teulah.
“Biasa, Cutbang. Bukankah di Aceh ada naritmaja yang mengatakan, bak pèeng gadoeh janggôt, bak burôt gadoeh ulama. Nah, tradisi ini yang sedang dilakukan pejabat-pejabat kita. Kan mewarisi tradisi itu katanya baik bin bagus.”
“Hei, Munah! Bèk asai kapeuleuh mantong habah nyan. Didengar sama pejabat kita nanti, hancur ke. Sebaiknya sebagai masyarakat biasa, kita diam saja.”
“Kok Cutbang malah bilang diam? Bukankah selama ini Cutbang yang sering menggebu-gebu melihat kebobrokan negeri kita? Aneh Cutbang ini. Jangan-jangan…”
“Apa ke?!” potong Apa Teulah. “Mau tuduh aku ikut korupsi? Bèk macam-macam kah. Aku hanya ragu saja, apa benar semua yang diduga korupsi itu ikut terlibat. Jangan-jangan mereka hanya dijadikan imbas yang di atasnya,” lirih Apa Teulah.
“Iya ya, Cutbang. Saya ingat sebuah hadih maja lagi. Asee blang pajôh jagông, asèe gampông keunong geulawa. Jangan-jangan mereka imbas seperti itu, Cutbang. Kan sekarang banyak “asèe blang” di gampông kita ini.”(*)

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: