Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

BOH MALAIRI

Haba-Haba Herman RNjaman-jaman-sultan-hussein-ali-riayat-syah-atjeh-dar-as-salam-1571-1579.jpg

      Tidak seperti biasanya, hari ini Apa Teulah senyam-senyum di beranda rumahnya. Potong demi potong goreng pisang dilahapnya. Lalu, teguk demi teguk kopi citarasa Aceh membasahi kerongkongannya.

    Apa Ta’ak yang sedari tadi duduk di hadapan Apa Teulah merasa ada yang aneh terhadap sahabatnya itu. Tidak biasanya Ampon Teulah senang seperti ini. Ada apa ya? Apa dia baru kedapatan rezeki? Batin Apa Ta’ak sambil terus mengamati Apa Teulah.

“Hei, Ampon! Ada apa dengan Ampon hari ini. Senyam-senyum dari tadi,” cetus Apa Ta’ak yang tak sanggup lagi menahan penasarannya.

“Ta’ak.. Ta’ak.. aku senyum saja tidak boleh. Kayak pejabat saja ke ini, yang dilakukan rakyat semua salah,” sahut Apa Teulah.

“Bukan begitu, Ampon. Tidak biasanya Ampon tersenyum seperti itu. Biasanya Ampon selalu marah-marah. Apalagi, kalau sedang baca koran.”

Apa Teulah terkekeh kecil mendangar kata Apa Ta’ak. “Jadi, mau ke apa? Aku harus marah-marah melulu? Gitu?”

“Bukan, Ampon. Aku cuma curiga, jangan-jangan Ampon sedang mendapatkan sesuatu dari BRR,” ucap Apa Ta’ak takut-takut.

“Apa ke bilang?! Imbalan?! Jangankan imbalan, rumahku saja masih seperti ini. Ada ke lihat?! Lantainya masih tanah dan atapnya masih rumbia. Aku tak akan menerima pemberian BRR selama masih ada saudara-saudara kita yang belum mendapatkan rumah. Ke dengar itu!” kata Apa Teulah dengan lantang.

Sekarang giliran Apa Ta’ak tertawa ngakak.

“Kenapa ke ketawa. Senang ke?!” bentak Apa Teulah.

“Hehe… itu baru Apa Teulah. Saya ketawa karena akhirnya berhasil melihat watak Ampon yang sebenarnya, yaitu marah-marah,” jawab Apa Ta’ak.

Apa Teulah diam.

“Ngomong-ngomong, Ampon, bagaimana dengan berita hari ini?” tanya Apa Ta’ak. “Berita yang mana?” Apa Teulah balas bertanya.

“Tentang BRR yang didemo lagi itu.”

“Selama BRR masih main kucing-kucingan dengan masyarakat korban, sampai kapan pun dia akan didemo.”

“Ampon kok tak ikut demo? Ampon kan masyarakat korban juga,” ujar Apa Ta’ak.

“Kalau semuanya demo, siapa yang berdoa? Sudah tahu pihak di atas meu-èn taki, kita harus bantu dengan doa. Indatu kita juga bilang, boh malairi, nyang itam tangké si boh ara, ureung meuprang ka deungon taki, ureueng kanduri teuntè deungon doa.”

“Kalau untuk polisi yang mengamankan BRR itu, Ampon mau pesan apa?” celetuk Apa Ta’ak.

“Untuk polisi itu, Indatu kita juga pernah bilang, bèk gata sipak ureueng gampông, ureueng  nyang tamong gata bila. Artinya, bèk gata peuturôt boh malairi, cangguek nyang pö geunténg gaki.  Nanti, buya krueng seumakén teudong-dong, buya tamong laju meuraseuki.”(*)

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: