Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Jaga Lidah

Oleh Herman RN

“Lidah lebih tajam daripada pedang.”

Demikian kata orang bijak. Secara rasional hal ini mungkin agak aneh, tetapi ketika kita coba logika berpikir, kata-kata itu benar adanya. Kata ‘tajam’ konotasinya tentu dapat melukai. Bagaimana mungkin lidah dapat melukai melebihi pedang? Bukankah lidah hanya digunakan untuk menghancurkan makanan dalam mulut manusia agar mudah dicerna oleh usus?

Pedang adalah sebuah benda tajam. Jika ingin lebih tajam, asahlah pedang tersebut. Pedang hanya melukai bagian luar tubuh makhluk hidup, dalam konteks ini kita ambil sampel manusia. Ketika kulit manusia dilukai pedang, ia akan mengeluarkan darah. Semakin dalam bacokan atau sayatan pedang, semakin dalam sakit yang dirasakan.

Demikian halnya lidah, lidah juga dapat melukai. Ketika lidah yang melukai, luka tersebut tak nampak layaknya luka disayat pedang, akan tetapi sakit yang ditimbulkan karena lidah melebihi sakitnya sayatan pedang. Sakit dan luka yang diakibatkan oleh lidah langsung ke hati manusia. Sakit yang langsung ke hati tentunya sulit sembuhnya. Oleh karena itu lidah dikonotasikan melebihi tajamnya pedang.

Dalam masyarakat Aceh, acap kali orang tua menasihati yang muda agar menjaga lidah. Hal ini dapat dilihat dari hadih maja, sabab babah bulee basah, sabab lidah badan binasa ‘sebab mulut bulu basah, sebab lidah badan binasa’.

Hadih maja di atas mengandung makna, bahwa lidah dapat mencelakai diri kita. Sakit yang ditimbulkan oleh lidah bukan hanya berdampak kepada yang mendengar, tetapi juga orang yang mengatakannya. Sebab itu pula orang sering berkata, “mulut kamu harimau kamu.”

Dalam masyarakat Aceh, menjaga lidah dapat diartikan menjaga kesopanan. Orang yang menjaga kesopanan, di mana pun dia berada, akan selamat. Oleh karenanya, dalam masyarakat Aceh ada hadih maja, jak löt tapak, duek löt punggông.

Orang yang selalu menggunakan prinsip hadih maja tersebut, diyakini masyarakat Aceh akan selamat ke mana pun dia pergi. Maka, jaga babah yoh goh binasa, jaga lidah yoh goh ceulaka.(*)

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: