Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

AWAK GAM

Haba-haba Herman RNSenjata

Beberapa hari ini Apa Teulah bingung sendiri. Setiap membaca koran, dia selalu asék-asék ulèe saat melihat halaman pertama. Sudah tiga hari koran lokal yang dibacanya berbicara masalah awak Gerakan Aceh Merdeka. Dalam berita itu dikatakan kalau bekas militer GAM sudah mulai main kayu.

Awai meu-èn bak panjo, jinoe meu-èn bak teubè. Awai dimat beudé beusoe, jinoe ka meu- èn kayèe. Demikian batin Apa Teulah saat membaca berita tentang mantan militer GAM melakukan penebangan kayu ilegal.

Di hari berikutnya, Apa Teulah dihadirkan dengan berita hampir serupa. Jika kemarin main kayu, hari berikutnya mantan panglima di suatu wilayah main bensin. Maksudnya menjadi pedagang minyak.

Melihat itu, ada kasihan yang menyentuh hati Apa Teulah. Pasalnya, panglima tersebut mengaku jauh dari pantauan pemerintah dan tidak pernah mendapatkan dana bantuan integrasi, yang katanya setiap anggota GAM akan dapat.

“Sayang kali dia, Munah ya,” ujar Apa Teulah kepada istrinya.

“Ya, begitulah pemerintah dan pihak yang mengaku melakukan pemantauan dan bantuan terhadap Aceh sekarang, Cutbang. Entah siapa yang dipantaunya, entah siapa pula yang dibantunya,” sahut Maimunah.

“Bagi sebagian orang, iyalah tahan dia untuk mencari penghasilan lain, seperti awak GAM di Aceh Utara yang disebutkan dalam koran itu, tapi bagi yang lainnya, kan belum tentu. Apalagi, tidak semua awak GAM itu orang sekolahan. Jangankan diminta bikin proposal, baca tulis saja belum tentu bisa,” lirih Apa Teulah.

“Makanya, wajar saja kalau sebagian ada yang menempuh main kayu ilegal Cutbang.”

“Nah, itu dia persoalannya, Munah. Apa semua awak GAM yang main kayu berpikir seperti yang lainnya, hanya mengambil sedikit, cukup untuk makan? Belum tentu semua berpikir seperti itu. Kita takut musibah banjir kembali datang, bèk jan piké keu untông, ureueng gampông abéh ceulaka.”

“Mungkin mereka berpikir seperti ini, Cutbang, daripada buya krueng teudong-dong, buya tamong meuraseuki. Kan lebih baik mereka ikut menikmati hasil negeri. Buktinya, pejabat di DPR saja bisa maklum apa yang dilakukan awak GAM itu koq,” cetus Maimunah.

“Ada-ada saja ke ini, Munah. Dengar ya, meunyoe hana raseuki, atra bak bibi rhôt u lua, meunyoe na Tuhan bri, raseuki yang jiôh pi jeuteuka. Jadi, usaha cari yang halal, seperti kata endatu kita, meunyoe hana tauseuha panè atra rhôt di manyang,

meunyo na tauseuha adak han kaya, adak deuk pih, teutap seunang.”

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: