Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Semua Butuh Sepakat

Oleh Herman RN

Penulis adalah Alumnus Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia dan Daerah Unsyiah

Herman RNSepakat adalah sebuah kata yang memiliki makna verbal yang sangat erat dengan tindak-tanduk makhluk hidup. Kesepakatan membuat orang dapat hidup rukum dan damai. Namun, tidak sepakat dapat membuat awal kehancuran terjadi. Hal itu pula yang terjadi antara pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka. Kesepatakan berdamai membuat Aceh kembali menuai sejarah, yaitu jauh dari amuk diri pihak bertikai dan bunyi senjata sehingga masyarakat Aceh dapat kembali hidup tenang, jauh dari ketakutan hilang nyawa berjalan malam. Ini adalah sejarah yang tak mungkin terlupakan, karena awalnya banyak praduga bahwa Aceh tidak akan pernah damai.

Kenyataannya, sepakat tidak hanya berlaku pada tingkah-polah manusia. Namun, bahasa juga mesti memiliki kesepakatan. Sepakat atau konvensional menjadi salah satu sifat bahasa, sebab sebuah kesepakatanlah yang menjadikan bahasa itu dapat dimengerti oleh penutur dan lawan tutur.

Kita menyebut binatang berkaki empat, bertanduk di kepala, mengeluarkan suara “mbek” dengan sebutan kambing. Kemudian dalam bahasa Aceh, orang Aceh menyebutnya dengan kamèeng. Dalam bahasa daerah lain disebutkan lain pula. Kendati berbeda bahasa, semua dapat memahami maksud pengungkapan kambing tersebut. Lantas mengapa terjadi perbedaan? Inilah yang disebut dengan sifat bahasa itu arbitrary. Sedangkan kelompok penutur yang melafalkannya sebagai kambing atau kamèeng adalah kesepakatan mereka untuk menyebut demikian. Artinya, kesepakatan itu juga dimiliki oleh bahasa.

Kesepakatan dalam bahasa melahirkan berbagai konsensus yang dilakoni dalam sebentuk acara seminar atau kongres. Dalam bahasa Indonesia sendiri dilakukan kongres bahasa nasional. Hal ini bertujuan untuk menyepakati bentuk baku/ nonbaku, berbagai kaidah kebahasaan, atau sekitar tindak bahasa agar diakui secara nasional.

Dalam kasus Aceh, kongres bahasa daerah Aceh pun mulai digelar, seperti terlihat beberapa waktu lalu oleh Dinas Kebudayaan NAD. Kongres bahasa daerah penting dilakukan demi mencapai tujuan kongres bahasa secara nasional. Sebab, bahasa daerah memiliki fungsi dan kedudukan sebagai pendukung bahasa nasional. Hal ini sesuai yang termaktub dalam kitab UUD 1945 tentang kedudukan dan fungsi bahasa.

Kesepakatan dalam bahasa semakin menjadi penting saat kita tilik beragamnya dialek dalam sebuah bahasa. Bahasa Aceh misalkan; dari ujung paling Barat sampai ujung Timur, dialek bahasa Aceh sangat beragam. Seandainya tidak ada kesepakatan antarpenutur bahasa Aceh, terutama dalam perkara tulisan, tentu sangat merepotkan orang dalam memahami bahasa Aceh. Jangankan orang asing, orang Aceh sendiri bisa mumang teuglak ngon aneuk mata membaca beragamnya lafal tulisan bahasa Aceh. Hal ini disebabkan belum adanya kesepakatan baku dalam bentuk penulisan bahasa Aceh.

Oleh karena itu, amatlah terpuji tindakan Dinas Kebudayaan NAD yang mencoba membuat kongres bahasa daerah Aceh. Namun, ketakutan para peserta, bahkan sebagian pembicara, saat kongres itu diadakan juga mempunyai alasan kuat. Buktinya, sudah sebulan kongres belalu, belum ada tindak lanjut dari panitia terhadap hasil kongres tersebut. Sosialisasi apa yang diberikan oleh dinas? Sampai saat ini masih nihil. Boleh jadi, kongres besar yang dilaksanakan bulan lalu itu hanya sebuah duduk bersama, makan bersama, melepas rindu para pejabat dan pakar dengan masyarakat Aceh dari daerah, kemudian, mereka pulang kembali ke kampongnya masing-masing sembari berucap, mari melupakan kalau kita pernah bersikeras suara demi bahasa kita. Boleh jadi pula, kongres lalu itu hanya sebuah penampakan Dinas Kebudayaan untuk menujukkan bahwa dinas tersebut saat ini sangat peduli terhadap bahasa-bahasa di Aceh.

Rasa ingin menunjukkan diri tersebut semakin jelas manakala kita simak spanduk dan embel-embel lainnya tentang kongres itu. Di sana tertulis “Kongres Bahasa Daerah Aceh”, tanpa ada penambahan yang keberapa kongres itu digelar. Sementara menurut pengakuan sejumlah peserta, bahkan juga salah seorang pembicara, kongres bahasa daerah Aceh sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Dinas Pendidikan Provinsi.

Kelihatan sekali antara Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan tidak memiliki kesepakatan, walaupun dalam melakukan sebuah kegiatan yang serupa. Kesan yang ditampakkan bahwa kongres bahasa daerah Aceh baru pertama sekali digelar di Bumi Iskandar Muda, yaitu oleh Dinas Kebudayaan. Jadi, kongres yang diadakan Dinas Pendidikan lain dari kongres yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan. Dan nanti, jika ada yang hendak menggelar kongres bahasa daerah Aceh kembali, silakan buat dalam bentuk lain pula. Misalkan beberapa tahun ke depan, pihak kampus atau Balai Bahasa Banda Aceh ingin menggelar kongres bahasa daerah Aceh, tak perlu mengatakan yang kedua, ketiga, atau berikutnya, cukup kongres bahasa daerah Aceh, seakan itulah yang pertama sekali digelar. Sehingga, patut diberikan penghargaan dan sanjungan teramat tinggi.

Walhasil, masyarakat Aceh meuputa ulèe sendiri melihat overnya kepedulian lembaga tertentu dalam memelihara bahasa di Aceh. Sekali lagi, ini menunjukkan tidak adanya kesepakatan antardinas terkait dalam melakukan suatu program kerja, kendati proramnya sama. Yang sangat disayangkan, ketidaksepakatan itu terjadi dalam bidang bahasa. Jika antardinas saja tidak terjalin kesepakatan, bagaimana mungkin kita dapat menjalin kesepakatan dalam berbahasa? Sungguh disayangkan, sedangkan sifat bahasa salah satunya sepakat (konvensional).

Pentingnya kesepakatan terhadap bahasa semakin jelas kelihatan pada konteks tulis. Seperti kita ketahui, beberapa vokal dalam bahasa Aceh menggunakan tanda diakritik dan vokal rangkap dalam bahasa Aceh juga banyak. Penggunaan tanda diakritik dan diftong ini sampai sekarang masih terdapat perbedaan penulisan. Maka, penting dijalin kesepakatan sistem eja bahasa Aceh ke depan seperti apa sehingga terjadi sebuah kesatuan sistem eja.

Melalui tulisan ini, kita harapkan dinas dan semua instansi terkait yang menangani masalah bahasa di Aceh dapat menjalin sebuah kerja sama yang kita sebut sepakat tadi, sehingga kesepakatan dalam bahasa Aceh dan bahasa daerah Aceh terwujud. Hanya sebuah kesepakatanlah yang membuat kita dapat hidup nyaman dan damai, baik dalam tingkah laku maupun dalam berbahasa. Semoga!(*)

Iklan

Filed under: Opini

2 Responses

  1. Riyawati berkata:

    ak Herman AR. NAma saya Riya. Saya sekarang sedang menulis artikel tentang sekolah imajinasi dan peranannaya dalam pembentukan karakter bangsa. Saya mau tanya kepada kakak tentang pengaruh dongeng pada kakak. Apakah kakak pernah merasakan karena pengaruh sebuah cerita, kakak bisa melakukan apa saja? Atau dalam kata lain, sepertui yang dikatakan Mclelland kakak mendapatkan nila N-Ach yang tinggi?
    Kak, kutunggu jawaban kakak sampai besok karena senin artikel saya harus selesai. Terimakasij. kirim di email saya,ya kak.

  2. frull berkata:

    hebat terus menulis yax

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: