Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Keubai

Celoteh Herman RNatjehheldendood-the-first-attack-on-the-missigit-the-death-of-a-hero-as-called.jpg

Suatu malam saat menonton Episentrum Art Sumit yang diadakan Komunitas Tikar Pandan di Taman Sari, selepas menyaksikan kebolehan Yun Cassalona dalam melakukan debus ala teatrikal bersama rekan-rekannya, Mustika dan Evi, seorang teman berceloteh di samping saya. “Seperti itulah BRR,” katanya.

Saya mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu, Ded?” tanya saya. Dedi, teman saya yang dulu kepalanya botak tetapi sekarang sudah gonrong itu menjawab singkat. “Kebal,” sahutnya.

Saya mulai tersenyum. Imajinasi saya mulai megerti arah pembicaraan Dedi yang mencoba membandingkan atraksi debus dengan BRR yang selalu dianggap orang memiliki akal bulus.

“Kebal” dalam bahasa Aceh “Keubai”. Secara sederhana, orang kebal adalah yang tidak mempan senjata tajam. Tubuhnya seolah dibalut kulit baja dan tulang besi, seperti mantra Yun sebelum memulai aksi malam itu.

Pembuktian keubai itu mulai terlihat ketika pedebus sudah berada di atas panggung. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai manusia normal, mereka—orang-orang kebal itu—juga pernah terluka dan berdarah.

Ada dua hal yang menarik dari pertunjukan debus Yun malam itu sehingga dibandingkan teman saya tadi dengan BRR sekarang. Yun pada malam itu memainkan atraksinya debusnya dengan gaya tetrikal. Untuk itu pula dia meminta dibantu oleh Mustika, aktor teater Satu Merah Panggung Jakarta.

Permainan yang memukau tentunya. Seorang lelaki ditarik, ditendang, diikat, ditunjang, lalu dibantai. Namun, jangankan mati, darah saja tak kelihatan dari kulitnya yang sudah digilas pakai senjata tajam.

Nah, maksud Dedi, teman saya itu, BRR juga memiliki mistik kebal sehingga tidak mempan lagi dengan berjuta kritikan dan hujatan dari aktivis dan masyarakat. Adapun tentang gaya teatrikal yang dimainkan Yun, kata teman saya, juga dapat ditamsilkan pada BRR.

“BRR juga sedang bermain teater dengan masyarakat Aceh. Dia akan pasang iklan ini itu, lelang ini lelang itu, padahal, orang yang diinginkan untuk mengerjakan proyek itu sudah ada pada mereka. Kan teater namanya itu, iklan hanya dipasang di koran saja, di lapangan kejadiannya lain lagi,” lanjut Dedi.

“Jadi BRR pedebus yang handal donk. Dia bisa bermain kebal dan teater, lalu Yun mencontoh BRR di atas panggung Episentrum,” cetus saya sambil tersenyum melirik sudut mata Dedi. Dia menjawab, “Mungkin. Bukankah boh malairi, nyang itam tangké si boh ara, ureung meuprang ka deungon taki, ureueng kanduri deungon doa. Jadi BRR peugot kauri dengan taki. Hehehe..”

Dalam hati saya berujar, BRR jadi pedebus? Ada-ada saja teman saya ini. Sebelum kami pulang, saya sempat berkata pada Dedi, “Tenang saja, buet teumaki jeut berèh keurija jipeugah ka seuleusoe, takôt Lôntuan, ‘oh dudoe meukeumat bak punca.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: