Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

KÖNG

Oleh Herman RN

Alumnus Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah,

Redaktur Pelaksana media adat “tuhoe”

 

“Hukum kami lebih kuat dan arif, sanksi kami tak dapat dibeli pakai tarif. Jika kami dapat berdamai dengan Alqur’an dan Sunnah Nabi, mengapa kami harus pakai hukum polisi.”

Balai desa di kemukiman Lamjajah sudah sesak. Masyarakat dari gampông-gampông dalam lingkungan kemukiman Lamjajah sudah berkumpul di balee yang mereka beri nama “Aneuk Mulieng” itu. Balee itu diberi nama “Aneuk Mulieng” karena bentuk kubahnya runcing bagai pelor senjata api. Dalam bahasa awak gampông di sana, menyebut pelor atau peluru sering dikatakan dengan “Aneuk Mulieng”, sebab itu pula balee musyawarah mukim itu diberi nama “Aneuk Mulieng”.

Masyarakat yang paling banyak berkumpul di sana adalah dari Gampông Lamgasien dan masyarakat Gampông Asoekrak. Untuk kedua nama gampông itu, tentu mereka punya sejarah pula mengapa dinamakan demikian. Namun, yang terpenting sekarang adalah mengetahui mengapa mereka menyesaki balee tersebut. Balee itu biasanya akan ramai pada waktu-waktu tertentu seperti kanduri tingkat mukim, misalkan kanduri trôn u blang, kanduri laôt, dan sejenisnya. Jika kanduri ini dilaksanakan, tujuh gampông yang di bawahi Kemukiman Lamjajah akan berkumpul di sana, tapi hari ini hanya disesaki dari dua gampông.

Semua bermula dari Dolah (tentang nama lelaki ini pun punya sejarah tersendiri di gampông mereka. Dolah adalah singkat dari nama Abdullah, tapi orang-orang gampông itu memanggilnya dengan Dolah. Tentang perubahan nama ini, akan kita ceritakan lain waktu, karena masih banyak hal seperti ini di sana. Misalkan saja Ma’e dari Ismail, Bedon dari Abdul, Abdul Kahar menjadi Do Kaha, Abdul Karim menjadi Do Karim, dan sebagainya)

Dolah adalah pemuda Gampông Asoekrak yang memiliki hubungan khusus dengan Tiawa yang sebenarnya bernama lengkap Sitti Hawa. Dolah hanya pemuda biasa yang hanya bekerja di bengkel milik ayahnya, sedangkan Tiawa anak seorang berada di Gampông Lamgasien. Dia seorang mahasiswa. Karena itulah jalinan kasih mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Ayah Tiawa tida setuju hubungan anaknya dengan seorang pemuda bengkel. Pernah suatu kali Tiawa membela Dolah dengan mengatakan setiap pekerjaan, asalkan halal, tak ada yang salah, semuanya diridhai oleh Allah.

“Apa kau tak pernah dengar pepatah yang mengatakan, berteman dengan ulama kita akan shaleh, berteman dengan orang meurabèe akan menjadi perabèe pula kita, berteman dengan tukang emas akan keciprat emas pula, berteman dengan tukang las akan kena tahi besi. Ayah tak mau anak ayah menjadi tukang tempel ban. Percuma kau kukuliahkan sampai pucôk u, jika hanya menjadi tukang pegang besi kotor,” demikian jawab ayahnya panjang lebar. Sejak itu, Tiawa jarang bertemu Dolah.

Namun, suatu ketika Dolah berpapasan dengan Tiawa di jalan pinggir sungai. Dolah yang baru selesai mengantarkan kerbaunya ke lapangan saat pulang melihat Tiawa sedang menuju sungai sambil membawa kain cucian. Setelah saling tegur sapa, Dola meminta waktu kepada Tiawa agar sudi mendengarkan isi hatinya. Dolah mengajak Tiawa singgah di gubuk reot yang terdapat di pinggi jalan, gubuk bekas pos tentara yang tak pernah digunakan lagi sejak mereka ditarik kembali ke pusat.

Dalam gubuk itulah Dolah mengaku di hadapan Tiawa akan menjual dua ekor kerbau ayahnya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. “Ayahku sudah mengatakan kalau aku sudah boleh kuliah. Kemarin ayah menundanya terlebihdahulu, karena ibuku baru saja meninggal. Ayah takut kalau aku kuliah, pikiranku masih terganggu dengan kepergian ibu. Tapi, sekarang ayah sudah mengizinkan aku kuliah. Bahkan, ayah sendiri yang menawarkan akan menjual dua ekor kerbau kami untuk kuliah saya,” ungkap Dolah seraya menggenggam jemari tangan Tiawa.

Mendengar tutur Dolah, Tiawa menitikkan air mata. Entah sadar atau tidak, mereka saling meremas jari, tanpa menyadari dua pasang mata sedang melihat adegan tersebut. Dua lelaki yang kebetulan lewat di depan gubuk tua itu menyaksikan Tiawa menangis, sedang mimik Dolah sayu penuh harap.

Dua lelaki tadi segera meninggalkan tempat itu. Beberapa saat kemudian mereka kembali dengan lima lelaki lainnya, salah seorang di antaranya ayah Tiawa.

“Kurang ajar! Kau apakan anakku?!” pekik Pawang Ma’un, ayah Tiawa sambil menarik kerah baju Dolah. “Kau apakan anakku sehingga di menangis!”

Sebuah tamparan pun mendarat ke pipi Dolah. Ayah Dolah serta beberapa lelaki lainnya mengira Dolah telah melakukan perbuatan tak snonoh kepada putrinya sehingga Tiawa menangis.

Terang saja Dolah menolak tuduhan tersebut. Namun, apa hendak dikata, bekas merah lima jari dibawa pulang Dolah ke rumah sehingga ketahuan oleh ayah dan pemuda Gampông Asoekarak.

“Sudah ayah bilang, dia bukan jodoh yang cocok untukmu,” sahut ayah Dolah lemah.

Pemuda Gampông Asoekrak tidak menerima perlakuan Pawang Ma’un terhadap Dolah, seorang lelaki yang dikenal baik pekerti di gampông mereka. Para pemuda Asokrak mendatangi rumah Tiawa sambil meminta pertanggungjawaban ayah Tiawa terhadap tuduhan dan tamparan kepada Dolah. Pertengkaran antarpemuda gampông pun tak dapat dielakkan, sebab bersama ayah Tiawa hari itu turut serta lima pemuda Gampông Lamgasien.

Bentrok antarpemuda gampông pun terjadi dan masalah tersebut tercium oleh polisi kecamatan. Lima pemuda dari masing-masing gampông digiring ke kantor polisi, juga Tiawa, Pawang Ma’un, dan Dolah.

Mendengar kabar itu, Imum Mukim dan tokoh adat dari kedua gampông mendatangi kantor polisi. Mereka minta masyarakatnya dilepaskan. Tentu saja pihak kepolisian tidak mau. Perang debat pun berlangsung di kantor polisi.

“Tindakan pemuda-pemuda ini berbahaya. Main hakim sendiri. Kami akan proses sesuai hukum yang berlaku. Juga Pawang Ma’un yang menurut sumber kami main tampar saja,” jelas Kapolsek.

“Kami juga punya aturan dan hukum sendiri yang tak akan merugikan pihak mana pun. Kami akan selesaikan masalah orang kampong kami sesuai hukum dan adat yang berlaku di kampong kami,” jawab Imum Mukim menjelaskan.

“Saya tidak begitu yakin Bapak-Bapak dapat menuntaskan perkara ini. Saya tidak mau masyarakat di bawah badan hukum saya resah akibat tindakan pemuda anarkis ini. Bapak tenang saja, pihak kepolisian akan menelusuri kasus ini hingga tuntas. Percayalah kepada polisi.”

“Kami percaya polisi akan menemukan titik masalahnya. Lantas, setelah ketahuan siapa yang salah, dia dipenjara kan? Lalu, dalam penjara dia disiksa, makan seadanya, jauh dari keluarga. Kemudian, sekeluar dari penjara dia akan membawa aib penjara. Dia akan ditertawakan teman-temannya. Siapa bisa jamin kalau sekeluarnya dari penjara, yang bersalah tadi tidak akan mengulangi perbuatannya? Apa Bapak yakin dengan ditertawakan orang dia tidak akan melempari orang tersebut dengan batu, lalu berkelahi lagi, lalu Bapak tangkap lagi?” ketus Gechik Asoekrak.

“Biarkan kami yang menyelesaikan masalah kampong kami, Pak,” mohon Gechik Lamgasien.

“Bapak-Bapak harap tenang. Mohon bertindaklah dengan arif. Ini kantor hukum, kita punya kitab undang-undang yang akan menyelesaikan segala kasus…” jawab Kapolsek.

“Arif, Bapak bilang? Kitab undang-undang?,” ketus Imuem Mukim. “Dengar Pak ya, Hukum kami lebih kuat dan arif, sanksi kami tak dapat dibeli pakai tarif. Jika kami dapat berdamai dengan Alqur’an dan Sunnah Nabi, mengapa kami harus pakai hukum polisi. Kami janji polisi tak akan kecewa dengan hukum dan adat kami. Mereka orang gampông kami, biarkan kami yang menyelesaikan. Kami janji mereka tak akan mengganggu polisi.”

Singkat kisah, semuanya dilepaskan polisi. Kapolsek memandang kagum terhadap keyakinan serta kegigihan imum mukim dan tokoh adat kedua gampông itu.

Dari sanalah bermula cerita mengapa Balee Aneuk Mulieng hari ini dipadati orang gampông. Lembaga adat mukim dan gampông setempat pada hari ini sedang melakukan musyawarah mukim untuk mendamaikan perkara tersebut.

Tak akan ada yang dirugikan, demikian kata Imum Mukim. Keduanya dikenakan sanksi adat sesuai hukum adat gampông mereka. Ayah Tiawa dikenakan denda berupa menyembelih seekor kerbau. Kerbau itu digunakan untuk kenduri gampông dalam acara perdamaian. Masyarakat di kedua gampông diminta hadir dalam acara kenduri tersebut, juga disaksikan tokoh adat di lembaga adat mukim dan gampông. Semua perkara bumbu-bumbu dan beras untuk kenduri dibebankan kepada pihak Dolah, sedangkan pengerjaan kenduri dilakukan oleh pemuda kedua gampông.

Hari ini, Balee Aneuk Mulieng sesak oleh penduduk yang menikmati kenduri. Semuanya menikmati kenduri tersebut. Dan kepada kedua belah pihak didamaikan dengan beberapa poin MoU, di antaranya, tidak akan pernah lagi bertengkar. Barangsiapa yang duluan memulai pertengkaran, akan diusir dari kemukiman Lamjajah.

Kesepakatan terkahir, Dolah dan Tiawa dinikahkan sesuai hukum adat gampông tersebut, sebab keduanya sepakat untuk nikah. Pawang Ma’un tak dapat berkata apa-apa, sebab dia mahfum tanggung jawab sebagai orang tua membahagiakan anak, bukan memaksakan kehendak si bapak. Amanlah Mukim Lamjajah tanpa terjajah hukum polisi yang berlabel KUHP (Kasih Uang Habis Perkara).(*)

dimuat di media adat tuhoe, edisi khusu akhir tahun 2007

Iklan

Filed under: Cerpen

One Response

  1. bentara ragil saputra berkata:

    hukum memang bisa di beli dengan uang…
    sekeluar nya dari penjara bukan hanya di tertawakan namun saya kehilangan semua…keluarga dan teman untuk mencari pekerjaan pun sekarang sangat susah..
    saya bukan se oarang penjahat hanya kena apes aja dengan pergaulan…
    sekarang hanya bisa meratapi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: