Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pẽh Cakra Lua Nanggroe, Taloe Keuieng Ngoem

Oleh Herman RN

spd.jpgRehab rekon sekarang sedang gencar-gencarnya terjadi di Aceh. Banyak pihak yang melakukan rehab-rekon dan tentu ada yang bangga melihat perkembangan rehab rekon, tapi ada juga yang merasa dirugikan. Tulisan ini hendak mengajak kita sejenak melihat rehab rekon di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Pendidikan tak dapat terlepas dari segala tindakan manusia dalam hidup. Sejak kecil, manusia sudah dididik, diajarkan berbicara, menelungkup, duduk, berjalan, hingga besar diajarkan menggunakan pikiran. Semua kegiatan itu pada dasarnya adalah pendidikan. Jadi, wajar kiranya jika saya mengajak melihat sejenak apa yang sedang terjadi di dunia pendidikan Nanggroe Aceh Darussalam, dalam hal ini adalah FKIP Unsyiah yang jadi representatif pendidikan di NAD.

Suatu hari di Bulan Ramadhan, dekan FKIP, Dr. M. Yusuf Azis, M. Pd. didampingi dekan satu dan dua, Salasi R., dan Murad Em Ajies, berkenan berbuka puasa dengan paramahasiswa FKIP. Dalam buka puasa bersama yang dihadiri lebih 30 mahasiswa itu, Pak Dekan sempat berbincang-bincang tentang cita-cita FKIP ke depan. Diantaranya Dekan berkata, “FKIP ke depan akan menjadi Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) terkemuka di seluruh Nanggroe Aceh Darussalam, bahkan kita akan upayakan menjadi terkemuka untuk tingkat nasional.”

Semula saya sangat respek dengan cita-cita beliau, tetapi melihat hari ini, lima bulan sudah ucapan itu berlalu, tidak ada yang baru di FKIP. Ternyata kebanggaan beliau hanya pada gedung-gedung bantuan NGO. Sejak hari itu sampai sekarang, yang dibangga-banggakan pada FKIP adalah gedung microe teaching yang ada di belakang kantor FKIP. Gedung putih berlantai dua itu merupakan bantuan dari Australia Partnership.

Satu hal lagi yang membuat dekan selalu bertepuk dada ketika berhadapan dengan banyak orang, terutama parapejabat adalah akan dibangunnya sebuah gedung lab school untuk FKIP. Gedung yang direncanakan berlantai tiga dan lengkap dengan segala fasilitas seperti lemari, meja, kursi, buku, dan lainnya itu merupakan sebuah buah tangan dari pemerintah Amerika Serikat untuk Aceh. Kebetulan sarana itu diberikan untuk FKIP Unsyiah. Gedung itu juga dapat digunakan oleh seluruh pendidikan keguruan—tarbiyah se-Nanggroe Aceh Darussalam. Diperkirakan gedung itu akan dibangun awal tahun ini dengan menghabiskan dana U$ 12 atau setara Rp 130 ribu miliyar. Gedung itu merupakan kebanggaan Amerika Serikat pada seluruh dunia, makanya disebarkan di beberapa website. Sayangnya, pihak Unsyiah pun memamerkannya ke seluruh penjuru seolah berkata, “Unsyiah sudah maju, FKIP jaya, sebentar lagi akan membangun gedung baru yang sangat besar dan megah standar internasional.”

Ketika mendengar berbangga diri seperti ini dari pihak Unsyiah, saya teringat satu hal, apakah benar Unsyiah yang membangun? Saya kira bangunan-bangunan itu hanya belas kasihan dari pihak luar, sementara Unsyiah sendiri, apa yang dapat dibanggakan dari kenaikan SPP mahasiswa setiap semesternya? Berbangga diri pihak dekanat dan rektorat Unsyiah lebih tepat kita sanjungkan dengan hadih maja pẽh cakra lua nanggroe, taloe keieng bak ngoem (berbicara sampai ke luar negeri, ikat pinggang batang mansiang).

Terlalu pedas memang jika saya berujar demikian, tetapi itu menurut saya sangat cocok untuk Unsyiah sekarang ini. Coba lihat, SPP mahasiswa setiap semester mengalami kenaikan drastis–dua kali lipat, penerimaan mahasiswa nonreguler setiap tahun meningkat. Apa yang bisa kita petik hikmahnya dari kenaikan SPP dan penampungan mahasiswa ekstensi yang SPPnya juga melebihi gaji PNS tersebut? Sampai saat ini FKIP belum mempunyai gedung sendiri. Untuk perkuliahan masih meminjam gedung Ruang Kuliah Umum (RKU) dari pihak rektorat.

FKIP sebenarnya memiliki sebuah gedung utama. Gedung yang terletak di samping Fakultas Hukum itu hanya untuk kantor dosen dan dekan, bukan tempat kuliah mahasiswa. Sementara itu penerimaan mahasiswa FKIP yang reguler saja setiap tahunnya diatas 1500, belum lagi proyek dosen yang membuka program ekstensi yang kata dekan FKIP untuk ‘nambah ngopi dosen, karena dosen juga sama seperti PNS lain bergaji mungil’. Tutur dekan FKIP dalam diskusi dengan mahasiswa FKIP di bulan puasa tahun lalu.

Jangankan untuk perkuliahan, ruang dosen saja tidak mencukupi di gedung tua itu. Untuk kantor Program Studi (prodi) misalnya, dalam satu ruang digabung tiga sampai empat prodi. Prodi Bahasa Inggris, Bahasa Sastra, Indonesia dan Daerah (PBSID), Seni Drama dan Tari (Sendratasik) ditempatkan satu ruangan. Prodi Fisika, Kimia, Biologi, dan Matematika menempati satu ruang pula. Prodi PPKN, Ekonomi, dan Sejarah, menempati satu ruang. Dalam ruangan-ruangan itu pula tidak ada meja yang mencukupi untuk paradosen melepas lelah setelah mengajar. Akhirnya terjadi saling kalah mengalah. Sangat kerepotan ketika mahasiswa berurusan dengan dosennya di kantor prodi. Katakan saja ada mahasiswa PBSID yang hendak seminar proposal skripsi di kantor prodi, dosen dan mahasiswa Bahasa Inggris dan Sendratasik harus mengalah ke luar. Akhirnya Sendratasik minta pindah ruang prodi menumpang di gedung diploma.

Timbul sebuah pertanyaan, kalau begitu di mana mahasiswa FKIP belajar? FKIP mempuanyai sebuah gedung di jalan Inoeng Balee, Darussalam. Gedung itu jadi milik FKIP sejak tahun 1973. Gedung yang banyak orang berpendapat mirip kandang sapi tersebut adalah yang terbaik kala itu, sampai sekarang pun masih jadi yang terbaik untuk FKIP. Makanya tidak pernah disentuh, barangkali pihak rektorat takut kalau disentuh nanti bisa lecet. Jangankan disentuh, dikunjungi saja tidak pernah. Bangku-bangku yang dipergunakan mahasiswa sudah bersarang laba-laba, bahkan banyak yang hancur. Jikapun ada yang tersisa hanya bangku dan meja yang sudah menjerit—menunggu ajalnya patah. Gedung itu sekarang menjadi tempat perkuliahan D2 FKIP.

Untuk perkuliahan mahasiwa S1, FKIP masih menumpang di RKU 3 dan 4. Ketika pertama sekali kuliah di FKIP tepatnya empat tahun silam, saya belajar dengan menggunakan white board dan spidol di ruang pinjaman tersebut. Setahun kemudian, papan tulis putih itu dicabut pihak rektorat, kepada kami diberikan black board. Sampai sekarang, saya amati mahasiwa FKIP masih belajar dengan kapur tulis layaknya anak Sekolah Dasar.

Sedihnya, ada dosen yang enggan menuliskan sebiji kata pun di papan tulis ketika mengajar, meski sangat penting untuk diketahui mahasiswa. “Saya alergi memegang kapur.” Demikian kata salah seorang dosen.

Patut jika ada mahasiswa FKIP bertanya, “Kemana perginya SPP kami?” Sampai sekarang, ruang administrasi FKIP masih menumpang di RKU 4. Sebagian digunakan untuk perkuliahan, sebagian lagi untuk ruang pengajaran. Perlu diketahui, meski gedung itu digunakan oleh FKIP, gedung itu tetap berstatus sebagai pinjaman dari pihak rektorat. Menurut pengakuan Pak Dekan, gedung itu diminta kembali oleh rektorat. Sebelum dikembalikan, pihak FKIP sedang membangun ruang parkir di depan gedung tersebut. Halamannya ditimbuni dengan batu agar tidak becek jika hujan turun. “Ya, begitulah kalau kita meminjam punya orang. Kita harus membuat hati dia senang ketika kita kembalikan.” Ujar beberapa mahasiswa dengan nada sinis dalam diskusi tersebut.

Bagaimana mungkin FKIP akan menjadi LPTK terkemuka ke depan, jika sarana dan proses perkuliahan masih seperti ini? Saya kira Bapak Yusuf hanya melambungkan mimpi. Dan pihak rektorat terus berbangga diri dan memberikan mimpi-mimpi tersebut ke berbagai pihak. Semoga mimpi Pak Dekan tercapai…

 

 

Penulis, mahasiswa FKIP PBSID Unsyiah,

peminat pendidikan dan sastra, pegiat

kebudayaan di Tetaer Nol dan Gemasastrin.

Iklan

Filed under: Opini

One Response

  1. Gussri Dewi berkata:

    Memang miris melihat bangunan FKIP ya. Tapi jurusan PKK bagus khan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: