Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Apa ‘Udak

oleh Herman RN

            Heran sendiri saya setiap bertemu dengan teman sekerja yang satu ini. Sering dia memanggil orang dengan sebutan Apa ‘Udak. Semula saya kira gelar itu disematkan kepada orang-orang berpangkat saja, sebab dia sering bilang ke saya setiap menyebut beberapa pembesar negeri ini dengan Apa ‘Udak.

            Ah, ternyata saya salah. Sesekali teman sekerja kami yang lain pun dia sapa dengan Apa ‘Uda’. Pernah sekali wajah saya merah padam saat dipanggil gelar itu kepada saya. Terus terang sampai hari ini saya tak tahu maknanya.

            “Wah… hebat juga Fulan itu ya,” ucap saya. “Dia diterima sebagai pejabat eselon II di Pemda,” kata saya suatu hari saat membaca iklan di korban.

            “Apa hebat… Apa ‘Udak dia itu. Kau lihat saja besok, pasti kelihatan Apa ‘Udaknya,” kata teman saya, Bang Bili.

            Saya diam hari itu. Dalam hati saya berpikir, barangkali Bang Bili tak suka dengan si Fulan itu, makanya dia sebut dengan Apa ‘Udak. Namun, hari berikutnya saya tambah heran. Bang Bili bilang ke seorang yang dia sama sekali tak kenal, “Sayang kita sama Apa ‘Udak itu. Kita tolong dia yuk.”

            Kemarin, pejabat eselon dia bilang Apa ‘Udak, sekarang seseorang yang membutuhkan pertolongan dia sebut juga dengan Apa ‘Udak. Terpikir dalam benak saya. Berarti Apa ‘Udak juga dapat disandangkannya bagi orang-orang baik? Wah sebenarnya Apa ‘Udak itu siapa ya? Karena penasaran, saya tanyakan kepada Bang Bili. Dia malah tertawa terkekeh.

“Kita pulang, Apa ‘Udak yuk,” ajaknya selesai menolong orang tadi.

Geulegong tho! Kita tanya apa maksud Apa ‘Udak sama dia, kita-kita pun dipanggilnya Apa ‘Udak. Jangan-jangan Apa ‘Udak itu karakter Bang Bili sendiri. Supaya jangan dibilang ke Abang, Abang sebut untuk orang lain,” cerca saya panjang lebar pada Bang Bili.

Mendengar repetan saya, dia malah semakin membesarkan tawa. Akhirnya saya bilang, “Bèk mandum ureueng neupeugah Apa ‘Udak. Keunöng droen singoh. Ingat kheun ureueng tuha: sabab babah bulèe basah, sabab lidah bada binasa.”

“Jak tawoe, Apa ‘Udak jak!” katanya lagi.

“Jak teuk Apa ‘Udak,” jawab saya sambil berlalu dari orang yang baru saja kami toolong.

Dalam perjalanan pulang saya berpikir. Mungkin beginilah karakter ureueng Aceh, terlalu banyak aneh. Sebagai orang Aceh, saya bangga, karena Aceh ternyata tidak hanya kaya hasil alam, tapi juga kaya gelar dari alam; Apa Ta’ak, Apa Ma’è, Apa Teulah, Apa Leman, dan entah Apa apa lagi. Terakhir saya dapat satu apa yakni apa ‘udak.*

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: