Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

ABAS-ALA, Senandung Baru dari Pusat

ustad-man.jpg

Oleh Herman RN

Alumnus Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah serta Wartawan Harian Aceh

Berhatur sembah, bermula lidah, beriring salam dan maaf saya pinta kepada semua rakyat Aceh dan Indonesia umumnya manakala surat lirih ini tak kenan di hati Saudara. Percayalah secoret kata di ruang ini hanya berupa segundah lara bagi Aceh yang sedang dininabobokkan dari Jakarta. Secarik kertas yang saya tulis dari sebuah desa terisolir di Aceh Selatan. Salam maaf terakhir saya untuk Aceh; padamu saya bersimpuh luruh.

Tuan-Puan yang mulia, mari kita membalik lembaran sejarah silam untuk mengkaji Aceh masa mendatang, masa yang sedang kita agungkan untuk pemekaran.

Aceh adalah sebuah daerah istimewa, demikian pemberian Pusat Jakarta. Gelar ini yang kita banggakan sejak dahulu hingga sekarang, karena di wilayah Indonesia hanya ada dua provinsi yang menyandang status istimewa; Aceh dan Yogyakarta.

Tahukah Tuan-Puan dari mana muasal kata “Istimewa” itu? Berawal dari sebuah judul lagu yang diberikan Pusat kepada Aceh, dari sebuah pertikaian di Sumatera. Bermula Aceh yang berdiri sendiri dengan sistem kerajaannya, wilayah ini mencakup luas hingga Malaya. Setelah kebermulaan itu ada, Indonesia mencetuskan Aceh sebagai salah satu wilayah kesatuan Republik Indonesia yang berselingkung dalam provinsi Sumatera. Keikutsertaan Aceh dalam pangkuan ibu pertiwi diasbab-nuzulkan karena Aceh merupakan bekas jajahan Belanda. Lalu, pada 15 Oktober 1945, atas nama seluruh ulama di Aceh, empat ulama besar Aceh; Teungku Haji Hasan Krueng Kalé, Teungku M. Daud Beureuh, Teungku Haji Ja’far Sidik Lambajat, dan Teungku Haji Hasballah Indrapuri, menyatakan berdiri tegak di belakang pemimpin RI, Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini disaksikan oleh Residen Aceh yang ditunjuk oleh pemerintah Indonesia, yaitu Teuku Nyak Arif dan disetujui oleh ketua Komite Nasional Daerah: Tuanku Mahmud (buku penelitian yang segera diterbitkan JKMA Aceh).

Setelah kesepakatan itu, akibat terjadinya tarik-menarik antara Indonesia dan Sumatera Utara, dibebaskanlah Aceh dengan sebuah judul lagu yaitu “Istimewa”. Istimewa tak lain sebuah senandung nina bobo agar Aceh tak lepas serta-merta dari pangkuan ibu pertiwi Indonesia.

Tuan-Puan yang mulia, bapak kita di Pusat tak hendak melihat kita tersenyum karena baru saja berbangga dengan gelar istimewa itu. Maka relasi kebijakan terhadap anaknya selalu diberikan melalui genggaman erat yang seolah hendak mengatakan, “Aceh, anakku sayang, engkau kugenggam, engkau kuregam, tak hendak kulepas sebagai petanda betapa aku sayang.” Maka, diregamlah Aceh dengan sebuah pemberian baru, yaitu Daerah Operasi (DP) yang di dalamnya beragam tajuk diberikan, salah satunya Daerah Operasi Militer (DOM). Dari sinilah bermula kita menangis, mengerang, lalu berang, sehingga muncul berbagai gerakan, salah satunya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang semula bernama Aceh Merdeka (AM).

Konflik semakin hangat pengat hingga Pusat menciptakan senandung baru untuk meredam hiruk-pikuk tersebut. Pusat kembali meninabobokkan Aceh dengan senandung baru yaitu otonomi khusus dengan mengesahkan undang-undang nomor 18 tahun 2000. Namun, senandung kesekiankalinya berkedok otonomi ini ternyata belum mampu membuai pergerakan di Aceh yang menginginkan Aceh menjadi sebuah wilayah terbebas dari genggaman republik. Konflik semakin berkepanjangan, kendati beberapa kesepakatan antara pihak petikai dengan Pusat sudah dilakukan. Maka, wahai Tuan-Puan yang mulia, senandung baru pun diberikan Pusat untuk Aceh dengan membiarkan kewenangan lebih leluasa mengatur wilayah pemerintahan Aceh. Senandung itu diberi judul “Undang-Undang Pemerintahan Aceh Nomor 11 Tahun 2006”.

Dalam senandung di tahun 2006 ini Aceh diberikan keistimewaan yang lebih daripada provinsi lain di Indonesia. Tujuannya agar Aceh tidak lagi menangis, meringis, lalu bengis ke ayah-ayah di Jakarta. Namun, kenyataannya ureueng Aceh tak pernah puas terhadap pemberian-pemberian Pusat kendati sudah sedemikian longgar mengatur rumah tangganya. Keinginan untuk lepas dari lingkaran Republik Indonesia saat ini berganti dengan senandung baru, yakni Aceh pantai Barat-Selatan ingin berdiri sendiri dengan ABAS-nya dan Aceh wilayah Tengah pun igin membentuk ALA-nya.

Tuan-Puan yang mulia, benar sekali masalah ABAS dan ALA bermula dari masyarakat Aceh sendiri, terutama yang mendiami kedua wilayah tersebut. Namun, patut dikaji, saat isu ABAS-ALA ini muncul pertama sekali, Pusat tak menanggapinya. Pusat menganggap itu hanya anak kecil yang minta pisang. Lanta, mengapa sekarang Pusat malah menyetujuinya? Bahkan, pusat mengusulkan segera mekar kedua wilayah ini. Kearifan ureueng Aceh mengatakan, meunyo hana angèn jipôt, panee patôt suwé meuputa, meunyo hana sapeue jitôt, panee patôt asap meubura.

Sebagai seorang yang berasal dari sebuah desa terisolir di sudut Aceh Selatan, saya menilai Tuan-Puan yang menginginkan ALA dan ABAS berdiri sendiri dikarenakan hasil devisa daerah. Dengan bebasnya kedua wilayah ini dari Aceh seolah memberikan kesan keduanya akan kaya mendadak.

Tuan-Puan yang mulia, kalau masih boleh saya berkata, dugaan itu hanya semu belaka. Tuan-Puan tentu masih ingat ketika pertama sekali ditemukan sumber gas alam di Aceh Utara sebagai sumber daya gas terbesar di Indonesia. Betapa intervensi politik Pusat ke wilayah ini semakin menjadi sehingga Aceh Utara menjadi basis operasi militer pertama diterapkan.

Nah, andai saja ABAS berdiri sendiri, tidak tertutup kemungkinan, wilayah yang sangat menarik dari segi perkebunan itu menjadi wilayah permainan politik Pusat. Demikian juga ALA yang kaya hasil hutannya. Selanjutnya, ketika ABAS dan ALA hendak mengatur wilayahnya sesuai UUPA, adalah pemikiran yang salah, karena UUPA diberikan untuk Nanggroe Aceh Darussalam, bukan untuk ABAS atau ALA. Yang mengatur ABAS-ALA nantinya adalah kebijakan Pusat. Hal ini sama dengan pupuslah kewenangan Pemerintahan Aceh mengatur wilayah dan sistem pemerintahan, sebab beberapa bagian wilayah andalan devisanya dinyatakan keluar dari kandungan Aceh menyaruk tersuruk ke dalam kewedanan Jakarta.

Pusat sebagai orangtua sangat mahfum meninabobokan anaknya. Maka, ketika satu dua lagu dinyanyikan dapat diterima anaknya, saatnya sang ayah mencari celah mendiamkan dengan senandung baru. Senandung itu adalah memekarkan ABAS dan ALA dari wilayah Aceh Darussalam. Setelah ABAS dan ALA mekar, tak tertutup kemungkinan Pasee pun minta berdiri sendiri. Akhirukalam, Aceh tinggal sebuah nama; Banda Aceh, sedangkan yang lainnya menjadi sebuah wilayah tersendiri, ABAS, ALA, Pasee, lalu mungkin provinsi Melayu Tamiang pun minta berdikari. Dengan demikian, Aceh yang dulu terkenal kesatuan dan persatuannya hanya menjadi catatan sejarah luka. Serambi Makkah pun hanya menjadi kenangan pahit.

Ah, Tuan-Puan yang mulia, getir rasanya! Salam!

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: