Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

BULAN

Oleh Herman RN

Ketika malam datang aku selalu meringkuk di bawah ketiak kakek. Kakek sering bercerita kepadaku tentang banyak hal. Setiap malam kakek bercerita sebelum aku memejam mata. Selepas bercerita, kakek menasehatiku agar tidak ceroboh atau agar tidak meniru penjahat seperti dalam ceritanya.

Suatu malam aku ke luar dan berdiri di depan pintu. Aku melihat ke langit. Ada semburat cahaya bulat yang terang di sana. Cahaya itu seperti bola dan sangat terang. Cahaya itu sampai masuk ke rumahku setelah menembus celah dedaunan belimbing. Hatiku sangat gembira. aku berlari ke halaman rumah sambil terus memandang ke arah cahaya itu. Tubuhku kusengaja bermandi cahaya yang jatuh dari langit itu. Waktu itu umurku masih empat tahun.

Setelah beberapa saat di luar rumah, kakek pasti memanggilku agar segera masuk ke rumah. “Anak kecil tidak boleh terlalu lama bermain di luar rumah, apalagi malam hari. Nanti diambil Gegasi.” Kata kakek.

Gegasi itu tokoh dalam cerita kakek. Kata kakek, Gegasi suka makan anak kecil.

“Kek, bola apa itu?” Tanyaku suatu malam.

“Itu bulan, bukan bola.”

“Mengapa bercahaya?”

“Memang seperti itu, kalau tidak bercahaya bumi akan gelap malam hari.”

“Mengapa ada pohon di dalam cahaya bulat itu, Kek? Pohon apa itu?”

“Itu pohon nyawa, kelak jika kau telah besar kau akan mengerti. Sekarang tidurlah! Malam sudah larut.”

“Sebentar lagi, Kek.”

“Apa kau tidak takut dengan Gegasi yang sedang datang di kampung kita?”

Aku mengangguk dan segera berlari ke dalam rumah. Kampung kami memang sedang musim kedatangan pencuri. Sudah seminggu ini kampung kami dihebohkan pencuri malam hari. Pencuri itu mendatangi rumah-rumah orang kaya dan mengambil harta di rumah tersebut. Sampai saat ini pencuri itu belum kedapatan oleh petugas jaga malam. Cerita pun berkembang kalau pencuri itu adalah Gegasi, sesosok makhluk raksasa yang menakutkan. Pencuri itu sangat lihai, setiap jebakan dapat dilewatinya, seolah-olah dia sangat hapal jalan dan wilayah kampung kami. Karena pencuri itu pandai menghilang, orang-orang kampung mengatakan bahwa pencuri itu adalah Gegasi.

Sambil masuk ke rumah, kuperhatikan terus cahaya itu hingga kakek menggendongku. Kata kakek, besok aku akan melihat cahaya itu lagi.

“Kek, malam ini ceritakan saja tentang bulan yang bercahaya itu kepadaku, jangan lagi cerita kancil atau Gegasi. Karena kancil terlalu banyak menipu, dan Gegasi suka mencuri harta orang. Aku takut dan tidak mau mendengarnya. Aku benci Gegasi.” Kataku pada kakek malam itu.

“Bulan itu wajah manusia yang telah mati.” Kata kakek memulai ceritanya.

“Kalau begitu bulan itu juga wajah Mak, Abah, dan Nenek juga?”

Kakek tersenyum.

“Kalau begitu aku akan selalu melihatnya. Mak pasti senang aku lihat.”

Sejak malam itu, setiap malam aku ke luar rumah terlebih dahulu sebelum tidur. Kadang juga cahaya itu kusapa seperti menyapa Mak waktu masih hidup dulu. Pernah suatu kali aku tanyakan pada kakek mengapa bulan hanya datang malam hari.

“Kemana bulan waktu siang, Kek?”

Kata Kakek malam adalah hal yang menyenangkan. Orang-orang tidak lagi sibuk seperti saat siang. Bulan tidak suka siang karena siang banyak keributan. Waktu malam adalah waktu tidak ada lagi keributan, sebab semua orang sudah tidur dan istirahat.

“Mengapa bulan tidak turun saja ke sini, ke rumah kita? Rumah kita kan sepi, Kek. Di sini hanya ada kita berdua.”

Kekek kembali tersenyum mendengarku. “Kalau bulan turun ke kampung kita ini, kampung kita pasti akan kacau. Banyak orang yang akan berebutan. Kalau bulan turun di rumah kita, bisa-bisa orang yang menginginkan bulan itu akan membongkar rumah kita.”

“O… jadi rumah-rumah di seberang kampung kita ini dibongkar karena bulan turun ke rumahnya ya, Kek? Jangan-jangan Gegasi itu mencuri karena disangkanya di rumah orang-orang kaya itu ada bulan.”

“Sudahlah, jangan berpikir yang bukan-bukan, nanti kalau kau sudah dewasa, kau akan mengerti.”

Kakek selalu mengakhiri kata-katanya seperti itu agar aku segera tidur.

Beruntunglah cahaya itu, pikirku seraya memejamkan mata. Sungguh dia sangat beruntung karena jauh dari bumi.

Suatu malam cahaya itu bersinar sangat terang. Sangat terang melebihi malam sebelumnya. Jalan-jalan sepanjang kampung kami yang biasanya gelap, pada malam itu terlihat sangat terang. Rumput-rumput di pinggir parit tepi jalan terlihat sangat jelas. Di daun keladi cahaya itu memantul. Di pucuk-pucuk ilalang cahaya itu tersangkut. Anak-anak sebayaku terlihat bermain riang gembira malam itu. Aku pun tak ingin ketinggalan.

“Kek, aku main dengan teman-teman sebentar ya?” Pintaku pada kakek.

Aku berlari ke halaman tanpa menghiraukan pesan kakek agar berhati-hati dan jangan lama-lama, nanti jumpa Gegasi!

Aku berputar-putar di halaman rumah, mendekati daun keladi dan mencoba menangkap pantulan cahaya dari langit. Aku mengikuti anak-anak sebayaku. Kami berlari-lari sepanjang jalan kampung. Tanpa kusadari aku sudah jauh meninggalkan rumah. Aku sudah berada di penghujung jalan perbatasan kampung kami dengan kampung tetangga.

Aku tersadar ketika di ujung jalan itu kulihat orang-orang sangat banyak berkumpul. Cahaya bulan menerangi mereka semua. Orang-orang itu berteriak sambil memaki-maki.

“Bunuh saja! Dia telah mengacaukan keamanan kampung kita! Dia yang selama ini mencuri dan meresahkan semua penduduk. Bunuh Gegasi ini!!! Bunuh!!! Bunuh…!!! Cincang!!! Ganyang!!!”

Begitulah suara-suara itu kudengar. Aku mendekati kerumunan itu. Sesampai di sana kulihat seseorang sedang dihujani pukulan dan tendangan beramai-ramai. Aku tak jelas melihat sosok itu sebab orang-orang berdesakan. Semua menghujami pukulan dan menendangnya.

“Siapa dia, Pak?” Tanyaku kepada seorang bapak-bapak yang baru keluar dari kerumunan itu. Tampaknya dia juga habis memukul. Kulihat dia mengusap kepalan tangannya yang berdarah.

“Dia yang selama ini meresahkan kita semua. Dia Gegasi yang mencuri malam hari. Hem.. dikiranya dia bisa lolos selamanya. Sangat beruntung kita karena malam ini bulan bersinar sangat terang, kita bisa mengejar dia. Mampus dia malam ini!”

“Gegasi?”

“Ya. Tadinya setelah masuk rumah Pak Mahmud, Gegasi itu hendak melarikan diri, tapi terlihat oleh salah seorang penduduk. Dia hendak bersembunyi di bawah jembatan ujung jalan itu, tapi karena bulan sangat terang, dia tetap kelihatan. Mampus dia sekarang!” Bapak itu menggerutu.

Selepas mengumpat-umpat, bapak itu meninggalkanku. Aku mendekati kerumunan. Satu per satu orang-orang mulai meniggalkan Gegasi yang tak berdaya lagi. Ketika kerumunan itu mulai sepi, terlihat olehku sesosok lelaki tua terkulai tak berdaya. Darah berceceran di sekitar tempat dia tergolek. Walau gemetar aku semakin mendekat. Betapa tersentaknya aku, jantungku serasa hendak copot, alira darahku seperti berhenti.

“Kakek!!!” Suaraku tertahan di kerongkongan.

Aku menangis di tempatku berdiri. Tak berani mendekat, takut pada orang-orang yang masih ada satu satu memukuli kakek. Kulihat dari mulut dan hidung kakek masih mengalir darah segar. Darah itu berkilau ditimpa cahaya bulan. Darah yang di tangan dan kakinya mulai mengering. Tubuhnya oleng-oleng mengikuti sentakan pukulan orang-orang. Aku tahu kakek sudah tak bernyawa lagi.

Aku lari dari tempat itu sambil terus menangis. Sejak saat itu aku benci bulan. Bulan membuat kakek menghembuskan napas terakhirnya. Belakangan aku baru tahu mengapa kakek menidurkan aku cepat. Ternyata setelah aku tidur kakek masuk rumah-rumah orang kaya dan mengambil sedikit harta mereka untuk kami makan. Tapi bulan yang terang itu telah membuat kakek tertangkap dan mati. Aku benci bulan. Aku benci malam. Sekarang tak ada lagi yang bercerita kepadaku tentang Gegasi, karena Gegasi memang sudah mati.

***

Pegiat Kebudayaan di Banda Aceh. Tulisannya tersebar di berbagai media lokal dan nasional. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Unsyiah.

Iklan

Filed under: Cerpen

One Response

  1. Abid berkata:

    Wah-wah-wah, apa kabar Bung? Saya lihat tulisanmu di Gong. Selamat lah…
    Kabarnya sekarang jadi wartawan ya?

    Abid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: