Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sweeping (2)

Celoteh Herman RN

Lain halnya si Andy yang kena sweeping, lalu saling tawar tarif denda dengan polisi, lain pula halnya yang menimpa Putu Setia. Putu Setia seorang penulis, pengisi kolom “Cari Angin” di koran Tempo.

Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Agama”, Putu bercerita tentang perjalanan dia yang juga kena sweeping. Dalam tulisan itu dikatakannya kalau dia kena sweeping ketika berjalan ke Denpasar.

Menariknya, Putu Setia terbebas dari sweeping dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP), bukan karena adanya Surat Izin Mengudi (SIM) dan kelengkapan surat kendaraan lainnya.

Begitu polisi melihat KTP Putu, polisi langsung mempersilakan Putu berjalan. Dalam hati Putu bergumam, “Mengapa saya dibebaskan, sedangkan orang yang bareng ditahan dengan saya tidak. Pdahal, dia juga meiliki KTP dan SIM seperti saya.”

Putu Setia yang beragama Hindu itu langsung menuju Pura. Dia hendak mengucapkan syukur kepada tuhannya karena sudah dibebaskan dari sweeping polisi tadi. Ketika menaiki tangga Pura, Putu kembali bertemu dengan polisi yang mensweeping dia.

“Di sini tidak banyak polisi yang beragama Hindu. Jadi, Bapak hati-hati di jalan ya,” kata polisi itu kepada Putu.

Pahamlah penulis itu bahwa dirinya terbebas dari sweeping hari itu karena agama di KTP-nya tertulis Hindu.

Menarik bukan? Ini merupakan salah satu penunjuk kinerja aparat kepolisian di Indonesia. Bedanya, kalau di Denpasar, polisi bisa membebaskan orang yang dia sweeping hanya karena agama, sedangkan di Aceh, orang bisa bebas sweeping dengan rupiah. Ya, seperti dialami teman saya, di Andy kemarin.

Saya sempat berpikir, andaikan saja polisi di Aceh seperti polisi di Denpasar yang melakukan sweeping terhadap Putu Setia itu, barangkali anak Aceh akan terbebas dari segenap sweeping kepolisian, sebab rata-rata polisi Aceh beragama Islam. Kemudian ada pertanyaan yang tersisa, jika memang dengan agama orang dapat bebas dari sweeping, apa jadinya agama di muka bumi ini? Apakah untuk membebaskan orang dari sweeping dan segenap masalah lainnya?

Lucu, agama dijadikan alat jual-beli kebebasan. Kullu nafsin geubeuet bak ulèe, nyan barô tathèe tatinggai dônya.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: