Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sweeping

Celoteh Herman RN

Jibloe siplôh, jipeubloe sikureueng, lam reuweueng na laba

Membaca berita di media tentang razia kendaraan bermotor oleh Polantas yang katanya demi keamanan dan kenyamanan pengguna jalan raya, dari satu sisi ada baiknya. Namun, di sisi lain, ada cerita menarik tentang razia atau disebut juga dengan sweeping ini.

Cerita Menarik itu sebenarnya sudah banyak yang tahu. Namun, kiranya tak salah pula kalau sedikit saya berkelakar di ruang ini tentang sweeping itu. Maklum, pasalnya, saya kena sweeping beberapa hari lalu. Tapi, percayalah, celoteh di sini sekedar hau-hau. Ya, siapa tahu di antara pembaca budiman (berbudi dan beriman) juga pernah mengalaminya.

Saya mulai saja cerita ini dari seorang teman, yang juga pernah kena razia karena melanggar lampu merah. Andy, nama teman saya itu, yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Unsyiah.

Kata dia, dirinya kena sweeping karena salah jalan. Dari Gampông Peurada, dia memotong jalur kanan ke depan Perpustakaan Daerah NAD. Niatnya, di pojok depan Pustaka Daerah, dia akan memotong jalur kiri, kemudian baru lurus ke Lamnyong-Darussalam.

Daerah itu memang sering dilalui pengendara roda dua yang ingin jalan pintas memotong jalan. Mungkin karena mereka sering menonton iklan rokok Sampoerna Mild, “Jalan Pintas Dianggap Pantas”. Jargon ini juga pernah dipajang di depan kantor Polresta Banda Aceh beberapa waktu lalu.

Nah, Andy, karena ingin cepat sampai, pagi itu dia memotong jalan tersebut. Eee… tak tahunya ada polisi yang jaga di sana. Spontan dia ditahan.

“Waktu itu saya mau ke kampus urus transkrip nilai akhir. Saya buru-buru karena sudah telat. Pas tiba di depan Pustaka Wilayah, saya ditahan oleh polisi yang jaga jalan pagi itu di sana. Ada beberapa orang yang juga sudah ditahan di sana,” ungkap Andy.

Namun, yang membuatnya kesal, dia sudah menjelaskan kalau dirinya khilaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahan serupa. Andy juga menjelaskan kalau dia hari itu sangat buru-buru. Tapi, tetap saja dia ditahan.

Itu sebabnya dia kesal. Yang lebih membuat dia kesal, dia diminta bayar denda sebesar tujuh puluh lima ribu lima ratus lima puluh rupiah. “Seharusnya, kalau ada kesalahan, kan dinasihati dulu, lalu ditegur, baru diberi sanksi,” keluh Andy.

Akhirnya, kata Andy, antara dia dengan polisi yang menahan sepeda motornya itu terjadi tawar-menawar harga denda.

Hal inilah yang menurut saya menarik. Menegakkan hukum kok mesti tawar-menawar kayak di pasar. Padahal, dalam kearifan ureueng Aceh sudah jelas, adat jeuet beurangkahoe takông, hukôm h’an jeuet baranggahoe takieh.

Dalam tawar-menawar itu, Andy meminta dikurangi tarif dendanya menjadi Rp50 ribu. Namun, polisi itu mengatakan, “Ini sudah tarif resmi. Kalau Bapak tidak mau, silakan ke pengadilan saja. Sepeda motornya kami tahan dulu sampai Bapak menyelesaikannya di pengadilan nanti.”

Andy terdiam. Belum sempat dia menjawab, polisi tadi menyodorkan kertas semacam faktur denda. “Di pengadilan, bayaran bisa lebih mahal,” kata polisi itu lagi.

“Saya mau ngurus transkrip nilai, Pak. Uang saya nanti tidak cukup. Lagian, saya juga belum sarapan. Tolong dikurangi sedikit lagi untuk saya ngopi saja. Tolonglah, Pak,” bujuk Andy.

“Salah siapa Bapak melanggar peraturan,” jawab polisi itu ketus.

Andy kembali terdiam. Polisi tadi menyodorkan lagi kertas faktur denda ke hadapan Andy. “Ya sudah, saya bulatkan, tujuh puluh ribu saja, tak usah bayar pecahannya,” kata polisi itu kemudian.

Andy masih menawar ke harga yang lebih rendah. Kata dia, sedikit lagi saja dikurangi.

“Bapak mau bayar tidak? Kalau tidak silakan bayar dan urus di pengadilan saja,” kata polisi tadi sedikit keras.

Andy terdiam, kepalanya menuduk sayu. “Ya sudah, enam puluh ribu saja, biar Bapak bisa sarapan. Kalau tidak silakan selesaikan di pengadilan saja,” kata polisi itu lagi sambil melipat kertas dendanya.

Melihat itu, segera Andy merogoh kantongnya dan mengeluarkan dua lembar lima puluh ribuan.

“Bilang ga ada uang. Padahal, uangnya banyak,” ucap polisi itu sambil menyerahkan kembalian uang Andy. Andy pun berlalu ke kampus.

Menarik bukan? Hukum di daerah ini ternyata bisa tawar-menawar harga. Alih-alih menjaga keamanan, ternyata dapat “makanan’. Ibaratnya, jibloe siplôh, jipeubloe sikureueng, lam reuweueng na laba. Ka jeut meunyo meunan, peudong sweeping tip beungoh. Pakiban? Na pakat?

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: