Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Meucang (1)

Haba Herman RNDemo

“Jak tameucang lom jak,” ajak seorang teman sekembalinya dia dari kampung setelah libur kemarin. Kami memang sudah dua minggu tak bertemu, sejak selesai ujian akhir mahasiswa di Unsyiah kemarin. Padahal, sebelumnya, hampir setiap hari kami meucang.

Meucang adalah bahasa Aceh yang bila di-Indonesiakan sederhananya berarti saling babat, saling cincang, saling iris, saling pukul, saling tikam, saling injak, saling sepak, dan entah saling apalagi. Yang jelas, mengajak meucang berati mencari lawan, mengajak berkelahi. Karena itu, meucang biasanya identik dengan menggunakan benda tajam seperti pisau dan parang atau golok. Misalnya, meucang bawang (mencincang bawang), meucang neleueng (membabat ilalang), meucang ungkôt (mengiris ikan).

Meski meucang identik dengan menggunakan benda tajam, meucang saya dan teman saya yang bernama Romi itu, tidak pernah menggunakan pisau dan parang atau pun golok. Meucang bagi kami adalah tukar pendapat, saling berdebat, adu imajinasi. Ya, hanya menggunakan mulut. Namun, meucang kami juga mesti memiliki arena seperti meucang bawang yang arenanya di dapur dan meucang naleueng arenanya di kebun. Maka, meucang kami arenanya di warung kopi. Ditemani secangkir kopi atau sanger panas, kami pun meucang. Tentang negeri, tentang orang, tentang laut surut atau tentang senjata.

Di saat kami meucang, sudah pasti banyak asap. Tapi, tenang dahulu, yang berasap hanya mulut kami, karena kami merokok. Dan itu sudah pasti, sebab ada jargon yang melekat sebelum kami meucang. Tanpa jargon itu, meucang bersama Romi pun terasa tak nikmat. “Tapiep rukok keu tumpang bibi, tajép kupi keu tumpang mata, nyan barô meurasa tameucang haba.” Demikian jargon itu.

Ternyata, saat saya saksikan debat kandidat di dunia politik tak ubah pula serupa kami meucang. Mereka saling hujat, saling cerca, saling unjuk pangkat, saling memperlihatkan bahwa dialah yang hebat, dialah yang “AKU”-nya. Dalam bahasa Jamee, inyolah yang udang, lain tu kapitiang (Dialah yang udang, selain itu kepiting ‘dialah yang budiman, lainnya maling’).

Meucang saya dan Romi memang kami sadari terkadang tak ada hasilnya. Setelah debat panjang lebar, habis kopi beberapa gelas dan roti dua piring ikut tandas, hasil meucang kami sering tak ada kesimpulan. Kami sudah memakluminya. Terkadang kami sendiri sering bilang, H’ana buet mita buet, badan payah keumiroe teusuet. Walhasil, meucang kami hanya debat kusir, sama seperti debat pejabat calon kandidat. Dalam bahasa Gayo, meucang seperti ini dikatakan dengan nahi meuseng, bahasa negeri sebenrang poh cakra, bahasa negeri sini poh tem atau cang panah.

Nahi meuseng sudah menjadi kebiasaan saya dan Romi meucang. Namun, kalau meucang para pejabat, elit pemerintahan dan politikus, meucang seperti kami, alangkah sedihnya. Lebih sedih lagi, kalau meucang mereka sempat membuahkan tinju atau tampar. Lihat saja kejadian di kantor Departemen Agama (Depag) dua hari lalu. Bermula dari diskusi kecil (meucang kecil) eh, akhirnya pegawai Depag kena tampar lawan meucangnya.

Itu hanya sebagian contoh kecil, tentu masih banyak kejadian lain yang berawal dari meucang lidah, berbuah meucang tangan. Bahkan, ada yang dilanjutkan dengan meucang senjata. Ya, seperti curi-mencuri malam hari, keesokan harinya yang dicuri tinggal mayat di semak-semak atau di bawah kolong jembatan. Ada indikasi kejadian seperti itu bermula dari meucang ringan, meucang pakai lidah. Akhirnya, kehidupan Aceh seperti masa konflik dahulu, saling cin-cang.

Begitulah risikonya kita punya lidah. Kendati dia tak mesti memakai batu asah seperti pisau, parang, dan golok, lidah bisa lebih tajam dari semua benda tajam tadi. Makanya, kearifan ureueng Aceh mengatakan, sabab babah bulèe basah, sabab lidah badan binasa.

Berikutnya, meucang para elit—entah elit politik, elit pejabat, elit penipu rakyat—semuanya diakhiri dengan janji-janji. Ini juga akan menghadirkan perkara meucang yang baru guna menyambung meucang sebelumnya. Entah kapan pula perkara meucang ini akan berakhir…

Apakah untuk memberi bantuan darurat bagi korban gempa di Simeulue, antara pemerintah provinsi dan pemerintah pusat juga harus meucang dahulu? Meunnyo meunan, bit-bit jipakat meucang tanyoe. Hom hai…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: