Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Meucang (2)

Haba Herman RN

             Pembaca yang budiman (berbudi dan beriman), sebenarnya carita meucang saya dan Romi atau meucangnya para pejabat negeri ini, yang saya ceritakan kemarin, belum tuntas. Namun, karena ruang ini terlalu sempit untuk menamatkan cerita itu, teman saya, si Apa Uda’ Bili itu memotong. “Cukupkan dulu ceritamu, besok saja sambung lagi. Di rumah, istriku sudah menanti,” ucapnya. Ya, saya padailah carita kemarin sampai makna meucang dalam beberapa bahasa.

            Akan tetapi, tenang saja, agar tak orang meucang tanya gara-gara carita saya keamrin, hari ini saya sambung sedikit lagi haba meucang atau celoteh saya dan Romi itu.

Seperti saya sebutkan kemarin, jeumak Gayo menyebut meucang dengan nahi meuseng. Nah, nahi meuseng bagi saya Romi adalah hal menyenangkan dan menurut kami tak ada yang dirugikan, kecuali waktu kami pribadi. Namun, kalau para pejabat, elit pemerintahan dan politikus melakukan meucang seperti kami—nahi meuseng melulu—alangkah sedihnya kampong kita.

Mengapa saya katakan demikian. Lihat saja kasus PNS yang kedapatan di warung-warung kopi. Ngapain mereka kalau bukan meucang, ngrumpi, atau dakwa-dakwi nahi meuseng?

Sedihnya lagi, kalau meucang sebagian masyarakat dengan pegawai sempat membuahkan tinju atau tampar. Lihat saja kejadian di kantor Departemen Agama (Depag) Kota Lhokseumawe empat hari lalu. Bermula dari diskusi kecil (meucang kecil) eh, akhirnya pegawai Depag kena tampar lawan meucangnya.

            Itu hanya sebagian contoh kecil, tentu masih banyak kejadian lain yang berawal dari meucang lidah, kemudian berbuah meucang tangan. Bahkan, ada yang dilanjutkan dengan meucang senjata. Ya, seperti curi-mencuri malam hari, keesokan harinya yang dicuri tinggal mayat di semak-semak atau di bawah kolong jembatan. Ada indikasi kejadian seperti itu bermula dari meucang ringan, meucang pakai lidah. Akhirnya, kehidupan Aceh seperti masa konflik dahulu, saling cin-cang.

            Begitulah risikonya kita punya lidah. Kendati dia tak mesti memakai batu asah seperti pisau, parang, dan golok, lidah bisa lebih tajam dari semua benda tajam tadi. Makanya, kearifan ureueng Aceh mengatakan, sabab babah bulèe basah, sabab lidah badan binasa.

            Berikutnya, meucang para elit—entah elit politik, elit pejabat, elit penipu rakyat—semuanya diakhiri dengan janji-janji. Ini juga akan menghadirkan perkara meucang yang baru guna menyambung meucang sebelumnya.

            Jujur saja, terkadang kita memang butuh meucang, tapi tatkala meucang dalam perkara kepentingan masyarakat luas, kepentingan rakyat, tentu patut berpikir lebih dalam, lebih panjang. Hal ini berguna agar meucang yang dilakukan menjadi sebuah diskudi bermanfaat, bukan nahi meuseng.

            Namun demikian, tak selamanya pula meucang harus dipertahankan. Misalkan saja dalam memberikan bantuan tanggap darurat. Karena kebiasaan pejabat negeri ini menganggap meucang adalah jalan terbaik, akhirnya dalam memberikan bantuan tanggap darurat pun meucang dahulu. Walhasil, rakyat sudah duluan mati, pejabat masih meucang. Alasannya, musyawarah adalah jalan terbaik.

            Ah, apakah negeri ini mesti meucang melulu, walau hanya untuk memberikan bantuan korban gempa tanggap darurat? Misalnya, pemerintah daerah mesti meucang dahulu dengan pemerintah pusat dalam memberikan bantuan gempa di Simeulu? Meunnyo meunan, bit-bit jipakat meucang tanyoe. Peu peurlee meunan?

            Namun, ternyata Teungku Wandi hayeue, belum sempat pemerintah pusat jak jôk cang kepada pemerintah provinsi dan pemerintah daerah, Teungku Wandi beserta waki ka trôh di Simeulue. Biet-biet hayeue…hana meucéh meucang.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: