Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Hiperimaji Kritis Sejarah dalam Fiksi

(Secoret Kajian pada Cerpen Saipul Bahri)

Oleh Herman RN,

Pepatah bijak mengatakan menulis adalah proses merekam sejarah ke dalam bentuk tulisan. Sejarah, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan sebagai sebuah peristiwa yang pernah terjadi pada masa silam. Sebagai sebuah peristiwa yang sudah terjadi tentu dia meninggalkan beragam cerita; duka, lara, suka, ria, tawa, canda, jua air mata.

Proses mengulang kembali semua itu, kita diminta untuk memiliki daya ingat yang sangat tajam sehingga dituntut mesti mengingat cermat bagaimana air laut menggulung pantai, bagaimana anak menjerit di dalam buaian, seperti apa ibu menangis kehilangan anak, serupa apa suami meratap sebatangkara ditinggal istri yang pergi bersama laut lepas, seperti apa bentuk gurat di wajah yang tua, jua semacam apa pula alam di saat murka dan bahagia. Untuk itu, merekam ingatan adalah sebuah beban yang mesti dilakukan agar semuanya tidak menjadi “dongeng kancil dengan buaya” atau “dongeng kancil mengelabui manusia” yang kebenarannya masih dipertanyakan sampai saat ini.

Merekam semua itu dapat dilakukan dengan berbagai cara; boleh lewat audio, boleh visual, boleh juga gabungan keduanya. Namun, merekam yang lebih mudah dan efesian (menurut saya) adalah menuliskan kembali. Dengan menuliskannya kita hanya membutuhkan kertas dan sebatang pensil, sedangkan bila dengan audio visual, kita membutuhkan beberapa alat bantu tambahan guna menegaskan kejadian yang dilukiskan tersebut. Tak urung, visual bagi saya cenderung menipu. Misalkan saja, sosok Cut Nyak Dien yang dilukiskan lewat tokoh Kristien Hakim. Penikmat (masyarakat sekarang) ditegaskan seolah rupa Cut Nyak Dien adalah serupa Kristien Hakim. Padahal, jika dilihat di photo aslinya, Cut Nyak Dien Aceh jauh lebih cantik dari Kristien Hakim. Maka, menulis adalah pekerjaan kreatif yang lebih bisa diandalkan dalam mendokumentasikan sejarah. Menulis, kita hanya butuh kosa kata untuk mendeskripsikannya. Lalu, pembaca akan berimajinasi sesuai tingkat kreativitas benaknya saat membaca sebuah karya. Dan tingkat imajinasi yang berbeda antarpembaca menunjukkan tingkat kreativitas seseorang. Tak ada pemaksaan imaji pada karya tulis seperti karya visual/audio visiual.

Menulis, dituntut memilik kekayaan kosa kata, kelihaian memainkan bahasa, dipadu dengan imajinasi liar, sehingga akan menjadikan sebuah cerita terbangun bernas yang menyerap imaji pembaca ke dalamnya. Agaknya tak berlebihan jika hal ini saya sandingkan pada belasan cerita pendek Saipul Bahri yang pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia. Serambi Indonesia merupakan sebuah Koran Harian Nasional yang diterbitkan di Aceh.

Saipul merekam berbagai kejadian di sekitarnya dengan menggunakan imajinasi liar dan mainan kata yang sepintas menyerupai puisi panjang. Saya katakan puisi panjang, jika untuk ukuran puisi. Namun, terlalu ringkas untuk ukuran sebuah cerpen. Tentang ukuran ini, saya belum menemukan standardisasi untuk sebuah cerpen atau cermin (cerita mini). Maka, dalam kasus ini tetap saya sebut sebagai cerpen (cerita pendek) seperti si penulis menamai karyanya itu dengan sebutan “cerpen”.

Mengingat Sejarah

Mengingat sejarah sebagai sebuah kejadian yang benar-benar terjadi dapat dilakukan oleh siapa saja, apalagi bagi si pengalam sejarah itu sendiri. Manakala ditanyakan kepada si pengalam kejadian yang menimpa dirinya, apalagi kejadian yang sangat memilukan atau sangat menggembirakan dirinya, niscaya dengan semangat dia dapat menceritakannya. Mungkin pula, ia akan kembali menangis saat bercerita tentang kesedihan teramat dalam yang pernah dia alami. Akan tetapi, jika diminta bercerita melaui media tulis, tidak semua orang dapat runut merekamnya. Belum lagi soal bahasa dan gaya yang dia gunakan.

Lain halnya Saipul Bahri dalam cerpen-cerpennya di sini, dia merekam setiap kejadian yang dialaminya ke dalam bentuk tulisan bertutur dengan bahasa renyah, lirik bersajak, kata berantuk serupa bait, sehingga setiap pembaca seakan diajak bermain kata pula. Ya, membaca cerita pendek di sini, pembaca tidak hanya mesti menerbangkan ingatan (imajinasi) kepada sebuah peristiwa yang diceritakan, tapi juga diajak menyelami setiap kata (kosa kata) yang diutarakan dalam cerpen ini. Karenanya, saya berpendapat, membaca karya Saipul adalah memainkan imajinasi dan pola pikir kritis.

Cara Saipul bermain kata terkadang cenderung mengabaikan kaidah bahasa yang disempurnakan. Namun, bagi sebuah karya sastra, apalagi sebuah cerita yang digolongkan ke dalam kategori fiksi, hal ini saya anggap sah-sah saja. Tak urung pula, permainan kata dan bahasa Saipul cenderung menimbulkan ambiguitas tafsir. Di sinilah kekuatan bahasa Saipul dalam memainkan kata pada imajinasinya sehingga saya menyebutnya dengan “Hiperimaji kritis”.

Kelebihan cara dia berimaji mampu mengungkit sejarah sebagai suatu hal “yang dipertanyakan” patut dipertanyakan pula. Pertanyaan tentang hari kemarin, hari ini, dan hari esok, zaman sudah dilalui, zaman sedang dilalui, dan zaman yang akan dilalui, seakan ada pertanyaan yang disisakan pada ceritanya tentang segala perubahan waktu. Hal ini dapat dilihat pada “Kuburku di Bukit Kerang”. Dengan sebuah simbol bukit kerang masa sejarah 7000 tahun silam, Saipul mencoba kaji perubahan di zaman yang sedang dilaluinya sekarang sehingga tercium nada penyesalan zamannya berbeda dengan zaman seorang temannya, Dedy Besi, yang menurut Saipul lebih sempurna dari zaman sekarang. Lantas, ada pertanyaan tersisa di sana, “Bagaimana dengan zaman esok, zamannya para pembaca”.

Sejarah tsunami melanda Aceh juga dicoba angkat oleh Saipul dalam “Minggu Terakhir”. Di samping itu, masih ada beberapa sejarah dalam cerpen-cerpen ini yang tidak hanya berseting pada tempat atau muasal kejadian. Kelihaian Saipul dalam mengkritisi sejarah melalui cerpennya juga dapat dijadikan sebuah ingatan pada masa datang. Misalkan saja pada cerpen yang berjudul “Amarah Kerbau”. Cerpen ini menceritakan sebuah sejarah yang terjadi di zaman pascatsunami. Beberapa hari sebelum cerita ini diteritkan di Serambi Indonesia (Minggu, 20 Mei 2007), di Simpang Jambo Tape, Banda Aceh, pernah terjadi seekor kerbau mengamuk. Masyarakat setempat dan sejumlah aparat keamanan kewalahan menenangkan kerbau itu. Kejadian ini sempat diberitakan beberapa Harian lokal terbitan Banda Aceh, termasuk SI. Beberapa hari berselang, cerpen “Amarah Kerbau” milik Saipul muncul di SI. Tak tertutup kemungkinan ide cerpen Saipul muncul setelah membaca berita tersebut.

Selain itu, kekuatan imajinasi Saipul untuk mengingatkan tentang sebuah sejarah juga ditunjukkannya melaui sesosok lelaki tua. Sosok itu dijadikan sebagai tokoh cerpennya.

Tokoh dalam sebuah cerita fiktif cenderung pula fiktif. Namun, Sang Presiden dalam “Presiden Itu Sudah Tua” milik Saipul Bahri adalah tokoh sungguhan. Ini juga menjadi sejarah tentang pengukuhan sebuah nama kepada seorang rakyat jelata, yang biasa mangkal di persimpangan sebuah kota, tapi diberi label pada namanya serupa jabatan kepala negara (presiden).

Sejarah lainnya dalam imajinasi Saipul yang diangkat dari sebuah kisah nyata adalah tentang cerita kebal (Rante Bui), tentang beduk yang tidak lagi digunakan sebagai tabuh penanda azan dan iqamat di mesjid dan mushalla sejak ada tape recorder (Beduk Itu Tak Lagi Penanda Waktu), tentang batu nisan kuburan korban tsunami yang ditakutkan akan hanya menjadi batu asah (Batu Asah). Semua itu menunjukkan bahwa cerpen-cerpen Saipul di sini berkisar (tajuk) tentang sebuah sejarah. Sebagai sebuah sejarah yang diangkap ke dalam bentuk karya fiksi, dia akan mempunyai kekuatan tersendiri, sebab sebuah sejarah—apalagi yang dekat dengan pembaca—akan cepat merangsang ingatan pembaca.

Hal lain yang menjadi kekuatan pada setiap imaji Saipul adalah penggunaan dan pemilihan kosa kata. Hampir tidak ada kosa kata yang tidak menjadi penguat alur cerita pada cerpen-cerpennya. Kendati demikian, ada yang patut diperhatikan dalam setiap kata tersebut. Barangkali teramat asyik bermain kata sehingga Saipul tak sadar terjebak pleonasme. Hal ini dapat dilihat seperti kata Kutegur dan kusapa orang-orang dengan bahasa-bahasa yang sangat manusia (Minggu Terakhir).

Untuk beberapa kata atau kalimat yang masih bisa dianggap sebagai sebuah peng-indah-an cerita, perulangan kata yang memiliki makna sama masih dapat diterima. Namun, ketika perulangan yang sama dilakukan berkali-kali dapat mebuat bosan pembaca dan tak ayal lagi dapat menjebak penulis ke dalam lembah pleonasme.

Agaknya, hal inilah kelebihan Saipul. Penulis yang PNS ini sangat hati-hati dalam memilih dan memilah kosa kata dalam cerpen-cerpennya sehingga kekuatan cerpennya masih tetap terjaga. Adapun perulangan bahasa yang sama dilakukan Saipul semata menambah khas karya yang dia ciptakan. Menciptakan orisinilitas, apalagi mempertahankan orisinil tersebut sebagai ketertahanan ciri khas penulis adalah hal yang sulit. Saipul, bersama belasan cerita sangat pendeknya dalam naskah ini memiliki “ketertahanan” orisinil tersebut. Maka, membaca cerpen Saipul—pada kata-kata dan bahasanya—membuat orang serupa terenyak-bangkit dalam sapuan metafor, eufemisme, personifikasi, dan beragam gaya bahasa lainnya. Ini menurut saya kelebihan yang dia miliki. Setiap kata yang tertulis dalam kalimat-kalimat pendek pada cerita-ceritanya yang sangat pedek ini menjadi kekuatan tersendiri bagi Saipul yang sulit dicontoh oleh penulis cerpen lainnya.

Di samping itu, seperti saya sebutkan di atas, sekilas cerpen Saipul berbau sajak-sajak panjang. Dalam sajak atau puisi, setiap kehadiran kata (kosa kata) sangat berarti. Ianya menjadi penunjang kekuatan suspens dalam puisi. Saipul, dalam amatan saya juga demikian. Dia mencoba memberi hantukan pada beberapa kalimat dalam karyanya sehingga terkesan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya memiliki persajakan. Barangkali ini yang membuat saya berkesimpulan cerpen Saipun serupa larik puisi yang panjang. Berikut ini saya tuliskan kembali yang berciri puisi tersebut.

“…Dari segala ufuk awan hitam bergulung-gulung mengepung dan menggelantung rendah-rendah di langit-langit kampung, langit-langit kota, langit-langit persimpangan segala simpangku. Hembusan angin panas menderu-deru dan berpusing-pusing cepat sekali, menyeruak jalan-jalan protokol, menyisir lorong-lorong sempit, menerbangkan debu-debu dan bau-bau. Hidup jadi begitu sesak. Amarah-amarah memuncak. Gairah-gairah memuak. Tipu-tipu merebak-rebak. Melesat dan bergulir-gulir begitu cepatnya segala wacana, rencana, format, tata laksana tentang kebenaran, kesucian, kesejahteraan, kemakmuran, gratis biaya pendidikan, gratis biaya kesehatan, puja-puji segala sakral, caci-maki segala sakral! Semua bergolak, semua mencoba mencuat-cuat.” (Minggu Terakhir)

“Mulailah kau cecar aku dengan petuah-petuah syair berseling getah latah hikayat-hikayat mirismu. Mulailah kau jungkirbalikkan aku dalam kepungan kata dan cerita derita bangsa. Larutlah aku dalammu!” (Presiden Itu Sudah Tua)

 

Mengamati contoh di atas, yakinlah saya cerpen-cerpen Saipul serupa puisi. Kalau tidak percaya coba atur kembali kalimat-kalimat dalam paragraf di atas, kemudian peenggal per baris (meskipun puisi sekarang tidak lagi terikat baris/bait). Lalu, silakan baca ia serupa orang membaca puisi.

Minggu Terakhir

Dari segala ufuk awan hitam bergulung-gulung

mengepung dan menggelantung rendah-rendah di langit-langit kampung

langit-langit kota

langit-langit persimpangan segala simpangku

Hembusan angin panas menderu-deru

dan berpusing-pusing cepat sekali

menyeruak jalan-jalan protokol

menyisir lorong-lorong sempit

menerbangkan debu-debu dan bau-bau

Hidup jadi begitu sesak

Amarah-amarah memuncak

Gairah-gairah memuak

Tipu-tipu merebak-rebak

…..

Begitu sempurnanya Minggu hampir tiga tahun yang lalu itu

sesempurna kepergian anak-anak dan istriku

sesempurna jerit terakhir cucu-cucu manisku

Banda Aceh, 7 September 2007

Tak cukup sampai di sini, ada imajinasi kritis lainnya dalam cerpen Saipul, yakni mantra. Apabila diamati dengan seksama setiap larik kata dalam naskah cerpen Saipul ini, sekilas juga seperti membaca mantra. Perantukkan yang ada pada setiap kosa katanya mengesankan penguatan pada karya sastra jenis mantra. Namun, tidak semua naskah di sini berbau mantra. Berikut saya coba tuliskan kembali larik yang bernada mantra, di samping beberapa contoh di atas.

“AKULAH Saksi Bisu! Di segala terang, di segala gelap, di segala gerak, di segala diam, di segala zuhud, di segala buruk dan caci-maki, hadir adaku hanyalah saksi bisu. Maka, kusaksikanlah berlaksa-laksa dengki dan tipu-tipu yang ditebar dari pesona yang dikemas dengan sungguh sangat mempesona.” (Saksi Bisu)

Mulai dari juru bicara yang hanya bicara-bicara saja, lalu juru rawat, juru parkir, juru masak, juru kunci, juru pangkas, juru tipu, juru tembak, juru jagal, juru runding, hingga juru damai. Dan akhirnya berhingga pula kini pada julukku, si Juru Sanggah. Akulah Juru Sanggah!” (Juru Sanggah)

Sindiran Satire

Hal lain yang dapat ditarik dari naskah-naskah cerita pendek Saipul adalah sindiran satire. Hampir pada setiap cerpennya, meskipun sekedar mengingat sejarah, disatirekan menjadi sebuah sindiran. Sindiran itu dapat tertuju kepada pemerintah, masyarakat biasa, wartawan, bahkan kepada para penulis/ kritikus. Cerpen “Juru Sanggah” misalnya, adalah sebuah kisah yang disatirekan kepada para aktivis, wartawan, penulis atau kritikus. Di sana Saiupul hendak mengatakan betapa mudahnya mengkritik kesalahan orang lain (tanpa melihat kesalahan pada diri sendiri). Saipul sengaja memakai tokoh Aku lirik, namun yang jelas tetap berupa sindiran kepada orang-orang yang biasa mengkritik orang lain.

“Sekedar menyanggah untuk membaik-baikkan buruk, memburuk-burukkan baik, membalik-balikkan timpang, mentimpang-timpangkan niat, tangkal-menangkal segala ingkar, ingkar-melingkar segala tohok, tohok kapok segala cecar, lalu cecarlah cerca dan caci habis segala usik, segala usut.” (Juru Sanggah)

Dalam pargraf itu jelas bahwa Saipul sedang menyindir orang-orang yang suka mengkritik dan mengatai kesalahan orang lain, dengan mengatakan betapa mudahnya menjadi juru sanggah.

Kritikan lainnya—juga kepada khlayak—dapat dilihat pada “Keranda Raya”. Cerpen itu sekilas memang imajinatif, hanya ada di hayalan. Namun, tidak tertutup kemungkinan bahwa yang dimaksud Keranda Raya oleh Saipul tidak lain adalah ka’bahtullah. Hal ini terlihat pada paragraf,

“Mereka sadar bahwa sesuci apa pun manusia, walau hanya secuil pasti ada buruk yang melekat pada dirinya. Maka, berduyun-duyunlahlah penghuni negeri itu datang pergi silih berganti, siang malam tiada henti, mengusung dan mencampakkan segala buruknya ke dalam Keranda Raya.”

Bukankah sudah melekat pada benak manusia bahwa setiap yang pergi haji (ke Makkah) adalah menghapus dosa? Walhasi, pergi haji atau membuang segala buruk yang dalam bahasa Saipul akhirnya menjadi sebuah ritual tahunan.

Keranda Raya itu juga dapat ditamsilkan sebagai sebuah mesjid kala lebaran tiba. Sudah menjadi rahasi umum, di negeri ini (atau bahkan setiap negeri yang ada penganut Islamnya) untuk memenuhi mesjid setiap lebaran tiba atau bagi lelaki setiap hari Jumat. Sebab itu, Saipul menghitung waktu dalam cerpen “Keranda Raya” dengan hitungan bulan purnama.

Banyak hal satire lainnya yang masih tersingkap dalam setiap bait kata cerpen-cerpen yang sangat pendek milik Saipul. Namun, kesempatan ini saya padai di sini dahulu. Sebelum ulasan ini saya akhiri, ada yang patut menjadi catatan bagi saya, yakni sejarah akan menjadi dongeng bila tidak didokumentasikan. Salah satu pendokumentasian itu dapat dilakukan melalui menulis. Hal inilah yang dilakukan Saipul Bahri, cerpenis yang sehari-hari menghabiskan waktunya sebagai PNS. Sejarah juga dapat hilang bila tak dirawat. Salah satu perawatannya, pula dapat melaui tulisan. Saipul menyatirekan itu dalam “Batu Asah”. Kata dia, batu-batu nisan korban tsunami di kuburan massal suatu saat hanya akan menjadi batu asah bila tak ada yang mempedulikannya. Maka, sudah saatnya kita penduli sejarah, meski lewat karya fiksi. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Gadöh aneuk meupat jirat, gadöh adat pat tamita. Kullu nafsin geubeut bak ulee, nyan barô tathèe meuniggai donya.

Herman RN,

Alumnus Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Unsyiah

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: