Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Rumah Aib

Cerpen Herman RN

BRRAib itu melekat pada dirinya sejak dia masuk sebuah rumah di kampong kami. Rumah putih yang didirikan selepas musibah mahadahsyat menghantam kampongku. Di rumah itu segala peri berlabuh. Kata orang, rumah itu didirikan dari peluh dan paruh korban tsunami. Dengan dalih membantu perempuan yang kehilangan suami. Dan di sana, masih menurut kata orang kampongku, segala peri dikumpulkan. Namun, sesiapa bergabung atau nyelinap ke sana barang sekejap, aib niscaya melekat pada dirinya.

Aib seribu lara, seribu duka dari janda dan duda, juga anak-anak yang kehilangan orangtua. Ya, demikian cerita orang kampungku dan orang dari kampung tetangga.

Tersebutlah AA, seorang lelaki yang kukenal sebagai ulama. Dia juga kemarin bekerja di rumah sakit jiwa. Banyak pasien gila yang disembuhkan oleh tenaga dan keahlian yang dimilikinya. Entah karena harta atau uang berlipat, ditambah sebuah mobil mengkilap, AA tiba-tiba sudah berada di rumah itu, rumah putih serupa buih. Serupa buih pula orang di dalamnya, ramai tak terkira. Kian hari, banyak orang ke sana. Namun, percayalah kukatakan, setiap orang yang ke sana, dia kana memperoleh aib. Karena itu, aku sepakat dengan orang kampungku memberi nama rumah itu dengan rumah aib.

Gelar aib akhirnya tersemat pula pada AA. Padahal, kukenal betul dia seorang gigih beramal. Apalagi atas nama budaya dan kesenian. Dia kukenal sebagai orang yang rela berkorban untuk itu. Bagi dia, seperti tak ada waktu untuk lupa atas nama kesenian dan budaya, sehingga banyak orang yang gemar dekat dengan dia, meskipun sekedar minum kopi sembari celoteh tanpa arti.

Apa hendak dikata. Kendati cempedak tak lagi mungkin berbuah nangka selama sudah ada durian belanda. Namun, yang bernama aib tetaplah aib. Sekali lancang ke ujian, di tepian pun berdiri tetaplah terpercik air, walaupun sekali.

Demikian kudengar tentang AA dari orang kampungku. Mereka mulai bergunjing tentang lelaki yang tak memiliki rambut keriting itu. Kata orang tua-tua kampungku, juga sebagian pendapat anak muda, AA sama saja dengan lelaki yang berkepala seperti muling, lelaki yang menjadi kepala rumah aib itu. Dia berasal dari negeri Keling. Masuk kampungku mendirikan sebuah rumah, yang kemudian orang-orang menamakannya dengan rumah aib. Lelaki itu pun kemudian dituduh menjadi maling. Lebihnya dari maling kebanyakan, lelaki berkepala bulat setengah muling itu, lebih lihai dari kebanyakan maling. Dia sikut uang di kampongku, padahal banyak yang bilang, itu uang korban stunami. Lelaki berkepala muling itu tak peduli.

Kalau dia mendengar celotehku, pasti merasa serupa dipalu. Namun, percayalah, aku tidak sedang mengada-ada. Aku cerita seperti apa adanya, seperti orang kampungku berkata, bahwa rumah itu memang rumah aib. Sesiapa datang dan masuk rumah itu, atau singgah sementara saja, tetap akan diberi label aib pada dirinya. Hal ini bukan hanya terjadi pada AA, banyak orang lainnya yang dulu kukenal beragama, beramal, tapi sejak masuk rumah itu, dia pun menyandang aib. Anehnya, mereka tetap suka ke sana, seolah Tuhan dan agama mereka ada di sana. Yang aku tahu, sesiapa ke sana akan mendapatkan uang berlipat, mobil mengkilat, dan tentunya menjamin pula untuk dapat rumah bertingkat. Mungkin sebab itu banyak orang suka ke sana.

Ah, rumah putih di kampungku itu yang sebenarnya didirikan dari peluh dan paruh korban banjir hanya menjadi penambah cerita duka lara. Kendati menyandang malu, tetap dikejar orang beribu. Tapi, aku tak akan! Rumah itu banyak aibnya. Biarlah kusandang lapar dan dahaga, aib itu aku tak suka. Semoga Tuan juga.


Gemasastrin ‘07

Dimuat di Harian Serambi Indonesia, Minggu (16 Maret 2008)

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: