Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Peulandôk

Oleh Herman RN

beusoe seureuloe èk meulila

ureung pèh kloe, ureueng yue buta

 

RnMasih ingat haba peulandôk? Zaman sekarang, ternyata peulandôk panyang iku itu berkeliaran di Aceh. Kadang pula, orang luar yang masuk Aceh ikut-ikutan jadi peulandôk. “Mumpung ada jalan,” katanya, barangkali.

Peulandôk ini beda dengan peulandôk dalam dongeng buku sekolah dasar atau yang diceritakan oleh kakek-nenek terdahulu. Kalau peulandôk yang diceritakan kakek-nenek kita itu kan hasil cerita dari Panca Tantra yang di negeri India itu. Nah, peulandôk di Aceh pada zaman ini beda nian dengan apa yang disebarkan Panca Tantra ke seluruh dunia.

“Si kancil yang peulandôk,” itu versi Panca Tantra. Namun, dalam versi ini “Peulandôk yang memang kancil.” Si kancil yang main akal itu maksudnya. Ah, sama sajalah!

Bermula carita peulandôk ini di tangan pemangku syariat. Yang namanya pemangku syariat, sudah tentu mengawasi setiap pelanggaran syariat. Setiap pelanggar syariat, jika kedapatan, sudah pasti ditangkap oleh pemangku syariat.

Nah, rupanya, keseringan melihat adegan orang yang ditangkap, suatu hari salah seorang pemangku syariat mencoba-coba adegan itu. Ya, mulai dengan yang kecil-kecil lah. Duduk di tempat sepi, misalnya, saling remas jari, eh… rupanya jadi cipika-cipiki. Barangkali si pemangku syariat satu ini berpikir, “Mana mungkin saya ditangkap, saya tukang tangkap orang kok.”

Dikiranya, karena dia pemangku syariat, orang akan percaya kalau dia sangat alim atas nama syariat. Makanya, akal peulandôk si pemangku syariat yang satu ini jalan. Dia mungkin lupa kalau peulandôk dalam dongeng juga pernah kalah. Kalah dengan siput, hewan yang ukuran tubuhnya sangat kecil dibanding tubuh peulandôk. Peulandôk juga pernah kalah dengan banèng dalam lomba lari dari atas gunung.

Ah, payah si pemangku syariat satu ini, dia sudah pakai akal peulandôk, tapi dia lupa tentang kekalahan peulandôk dengan hewan-hewan yang lebih kecil itu. Akhirnya, pemangku syariat yang peulandôk ini ketahuan belangnya dan ditangkap, juga oleh orang yang lebih kecil dari dia–bila dilihat dari segi jabatan–yakni ditangkap oleh masyarakat biasa, yang bukan pemangku syariat.

Yang namanya peulandôk, akal dan akal-akalan tidak pernah habis. Walaupun sudah ditangkap, dia cari akal agar tidak kena hukum cambuk. Padahal, kalau yang ditangkap rakyat kecil, hukum cambuk pasti dijatuhkan.

Lagi, akal peulandôk muncul di benak si pemangku syariat tadi. “Nikah!” ya, nikah saja. Kalau keduabelah pihak setuju menikah, kan tidak mesti dihukum cambuk lagi, sebab suka sama suka. Walhasil, si pemangku syariat tadi menikah dan terhindar dari hukum cambuk.

Melihat dan mendengar cerita peulandôk gaya pemangku syariat, tentu saja menimbulkan kecemburuan dari masyarakat biasa. Suara-suara miring pun timbul. “Mangat that teuh… meunyo giliran jih nyang keunong, dipeukawén bah han dicambuk. Meunyo giliran geutanyoe ureueng ubiet nyang keunong, laju geuhukôm,” sebut beberapa suara, yang juga sempat diekspos di media.

Orang-orang pun akhirnya ikut main peulandôk untuk kasus syariat sekarang. Mereka tak segan-segan lagi melanggar syariat, di kebun sawit, di dalam kamar hotel, di rumah pribadi/keluarga, di rumah tetangga, di ruang tamu, hingga di dalam mobil pun orang melakukan pelanggaran. Kan sudah ada cara peulandôk. Kalau ditangkap, minta kawin saja pada pemangku syariat. Banyak keringanan yang didapatkan kok, ringan masalah hukuman (tidak dicambuk), juga ringan masalah mahar. Nikah gratis, githu lho…

Ah, dasar peulandôk!! Inilah akibat salah menempatkan orang menjadi pemangku syariat. Sudah tahu, yang di atas (pejabat, pemangku sayariat) itu ditiru dan digugu, bermain peulandôk pula dia, ya.. masyarakat bawah pun ikut-ikutan main peulandôk. Kalau semua sudah seperti ini, jadi apa negeri syariat ini. Kan sama dengan beusoe seureuloe èk meulila, ureung pèh kloe, ureueng yue buta. Yang dicontoh dan yang mencontoh sama saja, sama-sama peulandôk!!

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: