Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Peuteupat Basa Geutanyoe

Kado HUT Kota Banda Aceh)

Oleh Herman RN

Penulis, Alumnus Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Unsyiah

Hari ini, 22 April 2008, tepat usia Kota Banda Aceh mencapai 8 abad lebih 3 tahun. Tentu saja usia ini sudah cukup tua, cukup matang dalam berbenah. Apalagi, dengan kepemimpinan sekarang oleh yang muda-muda, mulai dari gubernur/wakil, walikota/wakil, hingga ke pelosok desa, kechik pun mulai dipercaya dipangku oleh yang muda, misalnya Desa Lamkruet yang kechiknya masih berusia 20-an.

Sekedar mengenang zaman, Aceh pada masa kegemilangannya pun dipimpin oleh yang muda-muda, mulai rajanya hingga pejuangnya, seperti Teuku Umar yang sudah mulai memimpin perang dan menjadi gechik di saat beliau masih berusia 19 tahun.

Jika kita mengenang semua itu, iklan rokok sampoerna mild memang salah yang mengatakan, “Yang muda yang tidak dipercaya”. Namun, tulisan ini bukan hendak eporia atas kegemilangan masa lalu itu dan bukan pula hendak mengelu-elukan kegagahan pemimpin kita sekarang. Justru ada resah yang tertinggal di hati saya manakala setiap selesai mengikuti sejumlah acara, baik itu acara kecil seperti seminar yang bertema Aceh, hingga ke acara besar-besaran seperti Diwana Cakradonya ala Pemda dan Festival Taman Sari ala walikota. Lara yang tertinggal adalah tatkala orang-orang zaman sekarang tidak lagi peduli terhadap bahasanya. Padahal, sangat jelas bahwa sebuah bangsa yang tinggi adalah bangsa yang menghargai bahasanya. Hal ini senada pula dengan ungkapan, “Tingkap papan kayu persegi, riga-riga di pulau angsa, indah tampan karena budi, tinggi bangsa karena bahasa.”

Saya mengatakan orang-orang Aceh zaman sekarang kurang peduli terhadap bahasa Aceh (mungkin tidak seluruhnya), sebab masih sangat beragam ejaan yang digunakan dalam bahasa Aceh pada setiap tulisan yang ditampilkan. Ada rasa bangga memang ketika dalam acara-acara untuk mengangkat kebudayaan Aceh disisipi dengan bahasa-bahasa Aceh sebagai kebanggan dan jati diri keacehan, entah di baleho atau sekedar di selebaran yang diedarkan. Namun, hemat saya, ejaannya yang beragam mengesankan bahasa Aceh dapat ditulis suka-suka hati si penulisnya, seakan tidak ada acuan konvensional terhadap bahasa Aceh. Padahal, salah satu sifat bahasa, di samping memang bersifat arbitrer/ arbitrary, juga memiliki konvensional. Akantetapi, yang terjadi sekarang, amatan saya, tulisan dalam bahasa Aceh ditulis suka-suka si penulisnya sehingga jika ada orang asing yang hendak mempelajari bahasa Aceh, orang asing itu akan kebingungan. Misalnya, untuk kata “baru”, ada yang menulisnya dengan barô, ada yang menulis baroe.

Tatkala hal ini kita tanyakan pada yang menulis, mereka akan bersitegang mengatakan dialah yang benar, dengan alasan seperti itu yang ditulis di pamflet dan selebaran-selebaran pemerintahan, bahkan di koran-koran. Yang lebih miris lagi, ada pula yang beralasan, “Yang penting pembaca mengerti, salah atau benar urusan dua belas”. Sungguh, ini dalih yang dapat merusak basa geutanyoe (bahasa kita).

Kerancuan ejaan dalam penulisan kata berbahasa Aceh juga masih dapat dilihat dari sisa poster di atas panggung utama Diwana Cakradonya. Poster film tentang perempuan Aceh itu ditulis “Inoung”, maksudnya adalah perempuan. Jelas-jelas tulisan itu salah, karena dalam bahasa Aceh tidak ada vokal rangkap (diftong) ou. Diftong dalam bahasa Aceh hanya ada 9: ai, ie, èe, oe, ôi, ue, eue, ui, dan ei (Sulaiman, 1985).

Melihat masih banyaknya terdapat kesalahan dalam ejaan bahasa Aceh, apalagi kesalahan itu terjadi dalam acara-acara pemerintahan, mengesankan bahwa konvensional yang sudah disepakati dalam kongres bahasa Aceh terdahulu tidak dihargai. Pertanyaannya, sampai kapankah kita dapat bertahan tanpa menghargai sejarah peninggalan, termasuk di dalamnya bahasa?

Diakritik Bahasa Aceh

Melaui tulisan ini, mari kita mengenal kembali ortografi bahasa kita (bahasa Aceh). Bahasa Aceh memiliki kekhasan tersendiri sebagaimana bahasa lain pada umumnya. Kekhasan itu terlihat, bahasa Aceh masih mempertahankan tanda diakritik latin yang sudah hidup dan berkembang sejak zaman penjajahan Belanda. Hanya saja, ejaan yang pada masa itu dibawa oleh Ch. A. Van Ophuysen sudah sangat membutuhkan penyesuaian dengan kehidupan zaman sekarang. Perubahan ejaan demi ejaan demi penyempurnaan pun dilakukan. Perubahan-perubahan itulah yang melahirkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam bahasa Indonesia. Perubahan ejaan itu tidak menutup kemungkinan terjadi dalam bahasa Aceh. Namun demikian, untuk tanda diakritik sebagai ortografi bahasa, bahasa Aceh masih menggunakannya.

Tanda-tanda diakritik yang masih digunakan sampai sekarang adalah hasil kongres bahasa Aceh tahun 1980. Kalaupun tahun kemarin (2007) Dinas Kebudayaan NAD menggelar kongres bahasa daerah Aceh, sampai sekarang tidak ada hasil yang direkomendasikan oleh panitia untuk kepentingan bahasa Aceh mendatang. Kalaupun kongres itu memiliki hasil, kenyataannya sampai saat ini tidak ada sosialisasinya kepada masyarakat secara umum. Karena itu, saya katakan, ejaan bahasa Aceh sekarang masih mengacu kepada hasil kongres bahasa Aceh tahun 1980.

Hasil kongres tersebut mengatakan bahwa dalam bahasa Aceh ada tanda/ aksen grave (è) untuk vokal [e], seperti kata malèe, pèh, kèh (malu, pukul, korek api). Pada vokal [e] ada juga aksen aigu (é), seperti untuk kata gulé, péh, lé (guling, giling, oleh). Di samping itu, ada juga aksen trema (ö) pada vokal [o], seperti pada kata böh, töh, röt (buang, mana, jalan), dan aksen macron (ô) pada vokal [o], seperti untuk kata bôh, lôn, rhôt (isi, saya, jatuh).

Dengan mengenal tanda bahasa kita ini, semoga saja ke depan tidak lagi terjadi kesalahan dalam berbahasa Aceh. Dinas Pendidikan NAD, Dinas Kebudayaan NAD, Balai Bahasa Banda Aceh, dan pihak-pihak terkait diharapkan peka terhadap masalah kebahasaan ini. Jak tapeuteupat basa gautanyoe, sebab bahasa Aceh merupakan lambang kebanggaan bangsa Aceh, lambang identintas bangsa Aceh, alat penghubunng di dalam keluarga dan masyarakat Aceh, sarana pendukung budaya daerah Aceh dan nasional, serta pendukung sastra daerah dan sastra nasional. Dirgahayu Banda Aceh!!!

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: