Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Semilir Pilu

Cerpen Herman RN

OMBAK memecah. Tak ada daun nyiur yang melambai di sana, tapi derum gelombang dan gemericik buih dari hasil pecahan air laut mencium bibir pantai terdengar nyata di telinganya. Sangat jelas. Seperti berbisik pedih, jauh ke relung hatinya. Dan dia masih diam

“Inilah kejujuran yang kusembunyikan selama ini, aku masih ragu padamu. Maafkan aku jika baru mengatakannya sekarang. Semua seperti serba terpaksa,” kata Buyung mengulang perkataan dia sebelumnya.

“Terima kasih telah mau jujur sekarang,” perlahan Irma bersuara juga. “Sebelumnya aku sudah pernah mendengar tentang keraguanmu dari orang lain, dari teman kita.”

“Siapa dia.”

“Tak perlu tahu!”

“Laki atau perempuan,” desak Buyung.

“Kau tak perlu tahu! Yang jelas, kau menambah beban sakit ini. Kau sering bilang, sakit jika kita harus tahu sesuatu tentang orang yang kita sayangi dari orang lain, tapi aku tahu tentang keraguanmu dari orang lain. Kau selalu sembunyi dariku. Sakit tahu! Tapi, terima kasih telah mau jujur sekarang. Untung Tuhan membuka semuanya hari ini.”

Giliran Buyung terdiam. Hatinya berkecamuk. Berontak. Di satu sisi, dia hendak menelan kembali kata-katanya tadi, namun di sisi lain, dia merasa mesti mengatakannya. Aku harus membuat dia membenci aku, batin Buyung tanpa diketahui Irma.

“Ya, aku akui aku salah. Aku belum bisa menikahimu, karena aku memang masih ragu dengan kesetiaanmu,” tandas Buyung.

“Kau kejam. Bahkan, lebih kejam dari yang kuduga. Kau lelaki satu-satunya yang terkejam, yang pernah kujumpai dalam hidup ini,” suara Irma gemetar. “Kita akhiri hubungan ini sampai di sini!”

“Ya, kisah kita memang harus berkahir. Ini yang terbaik untuk kita, untukmu, untukku. Tapi, sebelumnya aku mau tanya, sudahkah kau maafkan aku dengan semua kesalahan yang aku miliki?”

Irma hanya diam.

“Apakah kau tidak mau memaafkan aku?”

“Apa pentingnya maafku?” ketus Irma.

“Sangat penting bagiku. Jika kau tidak mau memaafkan aku, maka aku akan berdosa di hari akhir. Aku akan dikejar-kejar oleh dosaku kepadamu. Apakah kau akan tega melihat aku dikejar-kejar oleh dosa?” ucap Buyung setengah berharap.

“Daripada kau dikejar-kejar oleh dosa, aku memaafkanmu.”

Dalam hati, Buyung berujar, sungguh dia marah besar, hingga untuk memaafkan saja mesti pakai kata “daripada”. Tapi, apa boleh buat, aku harus membuat dia membenci aku, agar dia dengan mudah bisa melupakan aku.

Tak mau menunggu lama, Buyung minta izin pulang. Sengaja dia meniggalkan Irma seorang diri, agar bertambah-tambah benci Irma kepadanya.

***

Tiga hari sudah kejadian itu berlangsung. Buyung dan Irma yang selama ini selalu menghabiskan waktu bersama, kini tak lagi saling bertegur sapa. Saat itulah Buyung baru merasakan, betapa di hati kecilnya masih ingin melihat senyum Irma. Namun, dia juga sudah bertekad untuk tidak kembali bersama Irma. Ada sesuatu yang membuat dia harus melepas Irma, yang Irma tak pernah tahu itu. Kepada Yanti, teman dia yang juga sahabat Irma, Buyung bercerita.

“Aku terpaksa melepaskan Irma, Yan. Maafkan aku tidak mampu merawat cinta kami seperti mimpi yang kita cita-citakan dulu. Sungguh aku tak berniat menyakiti hatinya,” keluh Buyung suatu hari kepada Yanti.

“Sulit kupercaya kalian harus pisah, setelah enam tahun kalian selalu bersama. Aku tak tahu ini salah siapa,” ujar Yanti.

“Ini salahku. Jangan salahkah dia. Tapi, aku harus melakukannya. Kau kan tahu, keinginan Irma yang menginginkan kami secepatnya menikah. Aku belum mampu lakukan itu.”

“Iya, tapi alasan kau menolak itu apa?” tanya Yanti setengah kesal.

“Sulit kujelaskan dengan keadaanku yang sekarang ini, Yan,” suara Buyung melemah. Tapi, yang jelas aku telah menipu dia dan menipu hatiku sendiri di hari perpisahan kami.”

“Maksudmu?”

“Kukatakan padanya kalau selama ini aku tidak mencintai dia, meskipun kami selalu bersama, menghabiskan hari-hari berdua. Kukatakan padanya kalau aku masih ragu pada dia. Padahal, itu tidak sepenuhnya benar.”

“Lantas mengapa juga kau katakan itu?”

“Agar dia membenciku,” suara Buyung datar.

“Apa maksudmu?
“Agar dia membenciku,” ulang Buyung. “Dengan dia membenciku, maka dengan mudah dia akan melupkan aku bersama kenangan yang pernah kami lalui.”

“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu. Sekarang coba kau jawab, apakah kau sanggup melupakan dia?”

“Satu hal yang mesti kau ketehui, Yan, kami sudah pernah membuat jarak, bukan sekali dua, empat kali sudah kami lakukan. Setiap kami berjarak, kudapati kabar kalau dia tidak mampu jauh dariku. Dia selalu membutuhkan senyum dan candaku. Dia sendiri pernah mengatakan kepadaku, pisah denganku adalah kenyataan terpahit dalam hidupnya. Hampir saja dia meninggalkan kota ini demi untuk tidak lagi melihat wajahku. Semua itu karena dia merasa sangat tersiksa. Aku masih ingat pengakuannya itu. Makanya, tiga hari yang lalu, aku sengaja membuat dia sakit hati dengan kata-kataku agar dia benar-benar membenciku sehingga dengan mudah melupakan aku,” papar Buyung panjang lebar dengan mata berbinar.

“Kau belum jawab pertanyaanku, apakah kau bisa melupakan dia?”

Buyung diam.

“Kau munafiq, Yung. Kau sendiri sebenarnya tidak bisa melupakan dia, tapi kau minta dia melupakan dirimu dengan kata-kata bohongmu yang mengatakan masih ragu pada cintanya. Aku tahu, kau sangat mencintai dia. Kau bohong mengatakan tidak mencintai dia,” tandas Yanti.

“Yan, tolong mengerti. Jika kukatakan aku sangat mencintai dia, aku takut kehilangan dia, dia akan meminta aku segera menikahi dia. Bukan aku tidak mau, tapi aku belum siap sekarang. Daripada dia harus menunggu aku, sementara sebagai seorang perempuan, usianya sudah sangat matang untuk berumah tangga, lebih baik aku melepaskannya daripada dia harus menunggu aku yang belum pasti punya kesiapan kapan. Lagian, keluarganya juga sudah beberapa kali membawakan calon untuknya. Aku yakin itu calon yang terbaik yang dikenal keluarganya. Namun, dia selalu tentang keinginan keluarganya demi aku.”

“Apa alasanmu belum siap menikahi dia? Apakah sudah kau katakan padanya tentang kebelumsiapan dirimu?”

“Itu yang dia belum tahu.”

“Mengapa tak kau katakan?”
Buyung kembali terdiam.

“Apa alasanmu belum siap?” tanya Yanti mengulangi pertanyaannya.

“Jangan paksa aku mengatakannya.”

“Mengapa? Apa aku bukan sahabatmu sehingga berat bagimu untuk cerita?” paksa Yanti.

“Yan…”

“Ya sudah, jika memang kau tidak mau berterus terang kepadaku, untuk apa aku di sini,” ucap Yanti sambil beranjak.
“Yan, tunggu dulu. Keluargaku!” suara Buyung setengah berteriak. Yanti kembali duduk.

“Ada apa dengan keluargamu?” suara Yanti pelan.

“Kau kan tahu, orangtuaku masih sakit, yang sekarang masih berobat di kampung, sementara di tempat lain, aku juga memiliki seorang kakak dan adik, yang mereka sekarang dalam tanggunganku. Aku tidak mungkin berkata tentang nikah kepada orangtuaku di saat keadaan dia sekarang yang sedang sakit-sakitan.”

“Itulah kesalahanmu, tidak mau menjalin komunikasi dengan Irma. Kalau semuanya dibicarakan dia, kurasa dia akan mengerti dan akan sabar menunggu,” kata Yanti.

“Aku tak ingin membuat dia menunggu lagi, sementara kepastian itu belum pasti. Biarlah dia mencari yang lain. Lambat-laun semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya Tuhan itu ada, maka aku yakin semua ini gerak Tuhan.”

Yanti menarik napas. “Terserah kaulah. Kalau semuanya kau serahkan kepada Tuhan, ya… aku harus berkata apa, kecuali berdoa semoga diberikan yang terbaik untuk kalian.”

“Kita sama-sama mendoakan. Maafkan aku ya,” ucap Buyung lirih, hampir tidak terdengar. “Terima kasih sudah mengerti aku. Kau memang sahabat yang baik.”

“Dan kau sahabat yang aneh,” jawab Yanti setengah tersenyum. “Kau bisa membuat orang mencintaimu, dan aku tak menyangka kalau kau juga suka membuat orang membencimu. Aneh!”

Buyung tersenyum. Senyum yang kecut.

Unsyiah, April 2008

Cerpen ini dimuat di Harian Aceh, 26 April, atas nama Nur Rijal

Iklan

Filed under: Cerpen

2 Responses

  1. max berkata:

    tidak bagus, aku tidak suka dgn orang/ tokoh yg pikirannya sempit

  2. zaii berkata:

    http://teman-cintahatiku.blogspot.com akan membuat contest cerpen…apakah berminat untuk join? hadiah wang tunai menanti pemenang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: