Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ngon Meudawa

Cang Panah Herman RN

Bukon lé sayang si cicém pala

Putéh dada mirah gaki

Bahlé tanyoe seuréng peudong dawa

‘Oh ka meupisah peudéh han sakri

Namanya Miftah. Setiap hari, kami pasti bertengkar. Ada saja jalan untuk kami kami saling bersitegang. Kadang, dalam sebuah diskusi, urat leher kami “beradu panjang”, tampak tegang dan mata merah menyala. Ya, terutamanya mata dia. Setiap saya protes, saya perhatikan mata dia selalu merah. Bukan hanya ketika menatap saya, bahkan saat melihat ke arah teman-teman lain yang ada dalam diskusi.

Jika ingat hal-hal dawa-dawi dan mata melotot itu, sudah barang tentu kadang saya merasa jengkel kepada dia. Saya tahu, dia juga pasti pernah merasakan hal serupa, jengkel, kesal, marah, dan entah apa lagi, kepada saya.

“Ente itu cengeng! Banyak mengeluh!” ujarnya suatu hari, saat saya minta izin untuk tidak terlibat diskusi di kantor. Alasan saya, ada urusan penting. Tapi, dia tidak mau tahu. “Pokoknya Ente tidak ada izin dari saya untuk pergi,” tegasnya sebagai pimpinan.

Sering saya merasa tertekan batin, karena dilarang pergi oleh dia. Namun, apa hendak dikata, diskusi kami adalah diskusi untuk kebutuhan orang banyak, untuk kelangsungan kantor kami. Maka itu, sering pula saya membatalkan pergi ke suatu tempat atau pulang menjenguk kampung halaman, agar tidak meninggalkan kantor.

Lantas, kalau sudah begitu, kadang saya mulai merasa dibutuhkan oleh dia, oleh kantor, sebagai salah seorang bagian dari kantor kami. “Dia larang saya, berarti dia membutuhkan saya,” batin saya setiap dilarang pergi.

Namun, saat saya sudah pergi, lalu kami duduk diskusi demi kelangsungan kantor kami, eh.. dia malah marah-marah pada saya. Anehnya, saya sering menyangkal setiap tuduhan yang dilemparkan. Akhirnnya, kami pun sering adu dawa.

Saya tahu, saya sering salah dan bikin dia jengkel, namun suatu kali saya juga mendapati giliran dia yang salah. Saya langsung beri tahu dia. Tapi, dia menyangkal. “Itu bukan salah, tapi silap, namanya.”

Begitulah kami, saban hari pasti bertengkar, tapi hanya sekedar tengkar mulut. Tidak sampai menyentuh fisik. Apalagi, sampai main pelet seperti telpon pelet yang sedang gencar menakuti warga Indonesia saat ini.

Di hari yang lain, kesalahan dia kembali saya temukan. Sebenarnya sih sudah sering kesalahan dia serupa itu saya temukan. Tapi, dia tetap menampik, entah karena di hadapan teman-teman sekerja lainnya, atau karena dia merasa sebagai atasan, sehingga dia sabannya menampik dengan mengatakan, “Itu bukan salah saya. Saya kan ndak tahu kalau begitu yang benar. Wong saya ndak pernah dikasih tahu sebelumnya kok.”

Hati kecil saya tersenyum (entah bagaimana senyumnya saat itu). “Dasar! Tak mau mengalah,” batin saya kala itu. Namun, karena beberapa teman sekerja juga menyerang dia dengan segala bukti kesalahannya, lelaki bermata sipit itu akhirnya mau juga mengaku kalau yang dia lakukan adalah salah. Hanya saja, dia masih berusaha mencari jalan untuk tidak kalah mutlak dengan kesalahan yang dia miliki. Dia tetap meudawa.

“Seharusnya saya kan dikasih dahulu,” ucapnya berusaha membela diri. Intinya, harus ada dawa-dawi dahulu, baru dia mau mengakui kesalahannya, yang menurut dia bukan kesalahan, melainkan kesilapan.

Aneh saya pikir. Biasanya yang suka peudong dawa sampai mirah mata seperti itu orang Aceh, sehingga ada pemeo yang mengatakan ureueng Aceh, bèk keu talô, seuri han jitém. Nah, teman saya ini orang Jawa. Tapi, dia juga kuat meudawa. Terbantahlah pepatah yang mengatakan Cina peusingèt céng, kléng tukang puta, Arab koh kreh, Aceh peudong dawa. Kenyataannya, teman saya yang bukan orang Aceh itu juga teuga meudawa.

Ah, sudahlah tentang cerita bersitegang itu. Hari ini dia akan meninggalkan kami–saya dan teman-teman sekerja lainnya. Dia akan kembali ke kampung halamannnya. Semula saya kira, dia akan tersenyum meninggalkan kami, karena tidak ada lagi yang akan membantah setiap pendapat dia. Karena tidak ada lagi yang akan mendakwa dia. Saya kira dia akan bahagia, karena saya, orang yang selalu peudong dawa dengan dia, orang yang selalu membuat dia kesal, akan ditinggalkannnya.

Lagi-lagi saya salah. Tadi malam, saya sempat melihat matanya berkaca-kaca mengucapkan kata perpisahan kepada kami di kantor. Lalu, saya mendengar suara paraunya berujar, “Berat rasanya saya meniggalkan kawan-kawan di sini, meskipun selama ini saya sering bertengkar dengan teman-teman.”

Sungguh, saya merasakan ucapan itu ikhlas dia utarakan. Saya terenyuh. Ternyata, kebisaan kami meudawa membuat dia sedih untuk berpisah sehingga dia masih memperlihatkan gelagat berat langkah meninggalkan lantai tiga kantor kami.

“Ah, ini kan bukan pisah selama-selamanya, kita masih bisa ‘kontak’ kok,” ucap saya, mencoba mendinginkan suasana. Namun, dalam hati, saya juga sedih, tak ada lagi teman meudawa seperti dia. Dia saya anggap teman yang paling berani dan lancang mendakwa dan mengkritik saya, sementara teman-teman lain, sering beranggapan semua teori dan logika yang saya keluarkan benar sehingga ‘tidak berani’ mendakwanya. Mungkin, ini yang membuat saya merasa kehilangan dia.

Lam udép tameusaré; lam meuglé tameubila; Lam lampôh tameutulông alang, lam meublang tameusyedara, bahkeu tanyoe seuréng meudawa. Kiban, Teungku?

Nang jero urep kito bareng; di saate perang podo mbelo; nang kebon kito podo cekel tangan; nang jero ati kito podo dolore, walau kito podo cekcok omongan. Piye, Mas?

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: