Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

“Tak” di Serambi

Oleh Herman RN

Sejak zaman dahulu kita sudah diberitahukan bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Dalam istilah Bagiono Jokosumbogo, Staf Senior Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Sekretariat Jenderal, Depdiknas RI, bahasa merupakah wahana komunikasi. Definisi tersebut tidak jauh berbeda dengan definisi yang dikemukakan H.G. Tarigan bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Sebab, dalam kehidupan ini, hampir tidak ada interaksi yang dilakukan manusia terlepas dari tindak bahasa.

Karena itu, penting kiranya kita mengetahui kesalahan berbahasa yang dilakukan sejumlah orang selama ini. Apalagi, kesalahan itu dilakukan oleh media cetak serupa koran harian—dalam hal ini, kesalahan penulisan ejaan.

Koran harian tentunya menyapa segenap masyarakat pembaca di tempat koran itu terbit setiap harinya. Pembaca koran bukan hanya kaum inteleketual, akedimisi, dan pejabat. Koran juga dibaca oleh orang-orang tua di kampung-kampung, yang kerjanya sehari-hari kadang menanam tomat, cabai, dan kopi. Apalagi di Aceh, hampir setiap warung kopi di Aceh dipenuhi orang-orang yang baca koran sembari menikmati kopi atau makanan ringan lainnya. Bahkan, seorang teman pernah menuturkan “Belum enak kalau belum baca koran.”

Koran sebagai media cetak tentunya mempunyai peranan dan pengaruh besar dalam hal ejaan bahasa. Cenderung orang meniru penulisan di koran, dengan alasan, “Koran saja menulisnya begitu, saya kan ikut yang ditulis koran”. Hal ini menunjukkan seolah apa yang ditulis di koran adalah ejaan yang benar. Secara sederhananya, koran dan sejenis media cetak lainnya menjadi sekolah praktis bagi masyarakat dalam mengembangkan pola kebahasaannya. Namun, sayangnya koran sering mengabaikan kaidah bahasa yang sudah ditetapkan sesuai standar ejaan bahasa Indonesia sekarang ini, yakni Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Penggunaan tanda baca memang sudah sering diabaikan oleh koran dengan tujuan agar tidak “semak” mata pembaca. Misalnya, pada penggunaan tanda titik dan koma di gelar dan pangkat seseorang. drh. Irwandi Yusuf sering ditulis drh Irwandi Yusuf. Muhammad Nazar, S.Ag. sering ditulis Muhammad Nazar SAg. Dr. Darni M. Daud, M.A, sering ditulis Dr Darni M Daud MA. Intinya, penggunaan tanda baca seperti tanda titik dan koma sering diabaikan. Tentang hal ini, koran tidak dapat dipersalahakan, karena mereka juga mempunyai tujuan dan stile sendiri, yakni demi keindahan laman koran, tidak terkesan semak dengan beragam tanda baca.

Terlepas dari penggunaan tanda baca yang sering diabaikan koran, patut juga kita kaji tentang penggunaan kosa katanya, terutama pada judul berita. Seperti yang saya katakan di atas, koran cenderung dijadikan sekolah praktis oleh masyarakat sehingga banyak kata atau ejaan penulisan di koran ditiru oleh masyarakat. Maka teramat sayang, jika sebuah koran yang dianggap sebagai representatif masyarakat di suatu tempat/daerah, tetapi koran itu banyak terdapat kesalahan bahasanya. Kesalahan yang sangat mengganggu bukan pada stile koran, melainkan pada ketidakpahaman awak koran—dalam hal ini redaktur/editornya—yang barangkali belum paham terhadap bahasa.

Untuk itu, dalam coretan singkat ini saya mencoba hendak menyampaikan beberapa kesalahan penulisan kata yang sering terjadi pada judul koran ini, Harian Serambi Indonesia. Saya ambil contoh kasus di judul, karena judul merupakan kata/frasa/kalimat yang pertama sekali dibaca pembaca sebelum membaca isi berita. Apalagi, pada judul headline-nya di halaman depan. Saya sendiri sebagai salah satu pembaca sering asék-asék ulèe, lantas berdecak lidah saat menjumpai kesalahan penulisan kata (ejaan) pada judul berita di koran-koran.

“Salah” tentu saja beda dengan kata “Silap”. Jika silap digunakan orang untuk mengungkapkan kealpaan atau kelupaan. Secara sederhana katakan saja, “silap” adalah kesalahan yang tidak disengaja. Namun, “salah” adalah sesuatu hal yang memang tidak diketahui oleh si pelaku. Pengertian ini dalam hal kebahasaan, bukan dari segi hukum. Kesalahan dari segi hukum, si pelaku bisa jadi sudah tahu itu perbuatan salah, tetapi dia tetap melakukan juga dengan berbagai alasan. Kesalahan dari bidang hukum, biar dibicarakan oleh yang berkapasitas di situ. Saya hanya mengkaji kata “salah” dari tinjauan perlakuan terhadap bahasa saja.

Kembali pada persolan judul di Harian ini. Kata yang sering saya dapati sebagai sebuah kesalahan adalah penulisan “Tak” dan “Tidak”. Sebenarnya, persoalan serupa juga terdapat di koran lain terbitan Aceh, dan sejumlah media cetak lainnya yang baru saja menyapa pembaca di Aceh. “Tak” pada judul beritanya sering saya jumpai ditulis dengan huruf kecil. Padahal, dalam tatatulis huruf kapital sesuai EYD, salah satunya disebutkan bahwa huruf kapital digunakan pada setiap awal kata penulisan judul. Namun demikian, ada pengecualian, yakni jika kata tersebut berupa konjungsi atau kata depan. Konjungsi atau kata depan tidak menggunakan huruf kapital, meskipun pada judul, sedangkan “Tak” dan “Tidak” bukan berupa konjungsi, bukan pula berupa preposisi. Karena itu, kata “Tak” yang ditulis dengan huruf kecil pada judul adalah sebuah kesalahan. Hal ini sering saya dapati pada judul-judul berita di Serambi, bahkan pernah pada judul headline halaman satu.

Semula saya mengira itu adalah kesilapan penulisan, namun saat saya dapati setiap hari ada penulisan “Tak” yang belakangan diikuti pula dengan kata “Tidak” dan “Bukan” ditulis dengan huruf kecil, saya mulai beranggapan itu bukan kesilapan, melainkan memang sebuah kesalahan. Berikut ini beberapa judul kata “Tak” ditulis dengan huruf kecil di Harian Serambi. 1. RAPBA 2008 Makin tak Rasional (edisi 5 Mei 2008, headline halaman satu). 2. Belasan Rumah Diterjang Ombak, Emat Roboh, Nelayan tak Melaut (edisi 5 Mei 2008, halaman satu). 3. Pidie tak Sedia Dana untuk Parlok (edisi 5 Mei 2008, halaman dua). 4. Uang Ditarik, Laptop Dewan tak Terealisasi (edisi 6 Mei 2008, halaman satu). 5. UN SMP Lancar, Ratusan Siswa tak Hadir (edisi 6 Mei 2008, halaman 21).

Saya kira lima poin di atas cukup menggambarkan kesalahan penulisan “Tak” pada judul berita Harian ini. Karena “Tak” bukan merupakan konjungsi atau preposisi, seyogianya ditulis dengan huruf kapital, jika pada judul. Tentu saja tanpa menapikan kesalahan berbahasa dalam bentuk lain di koran-koran, kasus serupa ini kita harapkan dapat diperbaiki perlahan-lahan oleh koran apa pun, sebab koran merupakan sekolah alternatif dan praktis bagi masyarakat, mulai dari penanam tomat hingga pembuat pesawat. Karenanya, pentingnya kiranya media seperti koran memakai ahli bahasa untuk editing bahasanya seperti yang sudah dilakukan koran-koran besar di Jakarta. Semua demi bahasa kita. Tingkap papan kayu persegi, riga-riga di pulau angsa; indah tampan karena budi, tinggi bangsa karena bahasa.

\

Penulis, Alumnus Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) Unsyiah

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: