Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pancuri

Oleh Herman RN

Pancuri u sireungkeut bak ulèe

Pancuri teubèe meubulèe dada

Pancuri manok mata lam parék

Pancuri iték mata lam paya

Pancuri pisang meugeutah bak jaroe

Pancuri kayee hai adoe pat tatanda?

Zaman dahulu, ada cerita pencuri tujuh, yang dalam bahasa Aceh dikatakan dengan pancuri tujôh. Bukan karena jumlahnya tujuh orang, jumlah ini bisa lebih bisa pula kurang. Namun, karena kelihaiannya dalam melakoni aksi curi-mencuri, gelar pancuri tujôh pun disematkan.

Ada pula yang mengatakan, dinamakan pancuri tujôh, sebab dia melakukan aksi nibak malam tujôh (tujuh hari setelah orang meniggal). Konon, saat orang-orang lazat berzikir, bertahmid, berdoa, dan mengaji, pada malam takziah ketujuh di rumah orang meninggal, saat itulah sekelompok manusia nakal menjalankan aksinya. Saat orang-orang kampung melayat tujuh hari kematian tetangganya, tentunya rumah-rumah penduduk sekitar sepi, bahkan ada yang sama sekali tak berpenghuni. Nah, saat itulah pancuri menunaikan niatnya. Oleh karena kejadian serupa sering terjadi, timbullah embel-embel dalam masyarakat yang mengatakan pancuri tujôh. Walakhir, sesiapa yang berhasil menipu orang dengan sukses, dia pun dijuluki sebagai pancuri tujôh.

Terlepas dari benar-tidaknya kisah itu, yang jelas, perlakukan pencurian pada umumnya merugikan orang lain. Kendati ada alasan mencuri pada yang kaya untuk diberikan pada si miskin, yang namanya mencuri tetaplah mengambil punya orang, dan berimbas pada ada yang dirugikan.

Karena itu, semua agama di muka bumi ini melarang perbuatan curi. Hanya saja, meski sudah dilarang, tetap ada juga yang melakukannya. Imbasnya, jika dari segi agama adalah dosa, dari segi kehidupan bermasyarakat, pencuri akan mendapat hukum alam. Apa pun jenis hukuman yang diberikan, mulai dari ejekan, penjara, hingga potong tangan, yang tidak enak dan paling besar diemban pencuri adalah rasa malu bila ketahuan.

Jika malu sudah merambah pada diri seseorang, dirinya akan merasa hina sehingga malu menjadi aib yang mestinya sangat ditakuti dan dihindari. Dalam kearifan ureueng Aceh sendiri dikatakan, meunyoe ka malee ngoen ureueng donya, geutanyoe hina dalam nanggroe; bèk malee ngoen ureueng donya, pike beuawai bèk meunyeusai dudoe.

Kendati itu sudah jelas nisabnya di dunia, tak dapat dipungkiri, mencuri masih ada yang melakukannya. Anehnya, perkara mencuri di negeri ini ada yang tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi seperti yang dilakukan pancuri tujôh. Pencuri sekarang ada yang terang-terangan mengatakan dirinya sebagai pencuri. Misal saja mencuri hati seseorang. Dengan gamblang dan terus terang, seorang pencuri hati akan mengaku dirinya mencuri hati seseoarang yang dia sukai.

Kemudian ada lagi mencuri yang berterus terang, yakni mencuri hutan. Alih-alih tak ada pekerjaan, kayu di hutan jadi sasaran. “Harta alam, harta Tuhan, maka jadi harta bersama.” Demikianlah kesannya.

Ironisnya, ada yang melakukan pencurian kayu ini oleh pejabat atau orang berpangkat. Paling tidak, orang berpangkat tadi menjadi beking terhadap pencurian kayu. Ah, yang ini bukan sekadar celoteh, bisa ditemukan di media-media kampong kita. Betapa banyak kasus pencurian yang terungkap, ternyata ada yang mendalangi.

Alangkah naif lagi, ketika yang dipercaya menjaga keamanan atau menjaga hutan, ikut ‘bermain’ di belakang pencurian kayu tersebut. Semestinya, sudah ada harta sendiri, mengapa harus diambil harta negeri. Orang Aceh bilang, meunyoe ka na gapeuh panjoe, kepeu tabloe gapeuh rubékta; meunyoe ka na hareuta keudroe, kepeu ata nanggroe gata raba. Kan demikian?

Ah, agaknya hadih maja itu hanya jargon. Terbukti, kata media massa, masih banyak terjadi kasus pencurian kayu. Karena pencurian kayu ini ada yang mendalangi, sulit untuk mencari bukti. Sederhananya, sulit mencari tanda siapa yang mencuri kayu. Kalau yang mencuri kelapa dapat ditanda tali alat pemanjatnya, pencuri tebu katanya berbulu di dada, pencuri ayam dikatakan mata jelalatan dalam parit, sedangkan pencuri bebek matanya selalu memandang ke sawah. Selanjutnya, pencuri pisang bergetah tangan, pencuri kayu di mana tandanya?

Nah, inilah yang dikatakan ureueng Aceh dengan pancuri u sireungkeut bak ulèe; pancuri teubèe meubulèe dada; pancuri manok mata lam parék; pancuri iték mata lam paya; pancuri pisang meugeutah bak jaroe; pancuri kayee hai adoe pat tatanda?

Alahai Teungku, hom hai…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: