Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kadang-kadang Aku Melihatnya

Cerpen Herman RN

Kadang-kadang aku melihatnya. Di tekongan jalan itu ia berdiri dengan kocak. Setiap mobil yang lewat pasti berhenti dan mengulurkan sesuatu ke tangannya. Sudah pasti itu uang. Terkadang mobil yang melintas di depannya itu hanya melemparkan uang lembaran seribuan begitu saja, bagai memberi umpan pada anak ayam. Meskipun hal itu terjadi berulang-ulang, lelaki yang kutaksir berumur 40-an itu tetap memungut recehan yang dilempar di hadapannya. Ada juga pecahan lima ratusan.

Hari ini aku melihatnya lagi masih di tempat yang sama. Hari ini ia lebih tua dari kemarin. Semakin jelas kelihatan kalau ia seorang bapak-bapak. Tapi, ia memiliki postur yang kekar dan tegap layaknya seorang atletis. Dengan kaos kelinci putih dan topi pet hitam serta jeans donker yang ia kenakan, selintas ia mirip seorang aparat keamanan. Ia masih berdiri di tempat itu menanti setiap mobil yang lewat dan menahannya. Aku tahu ia bukan aparat polisi yang sedang melakukan sweeping. Lantas, apa yang sedang ia kerjakan di tekongan itu?

Kuseret langkah mendekatinya hati-hati. Bapak itu menyadari kehadiranku yang diam-diam. Dia menoleh, sepontan mata kami beradu. Kelihatan olehku kumisnya yang melintang bagai sungut naga yang akan menjamahku. Rasa takut mengaliri darahku. Lama kami beradu pandang, saat itu aku merasakan sesuatu pada tatapannya. Jantungku bergetar. Tak bergeming, ia mengalihkan pandangannya dan tergesa meninggalkanku begitu saja.

Aneh! Dari tempatku berdiri aku masih dapat melihat beberapa lembar uang ribuan yang sepertinya tak sempat ia pungut karena kehadiranku.

Setelah kejadian itu aku tidak melihatnya lagi, sudah dua hari. Ada apa dengan dia? Sakitkah? Pada hari ketiga aku baru dapat melihatnya kembali di tempat yang sama. Entah mengapa aku sangat ingin melihatnya dari dekat bagai dua hari lalu. Ada sesuatu yang ganjil pada pandangannya hari itu.

Aku mulai mendekat, hanya beberapa meter dari tempat Bapak itu. Rasa takut dan was-was kembali menyelimuti sekujur tubuhku. Aliran darahku serasa tersendat, jantungku berdetak cepat bagai suara gendang. Beberapa langkah lagi aku dapat menjangkaunya. Ia menyadari kehadiranku lagi. Bapak itu menoleh sekejap dan kembali tergesa meninggalkanku. Aneh! Sudah dua kali aku menemuinya, tapi ia selau meninggalkanku tanpa satu kata pun.

“Hei…!” Ia keburu menghilang sebelum selesai kalimatku.

Aku terus diliputi berbagai rasa, rasa penasaran, ingin tahu, dan entah rasa apa lagi yang memaksa aku untuk terus menyelidiki gerangan dirinya. Sesungguhnya aku sendiri tak mengerti, daya tarik apa yang membuat aku begitu penasaran terhadapnya. Akhirnya, tekongan itu jadi tempat mangkalku setiap pagi, demi menanti seorang pria aneh.

Matanya… ya, mata itu, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana? Kapan? Mimpi? Apakah dia yang hadir dalam mimpiku selama ini? Oh Tuhan… kenapa aku bernafsu sekali mengenalnya, benarkah ia yang hadir dalam mimpiku akhir-akhir ini?

Pagi ini aku kembali ke tekongan itu. Harapanku hari ini berhasil memegang tangannya, memeluknya erat dalam dekapanku dan membawanya pulang ke rumahku, dan…dan… Ah! Tidak! Apa-apaan aku ini? Kenapa aku harus menghayal untuknya, memangnya siapa dia? Kalau saja ia adalah mimpiku selama ini…

Masih dari tempat persembunyianku, mataku tak berkedip pada tekongan itu. Aku tak ingin melewatinya sepejam jua. Tepat, aku melihanya juga di tekongan itu, masih dengan pakaian yang kemarin. Sejak pertama aku melihatnya, pakaiannya tak pernah berganti, begitu mudah menandainya. Dia duduk di atas batu kilometer dan mengeluarkan sesuatu dari balik celana jeansnya. Ternyata rokok.

Bapak itu mulai mengeluarkan rokoknya sebatang, meletakkan di bibirnya yang tebal itu. Aku masih mengamatinya. Bisa kurasakan nikmatnya rokok itu. Ia menariknya dalam-dalam, lalu menghempaskan asapnya keluar. Hanya sedikit asap yang keluar. Pasti ia menelannya, nikmat sekali. Berulang-ulang ia lakukan itu. Tapi, mengapa ia membiarkan mobil-mobil itu lewat? Bukankah biasanya ia menyetop setiap mobil yang tidak melemparkan uang? Uang yang dilemparkan satu dua mobil pun ia biarkan begitu saja di terbang angin. Ia tak memungutnya. Ada apa gerangan? Sakitkah?

Aku mencoba mendekat, sangat hati-hati, lebih was-was dari kemarin. Aku tak ingin gagal untuk kesekian kalinya. Dari jarak sedekat sekarang ini, aku dapat melihatnya dengan jelas. Ternyata pandangannya kosong. Ia memang menatap ke depan, tapi sangat jauh. Seolah-olah tak ada rumput di hadapannya, tak ada mobil yang lewat, sangat jauh tatapannya. Dia juga seakan tak merasakan hembusan angin yang sejuk dipagi itu hingga ia tak menyadari kehadiranku yang hanya tinggal beberapa langkah dari sampingnya.

Aku semakin dekat. Aku mulai mencium sesuatu. Seperti bau buah pinang masak. Hidungku mulai menangkap bau itu, tapi kulihat ia tak merasakan apa-apa. Seperti batu yang didudukinya, ia masih diam, kecuali tangannya yang bergerak turun naik menyulut rokok. Saat itulah aku melihat kejanggalan pada jari-jari kirinya. Telunjuk kiri lelaki itu tidak sempurna, buntung.

Semakin dekat, aku semakin gemetar, apalagi setelah melihat telunjuknya. “Oh, tidak!” batinku. Bau pinang masak, telunjuk itu, aku seperti pernah mengalaminya, tapi di mana? Apakah aku bermimpi? Aku semakin mendekat. Pandanganku menyapu sekujur tubuhnya. Dari sisinya, sekarang aku sangat jelas mendapatkan wajahnya. Semacam ada bekas sayatan kecil-kecil di pipi lelaki itu.

Pandanganku mulai kabur, perlahan kurasakan ada hangat yang mengaliri pipiku. Aku membiarkan air itu mengalir. Pandanganku masih pada sosok di hadapanku. Aku pun hanyut menatapnya, seolah tak kurasakan apa-apa lagi, seakan tak kudengar lagi deru mesin mobil yang lewat, kecuali angin, kecuali napasku yang terisak dan napas lelaki itu. Kecuali detak jantungku yang berpacu dengan detak jantungnya.

Lelaki itu menyadari kedatanganku. Mungkin karena isakku yang yang semakin deras dari balik dada. Ia menoleh ke arahku, terkejut, tapi ia tak meninggalkanku seperti kemarin. Dia membatu di tempatnya, dan mata kami saling menyelidik arti tatapan masing-masing. Aku melihat ada kerinduan di matanya yang juga mulai bening mengandung air. Entah siapa yang memerintah, entah siapa yang memulai, kami telah menyatu dalam dekapan. Ia memelukku sangat erat, begitu juga aku. Napas kami saling berburu seperti dikejar binatang buas, tersengal-sengal, akhirnya tangis pun pecah. Air mata tak dapat dibendung lagi. Aku seperti mendapatkan buah yang telah lama kuidam-idamkan, buah rindu bertahun.

Dalam pelukan itu semakin tercium olehku bau pinang masak, semakin menyengat hidungku. Aku sangat kenal bau itu. Aku yakin bau itu bersumber dari tubuh dalam pelukan ini. Bibirku gemetar, dan mengeluarkan sebuah kata yang telah lama tak pernah terucap, “Ayah!” Lalu aku kembali terisak.

Tiba-tiba lelaki itu melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah. Ia masih menatapku dengan sisa isak yang tertinggal.

“Ayah…!” ulangku sekali lagi. Kulihat lelaki itu menghentikan tangisnya secara paksa.

“Aku bukan ayahmu!” Suaranya gembur sambil membalikan badan.

“Ayah..”

“Aku bukan ayahmu!”

“Ayah! Kau ayahku, jangan bohong.”

“Sudah kubilang aku bukan ayahmu!” suara lelaki itu semakin tinggi.

“Ayah!” ucapku tak kalah tinggi. “Pandang aku!”

Ia menatapku. “Lihat! Mata ayah tak dapat bohong. Lihat mataku juga ayah,” suaraku agak merendah. Ia menundukkan pandangannya.

“Aku bukan ayahmu, kau salah orang,” ucapnya datar.

“Bau pinang masak pada tubuhmu itu buktinya. Bukankah kita sering tidur-tiduran melepas lelah di kulit pinang yang selesai kita kupas waktu kecilku dulu? Kita sering bercanda disitu, di buah pinang yang kita jemur bersama untuk mencari makan sehari-hari sebelum ayah bilang, ‘ayah akan ke gunung mencari kayu untuk dijual karena tak ada lagi pinang yang tua.’ Dan tangan ini… Lihat jarimu ini!.”

Aku mengangkat tangan kirinya. “Apakah kau mau bilang kalau tangan ini bukan karena tersayat akibat mengupas pinang ketika kita keasyikan bercanda?”

Lelaki itu hanya diam, ia menyentakkan tangannya dari peganganku.

“Jika memang kau bukan ayahku, mengapa kau peluk aku? Mengapa kau lari saat pertama kali melihatku? Kenapa kau harus menangis saat memelukku? Kenapa…?” Aku mulai terisak lagi.

Lelaki itu masih diam. Ia terduduk lemas menundukkan pandangannya. Dari balik pandanganya aku dapat melihat setetes air jatuh membelai lembut ilalang tempatnya berpijak. Aku jongkok di depannya. “Ayah, jangan tinggalkan aku lagi. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mencari seorang ayah. Meski mereka katakan ayah telah tiada, aku yakin ayah akan kembali. Makanya aku terus mencari. Setiap terjadi kecelakaan, letusan bom, kebakaran, kontak senjata, aku datangi tempat itu, berharap dapat kutemui ayah di sana. Jika ada kabar ditemukan sesosok mayat, juga aku datangi tempat itu untuk meyakinkan diriku. Dan aku semakin yakin ayah akan kembali ketika tidak kutemui ayah di sana. Apa lagi akhir-akhir ini ayah selalu datang dalam mimpiku dan berkata akan menemuiku. Keyakinanku yang begitu panjang kini terjawab. Kumohon ayah, jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak punya siapa-siapa lagi setelah kepergian ibu.”

“Aku bukan ayahmu lagi,” ucapnya dengan suara agak tertahan. “A..aku tak pantas kau sebut ayah. Aku pemeras, aku yang disebut orang komplotan teroris dan selalu dikejar-kejar pihak keamanan. Dan karena ulahku, mereka membunuh ibumu. A..aku teroris. Apa pantas aku dipaggil ayah?”

“Tidak… Itu semua tidak benar. Ayah dijebak orang, ditipu. Yang membunuh ibu adalah orang-orang buta yang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Hukum negeri ini memang buta. Ayah tidak salah. Kembalilah ayah!”

“Apakah kau mau menerima seorang lelaki yang melakukan pungutan liar di tepi jalan seperti ini sebagai ayahmu,” isak lelaki semakin menjadi.

Aku mencoba menyabarkannya. “Ayah, sudahlah, alam yang membuatmu begini. Mari kembali ke rumah kita. Tak ada lagi perang di kampung kita, semua sudah berubah, sudah aman. Banjir pun telah surut. Kampung kita telah bersih kembali, Ayah.”

Sejak pertemuan itu, ayah berhasil kubujuk pulang ke rumah kami. Tapi kini ia pergi lagi, pergi untuk selama-lamanya. Ayah belum sanggup menerima kenyataan, ia shock, dan minggu kemarin ia menghembuskan napas terakhirnya. Setiap aku ingat ayah, aku pasti ke tekongan itu, tekongan pertemuan itu, tempat ayah biasa melakukan kitipan uang pada kendaraan secara liar. Di sana aku masih dapat melihat bayang ayah.

***

Herman R.N, Lahir, U.Pasir, 20 April 1983

Alumnus Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah.

Pegiat kebudayaan di Teater Nol Banda Aceh.

Iklan

Filed under: Cerpen

8 Responses

  1. Idris berkata:

    Salam Luar Bisa…
    Menarik sekali cerpennya… menyentuh & menghanyutkan bagaikan………. hehe…. ada aja… Selamat Berkarya ya Sobat.;)

    dto: idris_abdya
    http://www.idrisalabdya.wordpress.com

  2. Zubir Agani berkata:

    Gila. saya ikut gila setelah membaca. gila untuk bisa seperti Herman RN. buanglah gila itu sedikit untukku. berharap esok akan ada orang-orang yang gila sepertimu. aku salah satu yang mau gila…

  3. lidahtinta berkata:

    Zubir, semua manusia memiliki sifat gila, tinggal kita menemukan dan mengaplikasikannya.. hehehe

  4. MaNaryn berkata:

    Wah…cerpennya cakep euy.ajarin bikin cerpen dong.

  5. joel berkata:

    lon baca cerpen droen bahasa jih cukop ringan.
    kiban kita tatuleh cerpen bang.
    lon seureng meurunoe tuleh cerpen. tapi terkendala bak pengaturan bahasa.
    tulonglah bang solusi jih.

  6. lidahtinta berkata:

    watee neuteumuleh, bek neupike lagak dilee, bek neupike meuno kucang, meudeh kutak. Tapi, tuleh laju. edit enteuk, watee kaleuh tulesan. ok???

  7. miftahi berkata:

    salam sukses buat semua ……

    bagus ya tulisannya blog ya penuh inspirasi

    aku punya yel yel buat shobat semua …..
    aku mau ….aku bisa
    aku mampu luar biasa

    saya orang sukses
    saya orang sukses
    saya orang sukses
    andalah saksinya

    kunjungi blog saya jg ya http://www.putrigayo.blogspot.com

  8. aneuk Unmuha berkata:

    rumoehlensa.wordpress.com
    ci neukoreksi siat tulesan kamoe diblog nyan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: