Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Penghargaan untuk Sastra Masih Bobrok

(Dimuat di Harian Aceh dalam dua edisi)

Oleh Herman RN

Masalah pemberian penghargaan terhadap hasil karya sastra, sejak dahulu sampai sekarang masih rendah. Bahkan, ada yang menilai penghargaan bagi penghasil karya dan karya itu sendiri semakin lama semakin kacau.

Ribut-ribut penghargaan terhadap karya sastra kembali mencuat baru-baru ini dalam pemberian penghargaan pemartabatan sastra dari Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). Ribut itu muncul ketika penghargaan diberikan kepada Ayu Utami—pengarang novel Saman. Salah seorang alumnus program penulisan mastera, Wowok Hesti Prabowo, menyatakan ketidaksetujuannya atas pemberian penghargaan Mastera kepada Ayu Utami (Republika, 18 Mei 2007). Penilaian Hesti menunjukkan bahwa yang duduk sebagai juri tidak memahami benar tentang sebuah penghargaan sastra.

Namun, sudahlah, ribut-ribut sastra di tingkat nasional itu biar menjadi pembicaran mereka di sana. Tulisan ini sekedar menceritakan penghargaan terhadap sastra dan pegiatnya di kampong kita: Aceh. Hanya di Aceh.

Sebenarnya, sejak dahulu, penghargaan sastra di Aceh boleh dikatakan sangat-sangat kurang. Kendati pascatsunami banyak muncul nama-nama baru, karya-karya baru, dan sejumlah sanggar kesenian mulai menjamur di Tanah Rencong ini, kepedulian pihak pemberi bantuan, baik pemerintah maupun LSM, masih dikeluhkan. Banyak komunitas-komunitas budaya yang bergerak di bidang pertunjukkan, penulisan atau penerbitan misalnya, mengeluh saat mencari bantuan untuk mempublikasikan hasil cipta, karya, dan karsa mereka. Ironisnya, ketika yang mencari bantuan itu atas nama olahraga, bantuan mengalir cepat serupa air dari mulut kran yang baru dibuka. Hal-hal serupa ini terus menjadi perbincangan, mulai dari warung-warung kopi, sampai ke bawah pohon kupila Taman Budaya Aceh, hingga dibawa ke forum-forum kecil sejumlah lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan di Aceh menjadi sebuah diskusi rutin sore hari.

Saya sendiri pernah menghadiri diskusi sore di Taman Budaya pertengahan tahun 2007 lalu. Sejumlah seniman duduk beralaskan rumput hijau di samping kantin Taman Budaya. Di sana, mereka mendiskusikan “kelanjutan dan keberlangsungan” kesenian (juga sastra) di Aceh. Inti pembicaraan beberapa seniman kala itu adalah penghargaan pemerintah terhadap seni dan sastra di Aceh masih rendah. Diskusi di bawah pohon kupila seperti itu sebenarnya sudah sering dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Kejadiannya tetap sama, paling bertahan satu-dua bulan, lalu masing-masing mencari lahan sendiri. Alasannya juga sama, “Seniman; sastrawan, juga butuh isi perut.”

Saya tidak menyalahkan pendapat itu, karena memang benar yang dia katakan bahwa seniman juga memiliki perut, karena seniman adalah manusia, bukan robot. Hanya saja, alangkah baiknya tidak meletakkan perut di depan dalam berkarya.

Namun demikian, perlu kita simak pembicaraan masalah “perut” tersebut. Jika seorang atlet telah berhasil membawa nama daerah keluar, entah tingkat nasional atau internasional, ia akan mendapatkan penghargaan besar dari pemerintah, mungkin serupa beasiswa. Bahkan, ketika seorang atlet sedang dipersiapkan untuk pertandingan sesuatu, mereka akan mendapat honor selama latihan yang memang ada alokasi dana pemerintah untuk itu. Lalu, sepulangnya dari pertandingan, juga akan mendapatkan insentif. Pertanyaannya, adakah alokasi dana pemerintah untuk sanggar-sanggar kesenian? Adakah alokasi dana pemerintah untuk komunitas kebudayaan yang sedang membimbing anak-anak Aceh melahirkan karya?

Bukan bermaksud membanding-bandingkan antara penghasil karya sastra dengan atlet olahraga. Sekedar mengingat, hampir setiap ada acara pemerintahan atau acara-acara pertemuan lainnya, yang diminta mempertunjukkan kebolehan kepada hadirin adalah pertunjukkan kesenian atau kesastraan. Tidak diminta seorang atlet bola tampil ke depan memperlihatkan kebolehannya dalam menendang bola, atau seorang atlet renang untuk menunjukkan gaya dada, atau seorang atlet senam untuk berjoget ria, atau seorang atletik untuk meraton, atau seorang atlet lempar lembing untuk menombak. Namun, yang diminta adalah pertunjukkan tari, vokal, musik, atau yang sangat mudah seperti pembacaan puisi. Orang-orang yang memiliki keahlian seperti ini yang diminta maju ke depan menghibur hadirin.

Entah karena kata-kata “menghibur” ini pula, kesannya penghargaan terhadap kesenian dan kesastraan hanya sebatas penghibur: dibayar hanya sewaktu menghibur, setelah itu ‘ditelantarkan’.

Ada pula kesan bahwa sastra atau seni dapat dilakukan oleh siapa saja dan bagaimana suka. Singkatnya, asal ada sudah jadi. Misal, diminta tampil membaca puisi dalam sebuah acara seremonial. Secara dadakan, seseorang boleh diminta membacakan puisi. “Pokoknya baca saja, asal ada saja, biar ada hiburan sedikit, sudah jadi,” begitulah yang sering kita dengar seolah-olah karya sastra itu asal ada saja.

Anggapan seperti ini juga berlaku dalam sebuah even perlombaan. Jika lomba bola voli atau bole kaki, orang akan berpikir bagaimana mempersiapkan timnya sebaik mungkin agar tidak malu atau memalukan. Akan tetapi, untuk lomba baca puisi atau cerpen, kembali kepada kata “pokonya” tadi. “Pokonya ada yang ikut mewakili, sudah jadi.”

Bobroknya penghargaan terhadap karya sastra dan penghasil karya sastra semakin menjadi hingga saat ini. Hal ini terus merambah kepada pembuat acara untuk sastra yang diperlombakan.

Saya misalkan, dari beberapa kasus yang baru saja lewat. Pertama, ingatan kita pasti masih hangat terhadap Milad ke 10 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Banda Aceh. Salah satu acara memeriahkan Milad partai Islam yang diperingati di Taman Sari Banda Aceh, 11 Mei lalu adalah lomba baca puisi untuk pelajar SMA se-Banda Aceh dan Aceh Besar. Lomba baca puisi tersebut dijadwalkan pukul 9.00 WIB.

Seperti diinginkan, dewan juri lomba baca puisi sudah hadir di tempat sebelum pukul 9.00 pagi itu. Namun, ternyata panitia belum lagi mempersiapkan tempat acaranya. Sudah 30 menit dewan juri di sana, paniti masih menyusun bangku-bangku dan masih melakukan registrasi terhadap peserta. Dari polah yang ada, terkesan karena lomba baca puisi adalah lomba yang mudah. Kesan meremehkan sebuah penciptaan dan apresiasi terhadap sastra, dalam hal ini puisi, masih terjadi saat acara sudah dimulai. Dewan juri yang dipersiapkan tiga orang itu hanya diberi sebuah meja kecil yang biasa digunakan anak sekolah dasar di sekolahnya. Dengan meja selebar 50 cm x 1 m itu, bagaimana mungkin tiga dewan juri dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Akhirnya, salah satu dewan juri terpaksa mengalah tidak menggunaka meja. Dia menulis hasil penilaiannya terhadap bacaan peserta dengan berpangku di lututnya sendiri. Dan itu berlangsung hingga acara selesai. Sungguh, ini mengesankan panitia menganggap remeh terhadap karya sastra bernama puisi, sebab untuk perlombaan lainnya, hal seperti ini tidak ditemukan.

Hal yang lebih lucu lagi adalah tidak ada technical meeting antara peserta dan dewan juri. Teknikal meting hanya dilakukan antara panitia dan peserta. Walhasil, ketika lomba berlangsung, terjadi simpang-siur, sebab saat meting, panitia membolehkan peserta menghapal dan membawa apa saja untuk membantu pembacaan puisi di panggung. Sementara itu, dewan juri telah memutuskan, karen acara itu adalah loma baca puisi, bukan hapal atau sebagainya, penilaian haya diberikan bagi yang membaca puisi saja, sedangkan yang menghapal dan menyanyikan puisinya hingga tuntas tidak lagi dinilai.

Kasus yang mirip juga terjadi dalam Pekan Seni Mahasiswa Indonesia tingkat Daerah (Peksimida) yang diadakan oleh Universitas Syiah Kuala. Dewan juri lomba segala cabang seni yang ditunangkan pada 19 dan 20 Mei lalu juga hanya disediakan sebuah meja untuk tiga orang. Ketiga dewan juri dalam lomba bergengsi untuk mahasiswa dan atas nama perguruan tinggi itu duduk saling berdesakan. Tak ayal, lembaran penilaian mereka saling berhimpitan, tangan mereka saling bergesekan, dan terakhir, para dewan juri itu gampang sekali saling berbisik dan melihat ke samping, pada lembaran temannya di sebelah.

Tentunya hal ini menimbulkan kecurigaan terhadap hasil penilaian. Peserta asyik di pentas, dewan juri saling berbisik di satu meja. Seharusnya, setelah semua peserta tampil, baru dewan juri berembuk, bukan saat peserta masih di panggung sehingga hasil penilaian diragukan.

Lantas, apakah para dewan juri dalam Peksimida hari itu salah? Saya kira, mereka tidak bisa disalahkan. Mekanismes tempat dewan juri menilai adalah tugas panitia pelaksana. Coba panitia sedikit menghargai kegiatan tersebut dengan menyediakan tempat/posisi bagi dewan juri masing-masing satu meja, pasti kecurigaan peserta tidak akan timbul.

Dari kasus-kasus itu dapat diketahui bahwa rendahnya penghargaan terhadap sastra kita juga disebabkan pengelola manajemen bukan dari orang-orang sastra atau minimal yang memahami sastra. Sastra dianggap dapat dikelola oleh sesiapa sehingga manajemen dan hasil yang kita dapatkan cenderung mengecewakan. Sejatinya, apa pun bentuknya, baik perlombaan, pertunjukkan, atau pengelolaan sanggar, yang namanya seni atau sastra diserahkan kepada orang-orang bergelut di bidang tersebut, karena mereka lebih memahami dunianya.

Bukankah kita sudah sering mendengar, berikan sesuatu kepada ahlinya. Apalagi dalam kearifan orang Aceh, hadih maja sudah menukilkan, bak nyang utôh tayue ceumulék; bak nyang lisék tayaue keunira; bak nyang baca tayue ék kayee; bak nyang dungee tayue jaga kuta; bak nyang beu-o tayue keumimiet; bak nyang meugriet tayue meumita; bak nyang malém tayue beut kitab; bak nyang bangsat tayue rabé guda; bak nyang bagah tayue seumeujak; bak nyang bijak tayue peugah haba. Artinya, berikan sesuatu itu kepada ahlinya. Masalah sastra mesti diberikan kepada yang paham dan atau yang bergelut di bidang sastra.

Mengapa demikian? Kasus terbaru yang saya temukan, dalam lomba cipta puisi dan cerpen yang menjadi salah satu cabang perlombaan pada Pekan Olahraga dan Seni (Porsseni) di sebuah rayon (kabupaten) beberapa waktu lalu, dewan juri cipta puisi dan cerpen kembali kewalahan. Pasalnya, setiap peserta masih diperbolehkan mengirimkan karya beragam—ada yang diketik dan ada yang ditulis tangan. Kemudian, peserta hanya diminta mengirimkan naskah satu rangkap saja, sementara dewan juri terdiri dari tiga orang. Dewan juri dalam memberikan penilaian diminta membaca naskah lomba itu secara bergiliran. Hal lainnya, panitian tidak menyediakan form penilaian. Mereka hanya mau tahu mana yang paling bagus, bagus, kurang bagus, dan tidak bagus. Padahal, jika memang panitia tidak tahu kriteria yang dinilai, seharusnya memberitahukan kepada dewan juri agar para juri dapat mempersiapkan formnya.

Dari peserta, ada yang tidak didampingi oleh gurunya, sedangkan dari sekolah lain, semua memiliki guru pendamping. Kata peserta yang tidak didampingi gurunya itu, sang guru sudah ke lapangan perlombaan olahraga. Kesannya, kembali seperti di atas: sastra dan seni itu gampang, sehingga tak perlu dampingan.

Anggapan ini membuat penghargaan terhadap seni dan sastra di kampong kita sangat kurang. Karenanya, di samping memberikan pengelolaan manajemen sastra kepada ahlinya, demi kelangsungan sastra di kampong ini, pemerintah juga mesti mengambil peran semisal mulai mengulurkan tangan kepada sasnggar-sanggar yang baru tumbuh, sebab di tangan mereka yang baru dan muda-muda itulah sastra dan budaya kita selanjutnya. Semoga!

Peminat Budaya dan Sastra

Iklan

Filed under: Essay

3 Responses

  1. hikmah berkata:

    Sastra yang paling jarang diapresiasi adalah puisi. Mungkin orang-orang menganggap puisi itu adalah karya yang kurang menarik,Tapi sebenarnya yang namanya puisi itu selalu bisa memberikan inspirasi n motivasi.

  2. nana cicio berkata:

    Mantap Boi, dasyat boi makanya klu takpandai menulis pandai2lah membaca hihihi,tak ada gunanya uang banyak klu kita tak pandai menulis hihi

  3. nana cicio berkata:

    ntar itu bisa dijadiin proyek klu dah ga ada ide lagi,misal kios2 dah sukuppuas digusur, tata ruang kota sudah ga da tempat diproposal,maka itu akan jadi proyek, sampai2 judul seminar mantap kali,dasyat tapi ujung2 nya cuma memperkenalkan wartawan jawa modal kecap tapi ga da mutu,cuma bisa jual kecap ma cabe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: