Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Warung Kopi

oleh Herman RN
Sungguh, warung kopi di Aceh adalah laboratirum kata dan mata. Di sana orang bertengkar. Di sana orang berkelakar. Di sana orang mengupat. Di sana orang menghujat. Di sana pula orang-orang ‘berkantor’. Entahlah di negeri lain, tapi semua itu berlaku di kampongku.
Pagi hari, orang-orang sebelum ke kebun singgah sebentar di warung kopi pojok jalan kampongnya. Menjelang siang, pegawai-pegawai ‘mojok’ di warung belakang kantor mereka—kalau ada kantor yang tidak punya warung, pegawainya mencari warung kopi terdekat. Pada jam yang sama pula, anak-anak sekolah turut “ngopi” di kantin, padahal gurunya sedang mengajar di kelas. Sore hari tak usah ditanya, sudah menjadi kebiasaan orang-orang kampongku ngopi sore. Entah dari mana pula istilah “ngopi sore” itu.
Padahal, di rumah mereka juga ada kopi. Kadang diaduk lembut oleh tangan anak atau istri. Namun, rutinitas ke warung kopi, tak dapat ditinggal. “Kopi di rumah lain dengan kopi Solong,” kata seorang teman. “Kalau belum kena kopi Cek Wan, tak enak rasanya kepalaku ini,” kata teman yang dari Singkil.
“Harga diriku naik kalau ngopi di warung kopi SMEA,” ujar yang lain pula. Warung kopi dimaksud ada di depan SMEA Banda Aceh, Jalan P. Nyak Makam, Lampineung. Aneh memang, kalau harga diri diukur pada tempat minum kopi. Tapi, itulah Aceh.
Pernah juga kudengar dari seorang teman perkataan seperti ini. “Tempat ngopi anak muda itu di Romen.” Entah karena sangking banyaknya warung kopi-warung kopi di Aceh, sehingga ada klasipikasi tempat ngopi anak muda, orang tua, dan pejabat? Saya belum tahu tentang ini. Tapi, saya sempat menjawab, “Emangnya ada tempat ngopi orang tua. Kalau ada, berarti anak muda tak boleh ikut? Kalau begitu harus dipilah juga tempat ngopi laki-laki dengan perempuan?” ucapku ngekeh. Teman tadi hanya nyengir kuda.
Ironis memang, ketika disebutkan hendak ngopi ke warung ini, warung ini, tapi sesampainya di warung kopi dimaksud, malah bukan kopi yang dipesan. Ada yang pesan teh, capucino, bahkan ada yang pesan minuman kaleng seperti coca cola, sprite, frestie, fanta, dan sejenisnya. Lebih aneh lagi, ada yang hanya sekedar ikutan teman ke warung kopi, tapi tidak pesan kopi. Bagi dia, sudah dapat kumpul berkelakar dengan teman-temannya di warung kopi, itu sudah lebih dari cukup. Namun, ada juga yang pesan kopi sungguhan.
Benar sekali, maksud mereka sesampainya di warung kopi tak lain dari berbicara, berbicara, dan berbicara. Mungkin karena itu, ada jargon mengatakan cang panah warung kopi. Ada pula seorang teman menyebutkan, “Warung kopi adalah tempat sumber fitnah. Kalau mau memfitnah atau mendapatkan fitnah, datanglah ke warung kopi.”
Teman yang lain membahasakan warung kopi sebagai tempat mencari dan menggali aib. Ah, semua itu saya kira wajar-wajar saja. Intinya sama saja, saling adu dan jejak pendapat. Betapa di sini saya melihat bahasa memiliki peranan penting. “Salah kata, pecah kepala,” istilah Melayunya kurang lebih begitu. Hadih maja Aceh bilang “Karna babah bulè basah, karena lidah badan binasa.” Tentunya kata bijak ini berlaku bagi orang-orang yang suka cang panah.
Ngetrennya orang Aceh ke warung kopi mungkin ada kaitannya dengan kegemaran cang panah itu, berbicara tiada pangkal dan ujung. Di sana, ada khutbah, ada cacian, ada umpatan, ada fitnah, ada baik, dan ada buruk. Semua padu. Entah karena kesukaan itu pula ada naritmaja mengatakan, “Cina peusingèt céng, kléng tukang puta; Arab koh kreh, Aceh peudong dawa.”
Atau barangkali pepatah Aceh peudong dawa itu tak layak lagi bagi ureueng Aceh jika alasannya hanya karena suka ke warung kopi? Entahlah, yang jelas, orang-orang dari luar yang katanya sebagai pekerja kemanusiaan datang ke Aceh pun ikut-ikutan istilah “Tak enak kalau tidak ke warung kopi.” Bedanya, mereka menjadikan warung kopi sebagai kantor kedua. Di sana program dibahas, di sana jalan keluar dicari. Namun, tak tertutup kemungkinan, pembicaraan cang panah serupa khutbah, fitnah, dan sejenisnya juga ada. Namanya saja, lidah tak bertulang. Entahlah…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: