Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Beutong

oleh Herman RN

Menyebut nama Beutong, saya—mungkin juga Anda—teringat pada sebuah peristiwa pembantaian terhadap Tgk. Bantaqiah dan sejumlah santri. Kejadian itu sudah lama, masa Aceh masih dalam konflik bersenjata. Siapa pernah menyangka, mencari perlindungan di balik santri (dayah) di Beutong ternyata masih ada sampai sekarang, di saat Aceh sudah menghapus julukan dari “negeri konflik”.

Hal ini seperti kita baca di sejumlah media, 16 Juli lalu. Malam harinya (malam rabu) telah terjadi kontak tembak antara kelompok sipil bersenjata dengan polisi hingga menewaskan empat orang dari kelompok sipil. Sungguh peristiwa berdarah itu telah mengungkit kembali ingatan saya terhadap pembantaian Tgk. Bantaqiah dan santrinya. Ureueng Aceh maupun orang non-Aceh pun saya pastikan asék-asék ulèe membaca peristiwa 15 Juli 2008 tersebut. Pasalnya, kejadian penembakan antara kasus Bantaqiah dengan peristiwa baru-baru ini ada kesamaan, yaitu sama-sama terjadi di bulan Juli. Bedanya, tanggal dan tahun. Jika kasus Bantaqiah di Blang Meurandeh pada 23 Juli 1999, penembakan di Babah Krueng pada 15 Juli.

Kesamaan lainnya adalah sama-sama berlindung di “ketiak” santri. Kemudian, menurut KPA, kawanan perampok sengaja membawa bendera GAM agar KPA tertuduh. Bukankah itu berarti trik ku’èh—asal selamat dia, biarkan orang menderita.

“Itu artinya, agar mereka selamat. Di Aceh kan sering terjadi asèe blang pajôh jagông, asèe gampông keunong geulawa,” kata teman saya dalam sebuah perbincangan.

Mungkin teman saya itu ada benarnya juga, sebab saya baca di koran, KPA sendiri mengaku bahwa kawanan perampok itu “benci” KPA karena mendukung MoU. Koran menulis, perampok itu mengincar Ketua KPA Nagan Raya. Anehnya, mengapa mereka harus sembunyi di balik santri.

Teman saya bilang, itulah taktik. “Taktik tak hanya ada dalam politik partai. Tetapi, juga dalam perang. Keureuléng nggang heut keu abeuk, keureuléng kuek heut keu paya; menyo kon sinan lé jipatheuk, panee kuek keunan jiteuka,” katanya.

Ah, kendati damai dikatakan sudah sampai ke Aceh, ternyata pekerjaan “mencari jarum dalam tumpukan jerami” masih ada di Aceh. Dulu—masa konflik—orang-orang yang suka mencari jarum dalam tumpukan jerami ini disebut dengan “cuak”. Ada pula yang menyematkan aktivitas itu pada “GAM Cantoy”. Tahulah siapa maksudnya.

Nah, sekarang apa pula nama gerakan serupa itu? Gubernur Aceh bilang, mereka, kawanan perampok yang tidak setuju MoU itu bernama Front Demokratic Kemerdekaan Atjeh (FDKA). Yang tak habis pikir, apa pun namanya, mengapa masyarakat kecil, seperti petani, anak sekolah, atau santri, selalu dijadikan selimut mereka berlindung. Bagaimana mungkin, mereka yang mengaku sebagai pejuang nanggroe dan rakyat harus menjadikan rakyat sebagai tumbal?

Ada lagi yang menarik dari ucapan gubernur, yang ditulis media ini. “Ketika GAM berperang, orang-orang FDKA menggembar-gemborkan perdamaian. Namun, saat sudah damai, mereka mencari jalan perang lagi.”

Kata teman saya, orang-orang seperti itu tidak lebih dari “Jampôk di công rhéng; gob marit gobnyan saréng.” Andaikan orang-orang seperti ini dibiarkan bebas mengepakkan sayapnya di Aceh, tak tahulah apa jadinya Aceh. Lain kasus orang-orang haus kemerdekaan wilayah sehingga minta disahkan undang-undang ini dan itu, lain pula kasus kelompok di Beutong. Intinya sama, mencari jarum dalam tumpukan jerami. Seyogianya, jika mereka ingin melihat Aceh ini damai, mesti selalu ingat pesan indatu: lam geureupoh bèk tapeuleuh musang, lam raga pisang bèk tapeuleuh tupee.” Nyan meunyo galak keu naggroe damè!

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: