Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Wali

oleh Herman RN

“Tameupaké sabé keudroe-droe, ureueng laén pok-pok jaroe”

Adalah keniscayaan sebuah keputusan dimusyawarahkan. Apalagi di Aceh, musyawarah boleh dikatakan sebagai forum tertinggi yang sangat dihormati sehingga dicetuskan dalam sebuah kearifan, “Meunyo buet mufakat, lampôh jeurat jeut tapeugala.”

Maka itu, keberadaan lembaga wali nanggroe pun menjadi sebuah ajang musyawarah hangat di kalangan Pansus XI dengan Menko Polhukam Widodo AS. Ternyata, pembahasan Rancangan Qanun (raqan) Wali Nanggroe itu mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Pasalnya, disebutkan bahwa wali nanggroe—jika memang jadi diterapkan di Aceh—harus berada di bawah gubernur.

Tak ayal, Wakil Ketua Majelis Masyarakat Adat Aceh (MAA), A. Rahman Kaoy, pun mengeluarkan pernyataan bahwa idealnya keberadaan wali nanggroe harus sejajar dengan gubernur dan hendaknya tidak mencampuri ranah politik.

Di sini sudah kelihatan terjadi perbedaan pandangan dan pendapat tentang keberadaan wali nanggroe. Adalah benar hadis mengatakan “Perbedaan pendapat itu adalah rahmat.” Namun, sejatinya tidak sampai mengundang pertengkaran yang kita ditakutkan berbuah kekacauan/konflik baru di Aceh, apalagi untuk urusan wali.

Wali, secara sederhana dapat dimengerti sebagai “pengganti” orangtua kandung. Misalkan saja, dalam mengambil rapor di sekolah, dibutuhkan wali. Atau saat menikah, juga dibutuhkan wali. Wali dalam amsal ini bisa juga berati orangtua kandung. Jika dimisalkan wali di sini adalah orang tua laki-laki (ayah), saya tidak tahu apa jadinya jika dalam sebuah rumah terdapat dua ayah yang mengurusi perkara yang sama.

Akan tetapi, jika boleh saya memendam rasa takut, maka yang sangat saya takutkan adalah kebijakan demi kebijakan yang lahir di Aceh. Banyak kita lihat kebijakan yang diberikan untuk Aceh oleh pusat cenderung menghadirkan pertengkaran. Saya tidak tahu, apakah karena memang pusat memberikan keluwesan kepada Aceh “setengah hati” seperti kata khabar umum di sana, atau memang orang Aceh suka peudong dawa. Yang jelas, selama ini saya melihat, keluwesan kebijakan terhadap Aceh selalu membuahkan tengkar dan tak ayal rakyat kecil cenderung jadi korban.

Tak perlu membuka halaman konflik Aceh yang masih banyak menyimpan kata “terima kasih” atas duka-luka terhadap kebijakan pusat untuk rakyat Serambi Makkah. Salop mantong lembaran pascakonflik. Salah satunya, sebut saja “pemberian” label syariat Islam. Betapa banyak rakyat kecil mengeluhkan sanksi-sanksi yang hanya berkutat pada masyarakat kalangan bawah. Kemudian, kebijakan haji yang dalam “kitab” MoU dikatakan bahwa Aceh berhak mengatur masalah hajinya sendiri, tetapi di ujung pasal disebutkan harus mengacu kepada ‘kebijakan’ dari pusat. Singkatnya, “Aceh boleh mengatur apa saja terhadap sistem pemerintahannya selama mengacu kepada ‘keputusan’ pusat”. Selalu berujung: boleh “mengatur”, tetapi harus “mengacu”.

Akhirnya, orang-orang Aceh—dan mungkin para cerdik pandainya—terjebak pada pemberian “kebebasan” dari pusat. Maka itu, saya takut orang Aceh akan menjadi “Bu sikai ie sikai, ngob jantông gadöh akai.”

Kita memang selalu berharap wali nanggroe dapat kembali ke Aceh. Namun, kita juga berharap tidak sampai masalah ini mengundang konflik baru. Kendati masalah keberadaan “wali” adalah tentang “orang tua” kita yang memang sudah lama dianut oleh sistem pemerinatahan Aceh, tidak tertutup kemungkinan di zaman serba heboh ini, pertengkaran sesama orang Aceh kembali akan terjadi manakala tidak disikapi dengan hati-hati atas kebijakan dari “Ibu pertiwi”. Maka, apa kata indatu? “Tameupaké sabé keudroe-droe, ureueng laén pok-pok jaroe.”

Satu lagi kata ureueng Aceh, “Takzim keu gurèe meuteumèe ijazah; takzim keu nangmbah meuteumèe harueta; takzim keu nabi meuteumèe syafa’at; takzim keu Allah meuteumèe syiruga.” takzim ke wali… ci neuboh areuti, Poma ngon Abi. Biet hana lon tukri!

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: