Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Yang Tersisa dari PMTOH

(Melayat 2 Tahun Kepergian Tgk.H. Adnan PMTOH)

Oleh Herman RN,

Tukang Cerita PMTOH Modern (TV Eng Ong)

Putroe Bungsu hawa keu ticem

Teungku Malem geujak lam rimba

Meuhan meuteumee ticem nyan saboh

Bahle beugadoh bajee ngon ija

(Sepetik pohaba Tgk. H. Adnan PMTOH)

“Aceh adalah negeri penuh cerita.” Jargon ini sudah sering kita dengar, baik dari orang Aceh sendiri maupun dari orang luar yang datang ke Aceh. Bukan hanya itu, dalam jargon lain disebutkan bahwa “Orang Aceh suka cerita dan bercerita”. Asumsi ini kemudian dikaitkan dengan berserabutnya warung kopi-warung kopi di Nanggroe Aceh Darussalam. Di samping itu, kegemaran orang Aceh yang senang menyebutnya dengan ureueng Aceh dalam bercerita acapkali disampaikannya kepada alam. Misalnya, sembari melaut atau mencangkul di sawah, saaat senggang (istirahat) terkadang dia berkisah kepada alam, entah mengadu tentang perjalanan hidupnya atau menceritakan sesuatu yang ada di alam. Dia menceritakan itu sambil berirama. Dari sinilah salah satu ihwal munculnya sebuah kesenian bercerita di Aceh, yakni kesenian tutur.

Hikayat PMTOH merupakan salah satu kesenian bercerita (bertutur) tersebut. Cara bercerita gaya PMTOH ini pertama sekali dipopulerkan oleh Tgk. H.Adnan. Dia merupakan tukang hikayat yang sangat populer sejak tahun 1960-an. Kabarnya, kelihaian dalam berkisah membuat ia sering diundang dalam acara-acara atau pesta, baik pesta perkawinan, sunat rasul, atau acara-acara kesenian. Dia juga dikenal sebagai tukang cerita keliling dan tukang obat keliling.

Menurut seorang muridnya, Agus Nuramal, Adnan berkeliling membawa hikayat juga sambil menjual obat. Konon, ketika Adnan berhikayat keliling, dia sering menggunakan sebuah mobil lintas Sumatera. Di samping badan mobil itu bertuliskan PMTOH. Kemudian, di samping kanan-kiri bagian depan mobil terdapat terompet klakson. Katanya, terompet mobil ini akan selau berbunyi saat melintas setiap kampong di Aceh. Si supir sangat suka memainkan klakson mobil itu. Nah, Adnan bisa meniru suara terompet mobil PMTOH itu sambil memencet hidungnya. Hal ini sering dilakukan Adnan saat main hikayat. Dari asal nama mobil yang beroperasi mulai tahun 1970-an inilah gelar PMTOH melekat pada dirinya sehingga namanya lebih dikenal dengan sebutan Teungku Haji Adnan PMTOH.

Namun, ada juga yang mengatakan bahwa nama PMTOH diambil dari kata poh tèm, yaitu kata lain dari bercerita. Dalam tradisi Aceh, bercerita disebut juga dengan peugah haba, meuhaba, pohaba, poh cakra, poh tèm, cang panah, yang kemudian menjadi sebuah nama salah satu kesenian bercerita di Aceh. Untuk jenis poh cakra, poh tèm, cang panah, biasanya dilekatkan pada bercerita yang membahas segala hal, kadang tak tentu ujung pangkalnya. Dari kata poh tèm itulah kemudian dipelesetkan menjadi pèm toh/ peng toh, yang kemudian diselaraskan bunyinya menjadi pe-em-toh.

Dalam bahasa Aceh memang banyak variasi bahasa yang dipelesetkan seperti di atas, misalkan bu kuloh (boh kulu), kayèe meulakém (kayém meulakè) sabang meuglé (sabé meuglang) langsa bak phong (langsong bak pha), dan masih banyak lagi, mulai dari yang bagus untuk didengar hingga kepada yang “jorok” semisal gampông punggét (gapét punggông). Menurut ilmu linguistik, kasus bolak-balik kosa kata seperti ini dimasukkan dalam variasi bahasa yang disebut dengan variasi slang. Karena itu, ada yang mengatakan PMTOH pelesetan dari poh tem (pem toh/ pe-em-toh) bila ditinjau dari variasi slang.

Terlepas dari dua pendapat di atas, intinya PMTOH adalah sebuah kesenian bertutur/ bercerita. Hanya saja, karena kisah yang diceritakan pada umumnya pernah terjadi pada zaman dahulu atau dengan kata lain, kisah yang diceritakan diyakini kejadiannya, masyarakat Aceh menamakannya dengan “hikayat”.

Dikatakan juga sebagai hikayat, karena cerita yang ditulis disusun dalam bentuk bait, bersajak, dan berirama (ciri-ciri hikayat dari segi bentuknya). Di samping itu, alasan lain yang menyebutkan bahwa cerita-cerita yang dibawakan oleh Tgk. Adnan adalah hikayat, sebab dipercaya pernah terjadi pada zaman dalam cerita (zaman dahulu). Kemudian, ada kekuatan kata yang sulit membantah kebenaran cerita itu, yakni ungkapan “sahibul hikayat” yang menunjukkan seolah cerita itu memang pernah terjadi lalu dituturkan dari mulut ke mulut oleh masyarakat.

Gelar Trobadur

Gelar trobadur diperoleh Tgk. Adnan dari seorang arkeolog Amerika Serikat, Profesor John Seger. Seger menyematkan gelar tersebut kepada Adnan karena keunikan dan kelihaiannya dalam memainkan cerita. Menurut dia, sulit mencari tukang cerita yang serupa dengan Adnan.

Memang, Adnan layak dikatakan seorang yang tangguh dalam bercerita. Cerita “Putroe Bungsu” yang panjangnya hingga tujuh hari tujuh malam sanggup dikisahkan Adnan tanpa terkesan lelah. Melihat dia bermain kisah, seolah cerita yang dia bawa sudah dihapalnya puluhan tahun silam.

Tinggal Kenangan

Kini, kepiawaian tiada tanding pohaba itu tinggal kenangan. Lelaki kelahiran Meukek Aceh Selatan, Desember 1931 lalu, itu telah berpulang ke haribaan Tuhan, 4 Juli 2006. Mengenai kelihaian bertutur, dia meninggalkan seorang murid bernama Agus Nuramal.

Agus lulusan seni teater di Institute Kesenian Jakarta, mengaku “jatuh cinta” pada gaya bertutur Tgk. Adan saat masih berada di bangku kuliah. “Waktu itu, saya jadi salah seorang panitia seni pertunjukkan Istiqlal. Saya teringat pernah nonton Teungku Adnan main hikayat. Saya terkesima. Saya undanglah Teungku Adnan ke Festival Istiqlal. Setelah itu, saya semakin kagum dengan gaya dia bercerita. Dia sanggup berkata-kata tersu sepanjang malam tanpa capek. Akhirnya, saya minta jadi muridnya,” kata Agus Nuramal yang sekarang lebih akrab disapa Agus PMTOH.

Agus, lelaki asal Sabang yang lama tinggal di Jakarta (sampai sekarang menetap di Jakarta) itu kurang bisa bahasa Aceh (mungkin sekarang sudah bisa). Karena itu, dia bertutur dalam bahasa Indonesia—sesekali pakai bahasa Inggris—(kalau diminta). Bagi Agus, bertutur tidak mesti memakai irama meusantôk. “Kalau Tgk. Adnan kan berirama seperti pantun dan bersajak. Kalau saya, yang penting ada nada tinggi-rendahnya saja sudah cukup,” ucap Agus suatu kali di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh.

Karena itu, saya menyebutkan trobadur Aceh hanya tinggal kenangan. Meskipun beliau meninggalkan seorang murid, sungguh belum ada yang mampu seperti Adnan. Akan tetapi, tentu saja asumsi saya dapat terbantahkan jika kita berkunjung ke pelosok-pelosok. Pasalnya, saat saya bersama tim Tukang Hikayat ala Komunitas Tikar Pandan berkeliling Aceh (akhir April-awal Mei 2006) lalu, saya sempat mendengar beberapa orang berkisah seperti layaknya Tgk.Adnan. Irama dan gayanya sungguh memukau. Hanya saja, karena mereka selama ini jarang muncul ke permukaan, maka kesenian bertutur seakan tiada lain selain oleh Adnan. Karenanya, pemerintah Aceh, melalui dinas berwenang, semestinya dapat mengangkat seni tutur Aceh ini melalui sekelompok orang yang masih tersisa.

Sama amati selama ini, mereka para seniman tutur Aceh sangat jauh jangkau dari Pemda. Bukan mustahil suatu kelak, seni tutur Aceh menjadi milik bangsa luar seperti sejumlah kesenian lainnya yang sudah menjadi dawa-dawi tempo hari, manakala kepedulian pemerintah kita tidak ada. Kepada para seniman pun, mesti mampu menghargai hal yang sudah ada dan memberikan apresiasi terhadapnya. Sungguh sayang, dua tahun sudah Sang Trobadur kita meninggal dunia, tiada suatu acara apa pun yang dilakukan, kendati sekedar apresiasi, baik oleh Pemda maupun mereka yang mengaku sebagai seniman dan peduli kesenian. Seolah, yang pergi membawa ketamatan terhadap apa yang dia ahlikan, seperti Maskirbi yang pergi bersama “puisi sunyi” dia, dunia puisi di Aceh pun terkesan sunyi.

Siapa Adnan PMTOH?

Sulit mencari jejak garis keturunan Teungku Adnan. Dari sebuah mailinglis disebutkan bahwa Sang trobadur Adnan PMTOH lahir di Meukek (ada pula menyebutkan di Tangan-Tangan), Aceh Selatan, Desember 1931. Ia merupakan anak dari pasangan Polem dan Daiyah. Polem merupakan ajudan pribadi Tgk. H. Mudawali al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji sehingga ia kerap disapa dengan Panglima Polem. Ia meninggal dunia pada usia 75 tahun, tepatnya, Selasa, 4 Juli 2006. Artinya, bulan ini (Juli 2008) hitungan genap dua tahun masa kepergian beliau.

Kelihaian Adnan dalam pohaba hasil berguru pada Mak Lapeh. Dia belajar pada Mak Lapeh selama tiga tahun. Ada beberapa murid Mak Lapeh lainnya, seperti Tgk. Muda Balia asal Bakongan, Aceh Selatan. Akan tetapi, murid-murid Mak Lapeh lainnya itu lebih dikenal dengan sebutan tukang hikayat dangderia.

Berbekal kelihaiannya dalam bertutur, Adnan memanfaatkannya dalam aksi menjual obat. Orang-orang Aceh zaman dahulu sebagian memang dikenal sebagai tukang jual obat keliling. Mereka menjual obat sambil “menjual cerita”. Kata Agus Nuramal, murid Adnan yang juga pernah jualan obat bersama Adnan, sebelum sampai pada penjualan obat, terlebih dahulu Adnan membawakan sebuah kisah (hikayat). Banyak masyarakat berbondong-bondong menyaksikan kepiawaian Adnan berkisah. Sebagian ada yang sengaja hadir ke lapangan untuk menyaksikan/mendengar hikayat PMTOH, bukan untuk membeli obat.

Kata Adnan, semasa hidupnya, perkembangan kesenian PMTOH pertama sekali ada di Aceh Selatan, tepatnya di Manggeng. “Pada tahun 1957, saya mulai main di Bakongan. Tahun 1958 balik lagi ke Tangan Tangan, mengembara tiap kecamatan, tiap kemukiman, dengan honor main waktu itu Rp25 (dua puluh lima perak). Kemudian 1960, berangkat ke Kuta Raja. Saya menginap di rumah almarhum Ahmat Ali. Setelah itu, baru saya berangkat ke Takengon, main di keramaian,” tuturnya semasa masih hidup.

Sepulang dari Takengon, ia berhikayat di Bireuen, di rata kecamatan. Ia dapat honor Rp15 ribu. “Harga emas waktu itu Rp800 per manyam,” katanya yang mengaku mendapat bayaran terbanyak sejak pertama main hikayat.

Saat dia main di sebuah kecamatan, ada Batalion Infanteri 111. Adnan pun diboyong oleh batalion itu. Dengan koordinir awak batalion itu, Adnan terus mengembara rata kemukiman dengan honor main naik menjadi Rp25 ribu. “Ini honor sudah sangat banyak masa itu. Lebih kurang dapat 30 manyam emas. Dari situlah kesenian PMTOH berkembang. Hingga tahun 1970, saya main di Kuta Raja,” ucapnya.

Dia mulai ditonton oleh seniman-seniman. Saat itulah mulai berkembang di Aceh Hikayat Malemdiwa dan Hikayat Dangderia. Hikayat Malemdiwa dapat dia tamatkan tujuh malam berturut-turut. Namun, ia mengaku untuk Hikayat Dangderia membutuhkan waktu hingga 17 malam.

Tahun 1975, Adnan semakin meperlebar sayapnya ke Lhokseumawe, Pantonlabu, Langsa, hingga ke luar negeri. Di luar Negeri dia main dalam bahasa Aceh juga. Sepanjang perjalanannya sebagai seniman tutur, Adnan menyatakan sangat kurang mendapat perhatian pemerintah. “40 tahun saya menyair, satu pengeras suara saya minta tidak dikasih. Tidak pernah diberikan bantuan. Alat main, pakaian, dan tong itu, saya beli sendiri,” katanya, dua tahun lalu.

Dia mengatakan hal itu tahun 2002. Saat itu, dia mengaku tidak mau lagi minta bantuan karena sudah lelah meminta-minta. “Trobadur itu yang ada di Perancis, selang 1000 tahun lalu. Sekarang tidak di mana lagi kita cari. Ini ada di Aceh tidak dimanfaatkan oleh pemerintah Daeriah Istimewa Aceh,” ketusnya waktu itu kepada Afifuddin, yang merekam suara Adnan untuk diperlombakan di ajang Pekan Seni Mahasiswa Indonesia (PEKSIMINAS) tahun 2002. Ternyata film dokumenter itu mendapatkan juara di tingkat nasional.

Begitulah sekilas kehidupan trobadur Aceh, Teungku Haji Adnan PMTOH. Catatan ini bukan untuk mengungkit kejelekan dan tidak pula bermaksud buruk. Saya tulis ini sebagai penghargaan terhadap Tgk. H.Adnan PMTOH dan karyanya, juga sebagai renungan bagi kita, khusunya pemerintah dan mereka yang menamakan dirinya sebagai seniman. Ternyata sejak masa Tgk. Adnan, pemerintah memang kurang perhatian untuk kesenian. Tak tahulah masa sekarang. Semoga saja ada kemajuan. Insya Allah!

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: