Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

MoU, Memberi Ruang pada Kata

oleh Herman RN

Gila! Inilah kata yang terlontar dari hati saya ketika menyaksikan berbagai even lomba kepenulisan di Nanggroe Aceh Darussalam. Setiap panitia lomba melaporkan hasil keikutsertaan peserta dalam lomba menulis tersebut pada pengumuman dan pengambilan hadiah bagi pemenang, menunjukkan hasil di luar dugaan. Keikutsertaan anak Aceh, mulai dari golongan remaja, mahasiswa, hingga ke yang umum, dilaporkan membludak. Dalam satu kategori—misalnya kategori remaja—peserta mencapai lebih 200 orang yang mengirimkan karyanya. Jumlah ini terbukti dalam beberapa lomba, mulai lomba menulis “Perdamaian Aceh” yang diadakan Sekolah Menulis Dokarim tahun 2006 lalu, hingga lomba yang diadakan Aceh Intitute baru-baru ini. Semua mengaku sangat banyak peserta yang ikut.

Untuk ukuran Aceh dan tambah lagi atas nama lomba se-Aceh, jumlah itu tentunya sangat mengangumkan sekaligus mengagetkan. Pasalnya, daerah Serambi Makkah ini baru saja mengalami perjalanan panjang duka dan airmata—konflik disusul bencana badai smong alias tsunami. Kehilangan demi kehilangan masih membayang di benak Aceh, kehilangan ibu, ayah, adik, handaitaulan, hingga kehilangan kampong, mestinya membuat mereka masih dalam duka. Namun, ternyata kesedihan anak Aceh tumpahkan ke dalam bentuk tulisan, entah cerpen, puisi, esai, atau jenis tulisan lainnya. Bahkan, tema yang diangkat ada pula jauh dari tema kesedihan. Ini salah satu mengapa saya menganggap Aceh sekarang sedang ‘digilai’ kepenulisan orang-orangnya, terutama golongan remaja dan pemuda.

Ada alibi yang membuat anak Aceh sekarang gemar menulis. Salah satunya karena Aceh sekarang sudah damai. Sudah damai artinya sudah terbebas dari pembungkaman. Maka beragam media cetak pun berlahiran di Aceh. Sebut saja Aceh Independen, Harian Aceh, Rakyat Aceh, Metro Aceh, Media NAD, dan sejumlah media kampus oleh mahasiswa. Tak cukup sampai di situ, LSM-LSM pun ambil bagian dengan menerbitkan media kampanyenya lewat majalah, buletin, leaflet, brosur, dan sejenisnya. Bahkan, Harian Serambi Indonesia saja yang sudah duluan lahir di Aceh, bertambah tebal halamannya selepas MoU. Bukankah ini artinya anak Aceh sedang mencari mimbar kata-kata? Dan, sesungguhnya podium dakwah itu telah mengambil tempat pada dunia tulis-baca. Di sinilah kemenangan “kata-kata” atas suara senapan. Maka wajar saja, Azhari dalam sebuah wawancaranya dengan majalah Aceh Kita (saat masih terbit dulu), mengatakan “Sudah saatnya seniman menyumpal moncong senjata.” Tentu saja maksudnya menulis merupakan salah satu cara menyumpal mulut senjata.

“Kegilaan” anak Aceh dalam meluahkan isi hati dan isi kepalanya ke atas kertas dapat dilihat dari berbagai lomba, baik di Aceh maupun di luar Aceh, terutama lomba menulis sastra (esai, puisi, cerpen, dan resensi). Setiap ada lomba menulis sastra tersebut, panitia selalu mengaku ketiban naskah berjumlah banyak dari yang disangkakan. Pemenangnya pun, rata-rata nama baru di belantika kepenulisan. Ini juga, hemat saya, sebagai bukti masyarakat Aceh mulai “memberi ruang” pada kata, seperti konflik Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia yang akhirnya berdamai setelah “memberi ruang” pada kata, yakni diskusi.

Sebenarnya, perihal kata mempunyai peluang kekuatan lebih besar dari senjata sudah dinyatakan oleh Subcomandante Marcos, seorang tentara zapatista (Tentara Nasional Pembesan Nasional Meksiko). Betapa Marcos dalam bukunya, “Kata adalah Senjata” menjelaskan dengan luas-panjang-lebar-tinggi-besar, bahwa kata memiliki peluang besar terhadap perdamaian.

Sejatinya, itulah yang dilakoni pula oleh Kombatan Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Republik Indonesia yang akhirnya berdamai hanya dengan sebuah perjanjian. Artinya, dengan sebuah “pemberian ruang pada kata”, tidak ada yang kalah, jua tak ada yang menang dalam peperangan panjang sekurun 30 tahun itu, semua draw. GAM menang karena sudah bisa menghentikan TNI/Polri yang selalu memburunya, jua TNI/Polri menang karena GAM telah menyerahkan senjatanya untuk dihancur-potong. Semua memperoleh menang bukan dari peperangan, tapi “KATA”. Ya, hanya itu. Betapa besar peluang damai jika kita menyadarinya sejak dahulu.

Akhirnya, ”memberi peluang pada kata” digunakan oleh anak-anak Aceh dalam menyampaikan segala suka-resah-gelisah-dan bergenap rasa pula. Kita lihat, sejumlah media cetak yang lahir di Aceh pasca-MoU telah memberi peluang kelahiran penulis-penulis baru di Aceh. Sejumlah nama dengan predikat penulis–meski penulis pemula, mulai bermunculan di media lokal terbitan Aceh—maaf, saya tidak menyebutkan satu per satu nama tersebut, karena khawatir ada yang lupa saya sebut nanti akan melahirkan ketidak-enakan di hati. Namun, jujur saya katakan, pengakuan sejumlah orang bahwa di Aceh telah banyak lahir generasi penulis pascatsunami. Saya lebih senang menyebutnya dengan penulis pasca-MoU, karena MoU membuat suara-suara dibungkam senjata menjadi bergema.

Hal lain yang membuat ”kata” telah memperoleh ruang adalah kehadiran sejumlah lembaga, baik LSM maupun lembaga di kampus/sekolah, yang mengadakan pelatihan menulis. Ya, saya kira semua kita berharap, pengambilan satu per satu anak gampong untuk dilatih memegang senjata, sudah selayaknya diubah menjadi diambil bayak-banyak untuk dilatih memegang pena dan mengolah kata sehingga jadi lebih berarah dan bermakna. Menutup celoteh singkat ini, saya berharap ”pemberian ruang pada kata” tetap masih dikedepankan hingga masa datang, demi Aceh aman, dalam segala bidang. Semoga pena cukup menjadi mata rencong dan kata-kata menjadi batu asahnya.

Penulis, Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra FKIP Unsyiah

Dimuat di Harian Serambi Indonesia.

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: