Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pulang

oleh Herman RN

Langkah raseuki peutemuen mawôt

Hana kuasa geutanyoe hamba

Langkah raseuki peutemuen mawôt

Nyan janji Allah kajeut keu kadha

“PULANG!” Hanya satu kata. Lumrahnya menyebut kata “pulang” pasti karena sudah pernah atau ada pergi. Entah pergi sebentar atau lama, pastinya kata pulang diungkapkan karena telah melangkah untuk pergi.

Selain pulang, ada juga ungkapan sama untuk menyatakan lawan pergi, yakni kembali. Jika seseorang merantau atau bepergian, lalu kembali atau pulang ke kampung halaman (rumahnya), sebuah keniscayaan bahagia itu melanda keluarga yang ditinggalkan.

Kata pepatah “Sejauh-sejauh bangau terbang, kembalinya ke kubangan juga.” Jargon ini lantas membuat keyakinan pada sejumlah orang bahwa sejauh-jauh seseorang merauntau, pasti akan kembali juga ke keluarganya, ke rumahnya, ke kampung halamannya. Sehingga, beragam penyambutan meriah, terutama pulang di saat hari baik-bulan baik semisal meugang dan uroe raya, dipersiapkan sedemikian rupa. Ini jika jadwal yang pulang sudah diketahui. Akan tetapi, saat jadwal kepulangan seseorang itu tidak diketahui, haya bahagialah yang dapat memberikan jawaban. Takjub, namun sedang karena yang pergi sudah kembali, itu pasti.

Di lain sisi, pulang dan kembali kenyataannya ada juga yang mendatangkan sedih, kendati di hari baik dan bulan baik di bulan Ra’jab ini. Seperti yang dirasakan oleh sejumlah orang pada hari ini (mungkin pula sejak kemarin), entah dia seniman, entah dia penulis, entah pegiat kebudayaan, entah yang hanya aktif di sebuah mili, entah sebuah lembaga, pula sebuah keluarga di Peusangan sana. Kesedihan dan katerkejutan karena seseorang telah “pulang” sedang menyelimuti mereka.

Ridwan Haji Mukhtar, demikian nama yang telah pulang kemarin, pukul 18.40 WIB. Dia pulang, pulang ke rumahnya, ke persinggahan terakhir. Di sana, tuan rumah dengan segenap sukacita kita harapkan menyambut kepulangan dia. Dengan seutas senyum serupa dia yang acapkali menyembulkan sebarisan putih dari sebalik tebal kumisnya, malaikat sebagai tuan rumah menyambut kepulangan lelaki asal Peusangan itu.

“Rimueng teupluek,” itu kata yang saya ingat sering diucapkannya. Bagi saya, itu bukan kata makian. Namun, itu adalah kecirian yang mengkarakter dalam diri dia sebagai seorang budayawan, pegiat dunia tulisan.

Politik identitas menemukan kecelakaan yang nyata ketika kekerasan menjadi senjata, ketika hegemoni tanpa peluit etika,” katanya dalam sebuah artikel. Betapa kalimat itu menyiratkan sisa langkah pada ”kebusukan” politik praktis agar memberi peluang pada kata dan membungkam segenap bentuk kekerasan politik yang kerap berujung pada saling maki, saling cerca, hingga saling bunuh di tengah malam. Tentunya sebuah nasihat bagi yang ditinggalkan oleh lelaki yang telah pulang tersebut.

Selepas kata itu, dia pun pulang. Pulang ke haribaan-Nya. Siapa menduga, di balik ketegaran dan ulas senyum semangatnya, dia bergegas pulang? Tak yang dapat menebak rahasia Tuhan. Percayalah, kita semua akan pulang, baik yang sendiri maupun yang beragam, baik yang mandiri maupun bertuhan. Semua akan kembali. Semua akan pulang. ”Tabah,” ungkapan yang sering disisakan untuk sebuah kepulangan. Itu pula yang kita harapkan pada yang ditinggalkan. Jika yang pulang pada kebiasaannya diucapkan selamat datang, bagi dia yang pulang setelah dirawat di Rumah Sakit Harapan Bunda kemarin itu, saya ucapkan ”Selamat Jalan…”

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: