Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ingat

Oleh Herman RN

Pembaca yang budiman (berbudi dan beriman), saya yakin semua tahu tentang tawuran yang acapkali dilakoni sejumlah siswa, terutama anak SMA begitu selesai ujian akhir. Mereka—para siswa—itu berbondong-bondong memenuhi jalan raya dan sejumlah tempat, seolah pesta besar terhadap sebuah kemenangan baru saja dimulai.

Nah, kemarin, tawuran juga terjadi. Tapi, bukan oleh para siswa yang disebut-sebut masih berdarah muda. Tawuran kemarin dilakoni oleh orang-orang dewasa, bahkan oleh pemangku keamanan dan syariat Islam di kampong ini. Seperti diberitakan sejumlah harian lokal di Aceh, kemarin, Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) dan Wilayatul Hisbah (WH) Aceh saling tawur. Inilah hadiah ulang tahun ke-58 Satpol PP di kampong kita.

Ada yang geli membaca berita itu. Sebut saja salah satunya Abu Din—seorang lelaki setengah abad yang hidup di sebuah sudut Kota Banda Aceh. “Bukankah WH dan Satpol PP itu biasanya selalu bersama, seiring sejalan melakukan penegahan di setiap sudut kota jika terjadi pelanggaran?” katanya setengah bertanya.

Saya hanya tersenyum-senyum saja mendengar dia. Tiba-tiba seorang lelaki setengah tua lainya menghampiri Abu Din. Kelihatanya, lelaki itu teman Abu Din, mungkin pula tetangganya. Sedangkan saya, hanya menyimak pembicaraan mereka.

“Nyan keuh akibat buet teuga that peugalui daupu sira gob,” kata lelaki tua itu begitu bergabung dalam tema pembicaraan saya dan Abu Din sekitar perseteruan WH dan Pol PP.

“Terkadang, manusia di dunia ini memang ada rada-rada anehnya, apalagi jika sudah dapat ‘kuku’ sedikit. Bak teuga peugaluy dapu sira gob, dapu sira droe ka tuwoe. Kan sudah sering mereka (WH dan Satpol PP) itu melarang berbagai acara pesta yang bertentangan dengan syariat Islam di negara kita. Kok malah mereka kali ini yang menggelar pesta dengan joget-joget segala. Aneh kan?” kata lelaki tua itu.

“Itu makanya wajar saja WH turun tangan,” timpal Abu Din.

“Beutoi, tapi seharusnya itu tidak terjadi, karena akan sangat memalukan mereka sendiri. Mereka satu kantor. Kalau mereka saling koordinasi, tak mungkin itu terjadi,” cetus orang tua itu.

“Atau jangan-jangan WH tak kebagian joget, makanya dia marah,” sahut Abu Din tertawa lebar. Saya tahu, ucapan itu adalah canda Abu Din. Dia memang suka bercanda dan terkadang kelewat sikit. Jadi, dimaklumi saja. “Sudah sewajarnyalah WH mengingatkan, kan itu tugas dia,” kata Abu Din lagi.

“Tapi, padum keuh ék gop peuingat sabé, nyang leubeh göt kon taingat keudroe.
Ibaratnya, padum keuh mangat geuleupak gop tob, nyang leubeh mangat that ie reu-ôh droe,” sahut lelaki tua tadi bijak.

Abu Din manggut. “Haba nyan kon keu WH ngon Satpol PP mantoeng, tapi keu geutanyoe bandum syit,” ujar Abu Din melihat ke arah saya. Saya kembali tersenyum.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: