Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Nasib Guru

Oleh Herman RN

Aneh! Beberapa waktu lalu, media sering memberitakan mengenai sejumlah guru dan honorer yang berbulan-bulan belum menerima gaji 13. Sekarang, kita acapkali dihidangkan pemberitaan gaji/ honor PNS maupun guru yang hilang. Aneh bin ajaib, kehilangan honor tersebut di tangan pejabat berwenang. Ada yang hilang di dalam mobil pejabat terkait, ada yang hilang di parkir, dan hari ini, di Harian Aceh, diberitakan giliran honor guru SD 16 Juli yang raib.

Alasannya, serupa saja seperti kehilangan-kehilangan sebelumnya, tidak disengaja—dicuri akibat kelalaian—dan hari ini akibat kelalaian kepala sekolah setempat. Begitulah kata berita. Agaknya, persoalan cek gu kampong ini tidak habis-habisnya dari penderitaan, mulai dari upah yang tak seberapa hingga upah yang ada raib ‘dicuri’. Kalaupun para guru nantinya akan mendapatkan kembali jerih payahnya, mereka tetap harus menunggu. Padahal, mereka sudah dibuat menunggu dengan telatnya dana tersebut cair.

“Sabarlah, guruku,” mungkin kalimat ini belum basi kita ucapkan. Namun, kiranya sebuah kewajaran bagi sebagian orang menaruh curiga akan kehilangan beruntun dana guru ini. Pasalnya, bukan sekali, bahkan hampir di semua wilayah Aceh merasakan kehilangan insentif guru tersebut. Mulai dari Aceh Selatan, Aceh Tengah, dan sekarang giliran guru-guru di Bireuen. Mungkinkah sekenario kehilangan itu sudah diatur sedemikian rupa? Entahlan, tapi orang bijak berkata, “Kalau tidak ada berada, tak mungkin tempua bersarang rendah.”

Dalam kearifan ureueng Aceh, pun kita punya naritmaja serupa, Meunyoe hana angèn jipôt, panee patôt suwe meuputa; meunyoe hana sapue jitôt, panee patôt asap meubura.

Sekali lagi, entahlah… guru. Mungkin sudah menjadi nasibmu mengemban luka-duka dari setiap peluh yang engkau keluarkan. Sementara di sana, orang-orang seperti berteater saja demi menjadi bubè dua jab, seureukab dua muka sehingga hari ini hilang di sini, besoknya hilang pula di tempat lain. Lucu sekali, sebab yang hilang dana serupa dengan kasus yang sama pula.

Susah memang mencari orang yang dapat kita percaya mengemban amanah, apalagi amana tersebut berupa uang, beda dengan aman yang kita titipkan berupa kata. Jika amanah berupa kata, kita ucap satu inci, disampaikan satu jengkal, kita minta sampaikan satu jengkal, dia tambah lagi menjadi satu depa, lalu diperpanjang lagi menjadi sehasta, dan seterusnya. Akan tetapi, coba jika amanah yang dititipkan berupa uang. Kita berikan seratus, minta seribu, diberikan seribu, minta sepluh ribu, demikian seterusnya. Jika tak ditambah (mungkin sebagai ongkos), uang yang dititp disikut sehingga bukannya lengkap (utuh) sampai kepada yang dituju, malah berkurang.

Kesedihan teramat parah dalam hal ini ialah saat tempat penitipan diberikan kepada orang kepercayaan atau orang terpantas. Misalkan saja, kepala sekolah dalam hal gaji guru. Pantaskah seorang kepala sekolah menyebutkan gaji guru hilang, meski atas kelaian diri sendiri? Bukankah kepala sekolah diharapkan dan sangat dipercaya dapat menyampaikan amanah tersebut hingga ke guru-guru? Sebab, dia sendiri adalah bagian dari guru. Lagi dan lagi, kita hanya dapat mengatakan, entahlah. Taharap keu pageu, pageu pajôh padé; taharap keu jantông, geurusôk lam até.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: