Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Nostalgia Kemerdekaan

Oleh Herman RN

Mengenang perhelatan tujuh belasan, tadi malam, kami di kantor, iseng-iseng menonton kembali film “Naga Bonar”. Tawa sudah pasti menggelitik saat menyaksikan adegan kocak Dedy Mizwar dalam film tersebut. Semula kami menonton “Naga Bonar 2” yang sarat sindiran satir Dedy Mizwar terhadap zaman ini. Tak puas dengan itu, kami bernostalgia kembali pada “Naga Bonar 1”. Saat menonton “Naga Bonar 1”, tawa teman-teman ternyata semakin mengakak.

“Hai.. bek teuga that kém,” celetuk Tauris.

Namun, tak ada yang menggubris.

Kém meuhah-hah saleuk iblih, kém meuhih-hih saleuk guda,” kataku kemudian pada teman-teman meniru sebuah hadih maja Aceh.

“Ma, hanjeut takhém sare?” celetuk Tauris lagi.

“Kon hanjeut, tapi na teumpat. Kata pepatah, kém teuseunyoem-seunyoem saleuk bak teungku, kém sigeutue saleuk ulama,” sahutku.

Sudahlah tentang dawa-dawi sepintas kami. Kembali kepada cerita “Naga Bonar”. Betapa seorang jenderal dalam perang—meskipun jenderal palsu, Dedy Mizwar—dapat memperlihatkan ketegasannya. Misal saja, dalam hal menurunkan pangkat Mayor Lukman (cerita dalam film) menjadi Sersan Mayor, karena kedapatan menghamili anak masyarakat. Bahkan, pengumuman penurunan pangkat tersebut diadakan langsung di hadapan pasukan dan masyarakat setempat. Sungguh patut dicontoh sebagai pemberian efek jera bagi pelaku kesalahan, apalagi dia seorang pemangku keamanan.

Lalu coba lihat dunia zaman sekarang, entahkah masih ada ketegasan serupa itu. Yang kita tahu, baik dari mendengar atau pun membaca dari sejumlah media, jika pihak berpangkat kedapatan melakukan pelanggaran, selalu diupaya-sembunyikan. Dalihnya, malu jika ketahuan masyarakat, karena mereka (barangkali) orang berpangkat.

Padahal, jika mereka—para pemangku keamanan itu tahu, betapa masyarakat kalangan bawah juga punya rasa malu saat dikenakan hukuman. Tak perlu saya mengurai contoh terlalu banyak di ruang ini, cukup sekedar mengingat kembali beberapa kasus mesum yang dilakukan pejabat kita. Dengan lihai, sejumlah kasus bobrok para pejabat sebisa mungkin ditutupi, kalaupun tercium ke luar, penegakan hukumnya dibawa berbelit-belit. Walhasil, ada yang hilang, lenyap seperti di telan bumi, sedangkan tersangka berhasil melarikan diri. Namun, coba jika masyarakat kalangan bawah yang menjadi tersangka, cemeti rotan lekas singgah di punggung pelaku.

Entahkah, di usia lebih setengah abad negeri ini merdeka, hukum kita masih milik penguasa, hingga sanksi hanya berlaku pada masyarakat kecil? Padahal, di sana, dari mimbar-mimbar beruntai bunga, mereka memekikkan sebuah slogan bahwa hukum di negeri ini tidak pandang bulu, tidak pandang kulit. Jika memang demikian adanya, maka proklamasi hari ini, yang kita rayakan, tak lebih dari proklamasi kemenangan sepihak bagi penguasa, sedangkan kemerdekaan sesungguhnya, belum dirasa masyarakat biasa, terutama kemerdekaan tentang hukum dan “perut” di negeri tercinta ini. Apa kata dunia?

Mungkinkah kita akan terus bersorak “Merdeka”, jika merdeka yang dimaksud adalah kebebasan bagi para penguasa menancapkan kukunya ke masyarakat bawah? Sekali lagi (meniru Dedy Miswar), apa kata dunia???

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: