Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Damèe

oleh Herman RN

Kutulis sepucuk surat bersampul biru di ruang ini, berharap ‘merpati’ itu benar singgah di hati insan, baik dia hanya kepala rumah tangga mapun kepala negara, baik dia petani maupun menteri, baik dia nelayan maupun wartawan, baik dia tukang bangunan maupun pedagang, baik dia pengangguran maupun berpendidikan, baik dia penanam tomat maupun pembuat pesawat. Sungguh kita rindu pada kata itu: damèe.

Sahabat, surat ini kutulis berpohon ikhtiar, bertangkai doa, beranting asa, berdaun damba, yang akarnya kokoh mencakar bumi persada dan pucuknya menjulang ke langit perkasa, sembari belajar menjadi seorang pelupa terhadap dendam dan air mata. Namun, mencoba mengingat bahwa negeri ini pernah jaya sehingga kujadi lebih semangat menyong satu kata; damèe.

Sahabat, entahkah kau laki atau perempuan, jua wadam, kutak hirau, entahkah kau kecil atau besar, mungil ataupun kasar, sedang dan pertengahan ukuran, kuterima saja, entahkah kau berkuasa atau tidak, bersepatu atau tida, izinkan kau kusapa sebagai sahabat sambil menyerahkan satu kata; damèe.

Sugguh, kata itu kuyakin dambaan semua insan, mulai dahulu hingga sekarang. Maka tak berlebihan indatu kita berpesan, “Adat mukim peusahoe gampông, panglima kawôm nyang atô rakyat, adat sagoe beusahoe lam nanggroe, makmu nanggroe rakyat seujahtra.” Itulah dia, sahabat, yang kita damba; damèe.

Boleh saja kita cang panah keudéh, tacang keunoe, tapi hati kita satukan demi kata itu, sahabat. Ini zaman buruk bagi pikiran dan peradaban manakala masih ada yang gemar melempar jarum dalam tumpukan jerami, lalu meminta gam cantoy mencari jarum tersebut. Bukankah kita punya kearifan, “Gob keumawé bèk tiek tanoh cak, gob meupaké bèk riôh ngon galak?” Inilah yang kalau tak salah menjadi makna dari sekian maksud kata damèe.

Orang Melayu berujar, “Tak ada kusut yang tak terurai, tak ada keruh yang tak jernih” dan kita juga punya istilah, “Pat ujeuen nyang hana pirang, pat prang nyang hana reda.” Lantas, mestikah kita mengambil yang bukan menjadi hak kita? Mengeruk yang bukan milik kita? Merampas yang bukan jatah kita?

Sahabatku benar, aplikasi beragam pertanyaan itu masih ada yang melakoni di tengah damèe ini. Mereka itulah bubee dua jab, seureukap dua muka. Kepada mereka, kita hanya dapat berdoa agar dibukakan mata supaya dapat melihat di sebelah lain masih ada yatim dan janda, pakir dan papa.

Sesungguhnya, kata itu: damèe, adalah bagaimana kita agar lam udép tameusaré, lam meuglé tameubila, lam lampôh tameutulông alang, lam meublang tameusyedara. Jika ini ada, damèe pun paseuti jiteuka. Amin..ya..rabbal’alamin…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: