Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

wisuda

oleh Herman RN

takzim keu gurèe meuteumèe ijazah

takzim keu nangmbah meuteumèe harueta

takzim keu nabi meuteumèe syafa’ah

takzim keu Allah meuteumèe syiruga

Seminggu yang lalu, teman saya di harian ini menulis dengan bangga tentang sebuah anugerah bagi dirinya. Pasalnya, bulan ini dia telah menyudahi sebagian langkah di meja pendidikan. Keharu-biruan itu dia tuangkan dalam sebuah kelakar singkat di sebuah pojok halaman harian ini. Dan saya sangat paham, kebahagiaannya bertambah ruah pada 16 Agustus kemarin, sebab impiannya yang sempat sirna mengenakan toga kebesaran tanda sarjana akhirya berhasil melekat di tubuhnya yang gempal itu.

Sahabat—entahkah sudah layak kau kusapa sahabat, sebab baru setengah bulan kita saling kenal—aku tak lupa hari bahagiamu. Karena itu, izinkah sedikit kucelotehkan kebahagianku untukmu, meski barangkali tak dapat melengkapi kebahagiaanmu.

Aku sangat sadar tentang pertemanan kita yang baru dalam hitungan bulan. Namun, sedikit tidaknya aku sudah mengenalmu, sepak terjangmu masa lalu, perjalanan karier dan pendidikanmu. Maka itu, perkenankan kucelotehkan ‘sepukul dua pukul’ tentang kau di ruang ini, yang mungkin sebagian rekan kerjamu lupa akan hari itu—hari kau sudah resmi menyandang gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sosi).

Kukira, Sabtu itu, saat kau menjabat erat tangan Pak Rektor IAIN Ar-Raniry, sesudah pita biru di puncak topi togamu digeser ke kanan, akan ada iklan ucapan selamat padamu—walaupun hanya satu—terhadap kesuksesanmu meraih gelar sarjana. Aku tak tahu, apakah kau sedih karena ketiadaan iklan ucapan selamat itu, jika iya, maafkan saja, terutama aku, yang lupa mengingatkan rekan kita tentang iklan itu. (Anggap saja, cang panah ini pengganti iklan tersebut).

“Akhirnya kau wisuda juga!” bukankah kata itu kau rindukan dari teman-temanmu? Maka kukatakan sekali lagi, “Akhirnya kau wisuda juga!”

Begitulah jika sabar dan keyakinan itu masih kita punya. Cepat ataupun lambat, tak ada yang tak bisa. Ibaratnya, tameutani beuna saba, tameukat tamita laba, taibadat tameujaga, tahudép tameuagama.

Padahal, jika dikenang masa konflik Aceh, kau yang maniak internet dan mungkin bisa dikatakan internetlah yang menajdi musabab kau selamat dari amuk konflik bersenjata kala itu, betapa keyakinanmu untuk menamatkan pendidikan sangat kecil.

Aku tahu, kau salah satu orang yang dicari kala itu untuk dihabisi. Namun, Allah masih berkehendak agar kau tetap hidup dan mungkin agar kita bisa saling kenal, atau mungkin pula agar kau bisa memberi nasihat kepada pemuda pejuang masa sekarang, karena aku tahu, suaramu masih didengar oleh mereka, baik yang di desa maupun di kota, baik yang di kursi dingin maupun yang di kursi panas, baik yang masih hidup melarat maupun yang sudah jadi pejabat.

Kau yang waktu itu bersembunyi di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN Ar-raniry berhasil melarikan diri ke Jakarta. Karena saat itu memang situasi Aceh sedang panas. Apakah kau masih ingat terhadap seorang ibu yang memberimu usul agar kau segera lari tinggalkan Aceh secepat mungkin karena sejumah pasukan dengan mobil reo sedang mengincarmu? Oh, teman, jangan kau lupakan ibu setengah baya itu. Dia telah memberimu usul cemerlang kala itu, karena mungkin batinnya berkata, kau mesti dapat mengenakan baju toga seperti teman-temanmu, mahasiswa lainnya.

Sangat banyak orang yang memberimu usul, pendapat, dan ide cemerlang, termasuk memberitahumu bahwa menulis dapat membuat bertahan hidup dan itu sudah kau buktikan selama tinggal di Pusat Ibu Kota, Jakarta. Demi melanjutkan sisa langkah perjuangan hidup, kau menulis di media cetak sewaktu tinggal di Jakarta, aku tahu itu. Dan di negeri ini, kau melanjutkannya dengan sebuah tabloid Suwa. Maka, jangan lupa terhadap gurumu yang telah mengajarkan kau merangkai kata.

Ah, mungkin ruang ini tak cukup panjang untuk aku cerita tentang kau dan orang-orang yang sangat berjasa padamu. Namun, percayalah, kendati hanya berbekal pemberian semangat, di sana ada seorang lelaki yang dulu juga seperjuangan denganmu—saat ini sudah jadi pejabat tinggi negeri ini—yang juga selalu memberimu semangat dan kepercayaan agar kau segera menyelesaiakn kuliahmu. “Kemana pun kau minta melanjutkan pendidikan, akan kuusahakan, untukmu,” kata dia yang selalu menyemangatimu agar kau segera wisuda. Kau pasti tahu orang kumasud.

Dan aku juga tahu, kau tetap takzim padanya, pada tetangga, teman, guru, dan rekan sekerja, terutama sekali pada orangtua. Makanya kau berhasil wisuda, ya kan? Begitulah kata indatu kita, takzim keu gurèe meuteumèe ijazah, takzim keu nangmbah meuteumèe harueta, takzim keu nabi meuteumèe syafa’ah, takzim keu Allah meuteumèe syiruga. Selamat wisuda, Taufik Almubarak.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: