Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sandiwara Penguasa

oleh Herman RN

Entah kita lupa atau sengaja dilupakan oleh hiruk-pikuk perayaan ulang tahun bangsa ini sehingga ada satu kisah yang mulai redup-redam, mungkin pula lenyap tanpa pusara. Kisah itu teringat kembali di benak saya saat melihat pawai akbar anak-anak sekolah, kemarin, di kota ini. Melihat riak tawa anak-anak perserta pawai di jalanan itu, ingatan saya terbang kembali pada seorang anak yang pernah disulap usianya—dari 14 menjadi 18 tahun.

Kemarin, saya lihat anak-anak berjalan ria, beriringan, tersenyum dan tertawa riang bersama. Namun, tahukah di sana, seorang anak masih murung. Setelah media-media membongkar kisah pilu dia yang “dijahati’ oleh salah seorang pejabat negeri ini, kasus dia didiamkan. Entah karena yang melakukan ‘kejahatan’ itu adalah seorang pembesar (mantan pejabat teras negeri), yang sejatinya melindungi si anak, sehingga kasus tersebut didiamkan, wallahu’alam.

Namun, yang jelas kita sempat membaca polemik antara pihak pemangku keamanan dan pemutus kebijakan terhadap sebuah kejahatan di media-media yang bersandiwara. Pemangku keamanan mengatakan kasus pelecehan seksual yang menimpa korban seorang gadis kecil telah diserahkan kepada pemutus kebijakan. Namun, pemutus kebijakan menyatakan secara tegas pula bahwa mereka belum menerima kasus tersebut. Bukankah ini sandiwara penguasa?

Lihat saja, berkas kasus anak itu seakan dilempar ke sana ke mari. Setidaknya begitu yang kita tangkap dari pemberitaan media. Mulanya dikatakan berkasnya sudah diserahkan kepada pengadilan Banda Aceh. Akan tetapi, karena pengadilan Banda Aceh membantah telah menerima kasus itu, pemangku kemanan (baca: polisi) menyatakan berkasnya diserahkan ke pengadilan Jantho, Aceh Besar, bukan ke pengadilan Banda Aceh. Ironisnya, pegadilan Aceh Besar pun membantah telah menerima berkas kasus tersebut. Selanjutnya, kasus itu seperti ditelan bumi. Nah, kok bisa begini?

“Jelas bisa… kan negeri ini negeri hukum. Artinya, hukum kepunyaan orang-orang pemangku hukum. Yang namanya kepunyaan mereka, ya, sesuka hatinyalah. Mau dibuat begini, mau dibuat begitu, urusan dialah, hukum kan punya dia,” celetuk seorang teman suatu waktu. Mungkin perkataan teman saya itu dapat dimaknai juga pada kasus yang menimpa seorang anak asal Bireuen tersebut. Pasalnya, si pelaku adalah seorang yang pernah menjadi penguasa hukum di negeri ini.

Sungguh, kasus menghilangkan jejak pejabat yang menjadi tersangka di kampong seribu duka ini sudah menjadi rahasia umum. Padahal di sana, jargon hukum membentang gagah perkasa. Misalnya saja ungkapan, “Hukum tak padang bulu; Hukum tak pilih kasih; Hukum melindungi korban,” dan sebagainya. Kenyataannya, banyak kasus yang dilakoni oleh pejabat diusaha sembunyikan. Tak perlu saya rincikan kasus-kasus itu, Tuan-Puan dapat mengingat sendiri.

Meunyo pageue blang meubeunteung limong, jeuneuroeb taglong leueng sideupa; Peunoh syarat pageue, keubeue ditamong; Deunda peukeunong bak ureueng po hareta.” Nasihat indatu ini kesannya tak lagi berguna di kampong kita. Buktinya, sudah penuh syarat berkas tentang kejahatan oleh si penguasa, mereka (penguasa lainnya) masih bersandiwara. Dan kita mesti tahu pula, nasihat indatu itu sudah digantikan dengan pasal-pasal—hukum yang dibuat sendiri oleh penguas. Misalnya, pasal (1) pejabat tak pernah bersalah. Pasal (2) Jika pejabat bersalah, lihat pasal 1. Selamatlah berpasal-pasal.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: