Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sudah Melayukah DMDI (?)

Oleh Herman RN

Jauh sebelum Aceh dinobatkan menjadi salah satu wilayah kesatuan Republik Indonesia disebutkan bahwa negeri ini termasuk ke dalam kepulauan Melayu. Di peta lama, bila diamati seksama, tertera bahwa kerajaan Aceh Darussalam Berdaulat sampai ke Malaka. Ini menunjukkan bahwa Aceh memang bagian dari kebangsaan Melayu.

Kendati dalam peta Indonesia disebutkan bahwa Aceh terletak paling ujung kepulauan, yakni Pulau Sumatera, kenyataannya, di peta dunia terlihat bahwa Aceh terletak di tengah-tengah. Entah karena posisinya di tengah-tengah ini, banyak bangsa suka dan mudah berdatangan ke Aceh. Entah karena itu pula, lalu Aceh mendapat predikat “unik” di mata dunia, yakni laboratorium. Ada yang mengatakan Aceh laboratium sastra, ada yang menyebutkan laboratorium budaya, ada yang menyatakan laboratorium harta, dan yang paling dahsyat sebutan itu adalah laboratorium dunia. Mungkin karena itu pula, masyarakat Aceh tak lagi terkejut saat Indonesia menjadikan daerah ini sebagai laboratorium percobaan tentara-tentara dan polisi-polisi yang baru lewat—tentang laboratorium tentara/polisi ini, boleh dilihat saat Aceh dicetuskan sebagai Daerah Operasi Militer.

Terkait itu, adalah sebuah kewajaran jika Aceh dijadikan sebagai pusat pertemuan bangsa-bangsa Melayu sedunia sampai dua kali. Kali pertama (Barlian AW, Serambi Indonesia, 21 Agustus 2008—opini) di Lhokseumawe tiga tahun lalu; dan kali kedua di Banda Aceh 20-25 Agustus tahun ini. Hemat saya, ini salah satu kebanggaan Aceh menyandang gelar laboratorium dunia dan memang sudah sepantasnya orang yang berselancaran alu, atap yang berjahit, bendul bertekan, karena kita satu: Melayu.

Kendati menyebut nama Melayu, tulisan ini bukan hendak menggali sejarah kedatangan Melayu ke Aceh atau dari mana muasal Melayu, atau ke mana arah Melayu kita nantinya. Tentang sejarah Melayu bermula sudah ditelaah panjang dan mendalam di laman melayuonline.com. Jika masih kurang puas juga, boleh menanti makalah-makalah dan pembahasannya dari yang duduk berapit-bahu pada seminar Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang sedang diadakan Pemerintah Aceh beberapa hari ini di Hermes Palace Hotel. Mereka yang duduk di sana tentu pakar dan ahlinya, maka mereka sangat tahu tentang Melayu.

Dalam tulisan ini, saya sekedar berceloteh tentang orang Aceh yang dikatakan Melayu atau adatnya orang timur terhadap dalam kaitannya dengan perayaan DMDI kali ini.

Begini keresahan itu bermula, saat yang hadir dalam perhelatan itu adalah tokoh dari seluruh belahan dunia Melayu, patut kita lihat siapa yang menjadi pesertanya. Maksud saya adalah peserta dari Aceh, sebab kegiatan itu diadakan di Aceh. Pertanyaan yang lebih tepat, apakah kegiatan tersebut hanya diperuntukkan bagi kalangan pemerintahan (dinas) saja, sebab saya amati kebanyakan peserta yang hadir adalah mereka dari kelompok tersebut (sebut saja golongan pertama). Sedangkan beberapa pegiat kebudayaan yang saya temui di Banda Aceh, termasuk yang konsen terhadap penelitian Melayu (sebut saja golongan kedua), luput dari kacamata panitia. Saya pernah bertanya kepada beberapa orang yang termasuk golongan kedua ini, katanya mereka tidak pernah mendapatkan undangan ataupun walau sekedar pemberitahuan tentang acara DMDI yang agung itu. Rata-rata golongan kedua ini tahu kegiatan tersebut dari membaca media massa. Sungguh ini keresahan saya yang sangat ingin jawaban dari panitia, apakah pesertanya hanya kalangan pejabat di pemerintahan saja?

Jika memang jawabannya ya, berarti kalangan pemerintahan di Aceh sekarang ini adalah orang-orang yang tak paham Melayu dan adat Melayu? Berarti merkea belum Melayu? Ah, kedengaran terlalu kasar, tapi ini bukan cercaan, ini sekedar keresahan. Saya tahu ada beberapa peserta yang memang sengaja diudang dari daerah (luar Banda Aceh) dan bukan pejabat pemerintahan, tapi itu alakadar saja, sehinggga terkesan kehadiran mereka hanya untuk menutupi kesan bahwa panitia sudah bekerja keras dengan melibatkan peserta dari daerah-daerah.

Saya apresiasi terhadap keterlibatan peserta dari daerah itu. Tapi, alangkah lengkap lagi jika beberapa pegiat kebudayaan yang selama ini produktif mengaplikasikan ide, gagasan, dan pikirannya terhadap kebudayaan Melayu di Aceh, turut dilibatkan dalam seminar tersebut, meski sebagai peserta. Hal ini jika memang ingin memusyawarahkan Melayu kita. Tapi, jika DMDI kali ini visi misinya sekedar mendengar ceramah para pakar Melayu dari luar negeri, saya kira memang sudah tepat jika peserta hanya kalangan pejabat pemerintahan saja. Ya, itung-itung kenduri pejabat dengan tokoh luarlah, guna menghabiskan anggaran.

Namun, jika DMDI itu bertujuan hendak mendiskudikan tentang kemelayuan kita, baik berupa program maupun menselaraskan dasar-dasar hubungan Melayu-Islam sedunia, saya kira perlu peserta yang bergerak di bidang itu, seperti peneliti, penulis, dan pendidik, sehingga ada diskusi timbal balik antara pemakalah dengan peserta, bukan peserta yang sekedar pelengkap kursi kosong, yang pada akhirnya mengesankan bahwa pemakalah adalah Tuhan yang serba tahu segalanya, tahu tentang Melayu dan kita.

Untuk memperoleh peserta yang seperti itu, mestinya pemerintah Aceh menunjuk panitia yang mengerti dan paham tentang itu. Misalkan panitia melakukan tinjauan jauh hari sebelum hari “H” siapa-siapa yang pernah meneliti dan menulis tentang Islam, Aceh, dan dunia Melayu. Ini contoh sederhananya dan kita punya orang-orang seperti itu, tapi dia luput dari imbauan panitia. Saya tidak tahu, apakah panitia kurang memperhatian mereka atau sengaja melewatkannya, dengan tujuan yang tadi; mementingkan kalangan pejabat pemerintahan.

Sebagai orang yang bergerak di media massa, saya selalu memantau tulisan-tulisan yang berbau Melayu, makanya saya tahu orang-orang itu. Namun, maaf, dalam tulisan ini saya tidak menyebutkan nama-nama mereka, karena tidak ada guna lagi, semuanya sudah lewat. Seharusnya panitia paham benar terhadap orang-orang yang patut dilibatkan itu, bukan sekedar berpikir bagaimana mengisi kursi kosong demi menghindari kelebihan anggaran. Maka pertanyaan terkahir saya, sudah Melayukah perhelatan DMDI itu?

peminat budaya dan sastra, berdomisli di Banda Aceh

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: