Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Hai Bangsa Melayu, Tinggalkan Banyak Cakap!

oleh Herman RN

Berpuak-puak bangse Melayu hader ke Aceh. Mereke dudok berseronok dalam lokakarya (seminar) Pekan Peradaban Melayu Raya (PPMR) yang menjadi agenda Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Acara itu pun usai sudah setelah berhelat letih selama nyaris sepekan (20-25 Agustus). Guna menghilangkan penat karena dua hari sudah bercakap panjang di Hermes Palce Hotel, puak-puak Melayu di Banda Aceh ini pun bakal dihibur dengan kehadiran artis-artis kebanggaan bangsa Aceh (semoga menjadi kebanggaan Melayu juga), seperti Niken, Iyet Bustami, Krak Kustik, Sanggar Tari Rampoe Cut Nyak Dien. Tak cukup dengan hiburan serupa itu, malam penutupan juga direncakan akan hadir seorang presiden, yakni Presiden Rex, Hasbi Burman.

Disebutkan bahwa salah satu misi DMDI adalah menyelaraskan program-program pertemuan/lokakarya/konvensyen di lokasi-lokasi berlainan serta memantau program-program pembangulam seluruh dunia; merumuskan dasar-dasar hubungan umat Melayu-Islam sedunia bagi memudahkan kerja sama dalam pelbagai bidang, terutama ekonomi , teknologi maklumat , sosio-budaya, belia, wanita, pendidikan, agama, dan pelancongan. Ini dua dari empat misi yang diemban DMDI demi sifat objektifnya untuk menyatukan masyarakat Melayu dan Islam seluruh dunia.

Pertanyaan kita adalah apakah menyatukan dan menjunjung tinggi Melayu dan Islam mesti melalui helatan seminar-seminar, simposium, dan lokakarya serupa itu saja, dari tahun ke tahun? Tahun ini, di Aceh, sejumlah pakar Melayu dunia diundang untuk memberikan pemikiran dia dalam forum akbar DMDI di Hermes Palace Hotel, 22-23 Agustus. Percayakah Tuan dan Puan bahwa perkatan serupa—mungkin juga makalah yang sama dengan sedikit diedit—sudah pernah dibeberkan tiga tahun lalu di Lhokseumawe dalam acara yang sama? Lalu, sebelum di Lhokseumawe, perkara itu juga sudah pernah diamprahkan kepada peserta di negara Melayu lainnya beberapa tahu silam? Apa yang dapat dipetik dari seminar akbar yang diangung-agungkan itu? Sampai sekarang kita hanya dapat memetika satu kata, “Islam dan Melayu harus disatukan.” Dan nanti, entah di belahan bangsa Melayu mana lagi, mereka akan saling bagi pengalaman selama menjadi pakar Melayu, dengan ucapan yang sama, “Melayu harus bersatu.”

Hemat kami, cakap “Islam harus disatukan” atau “Melayu harus bersatu” sudah pernah dikatakan oleh kakek-nenek kita seratus tahun silam. Anak-anak kita yang baru saja mengenal huruf dan kata juga bisa bercakap serupa itu. Maka, yang terlihat di sana adalah saling puji ketangguhan terhadap cakap masing-masing dan masing-masing puak pula saling tunjuk dada. Sementara di seberang, katakanlah di negara-negara Yahudi, jarang sangat kita mendengar mereka membuat perhelatan di meja “cang panah”. Mereka, bangsa-bangsa Yahudi itu tak banyak capap. Mereka lebih pada berbuat sehingga lebih dikenal di dunia. Padahal, kalau kita teliti isi dunia ini, lebih 100 juta jiwa adalah penduduk Muslim, sedangkan Yahudi hanya 12 juta. Tapi, bangsa-bangsa Yahudi punya nama. Misalkan saja dari segi audio-visual (film), mereka punya nama Holli Wood, Bolli Wood, Sinema Hongkong. Melalui sinema-sinema itu pula mereka memperkenalkan kebduayaan mereka. Sementara Melayu, punya apa selain asyik cakap (omong kosong/cet langet) dari meja yang satu ke meja yang lain?

Sejatinya, bangsa-bangsa Melayu meninggalkan kebiasaan banyak bicara (cakap) itu. Kita mestinya dapat melihat bangsa Barat yang lihai menggunakan kemajuan zaman dalam memperkokoh persatuan puak-puaknya. Ucapan “Kita mesti bersatu” sudah selayaknya tak perlu lagi didengungkan di mimbar-mimbar pidato, karena sudah cukup kita dengar dari khatib di hari Jumat. Sudah masanya kita bergerak, menyedikitkan omong, memperbanyak buat. Sudah masanya kumpulkan uang (duit) untuk menciptakan hal baru sehingga kita tidak lagi menjadi bangsa pemakai (konsumen) saja. Lihat saja, kita Muslim naik haji, bawa pulang “buah tangan” berupa sajadah dan mukena, saat dilihat labelnya ternyata buatan China. Pemimpin-pemimpin kita hadir di meja Peradaban Melayu Raya mengenakan jas lengkap dengan dasi, tas kulit dan jam tangan mahal. Ketika diteliti, ternyata tak ada made in Melayu, yang ada made in China, Hongkong, Amerika, dan sekelompok itu. Secara tak langsung, mereka sedang memamerkan kepintaran bangsa-bangsa Barat itu dalam menyongsong teknologi. Lantas, masih pantaskan kita memperbanyak cakap di meja DMDI dengan ucapan, “Lawan Yahudi, satukan Melayu dan Islam?”

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: