Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Bintang (1)

oleh Herman RN

Ketika saya masih kecil, saat masih di bangku sekolah dasar dulu, saya pernah mendengar lagu “bintang kecil” dari guru kesenian saya. Lagunya hanya sebait, tapi diulang-ulang. Begini bunyinya, “Bintang kecil di langit yang tinggi/ Amat banyak, menghias angkasa/ Aku ingin terbang dan menari/ jauh tinggi ke tempat kau berada.” Lagu itu hasil gubahan R.A.C.

Seperti kita tahu, bintang adalah benda-benda kecil yang bercahaya kala malam. Konon, katanya, bintang itu anak bulan. Saya tak tahu pasti jika bulan dapat beranak. Entah karena bentuknya lebih besar dan lebih bercahaya daripada bintang, maka bulan dikatakan induknya bintang, pastinya hanya Yang Mahakuasa yang tahu.

Di bumi juga bintang. ‘Cahayanya’ tak kalah ‘terang’ menyinari kota. Halnya bintang yang sering nyala kala malam (jika tak ada hujan) letaknya di atas, di bumi, bintang juga dikatakan posisinya di atas. Bintang di sini maksudnya adalah orang-orang yang sudah berada di posisi atas, semisal pimpinan, pejabat, dan artis. Atau mungkin, WH, Satpol PP, Polhut, juga dapat dikatakan sebagai bintang, sebab mereka juga sering ‘dipandang’ dan dibicarakan. Di bumi, bintang biasanya memang sering jadi bahan pembicaraan.

Jika bintang di langit terlihat indah dan disenangi oleh pandangan siapa saja, terutama oleh anak-anak, bintang di bumi juga tak kurang demikian. Namun, bintang di bumi terkadang dipandang sebagai suatu cela dan aib. Bintang yang sudah dianggap membawa aib kebiasaannya saat ketahuan bertingkah di luar jalur. Misalnya, ada pimpinan ketahuan ‘main serong’ di luar kantor, ada pejabat kedapatan ‘makan’ uang negara, ada WH ketangkap mesum, ada Satpol PP ketahuan makan pajak pasar, ada Polhut ikut illegal logging, dan sebagainya. Maaf, ini kalau ada. Semoga daja tidak ada (lagi).

Seperti bintang di langit yang senang dipandang, tentunya jika bintang di bumi ini berperilaku baik, juga akan senang dipandang. Bahkan, bukan hanya itu, dia akan jadi pujaan di hati dan bibir masyarakat. Namun, jika bintang itu hanya suka jadi bintang demi jadi bahan omongan dan agar dipandang sorotan media, jalur pertama tadi boleh jadi pilihan, yakni melakukan sesuatu hal yang dilarang dan bertentangan dalam ketentuan hidup di bumi. Mengapa saya katakan demikian? Sebab, akhir-akhir ini saya amati banyak orang ingin jadi ‘bintang’ agar cepat terkenal.

Amati saja, betapa banyak yang ingin tampil di depan memperlihatkan diri agar dirinya lekas dikenal. Apalagi, musim pemilihan sudah tiba. Para calon legislatif dan calon pemimpin semua ingin jadi bintang. Semua ingin dikenal.

Saya ingat sebuah pepatah gila yang menyebutkan, “Jika hendak cepat dikenal, kencingilah sumur zam-zam.” Mungkin untuk di Aceh, mengencingi kolam renang Mesjid Raya juga akan lekas dikenal bansigom Aceh. hehehehe…

Tapi ingat, dalam kearifan ureueng Aceh dikatakan bahwa “Meulangga hukôm raya akibat, meulangga adat malee bak donya.” Idrus, seorang penyair Indonesia, mengatakan “Banyak jalan menuju Rhoma.” Tinggal Anda mau pilih jalan yang mana. Mungkinkah jalan pintas dianggap pantas???

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: