Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Bintang (2)

Oleh Herman RN

Menyambung “cang panah” tentang bintang kemarin, hari ini saya berikan judul yang sama dengan episode dua.

Kemarin, saya jalan-jalan ke sebuah kantin kampus di Darussalam. Di sana, saya bertemu dengan seorang teman yang masih tercatat sebagai mahasiswa. Kata teman saya itu, “Apa mahasiswa juga dapat dikatakan atau menjadi bintang?”

Dia menanyakan itu begitu melihat saya muncul di kantin kampus tersebut. Saya tidak menjawab pertanyaan dia. Saya mengambil posisi duduk berhadapan dengannya sembari memesan segelas kopi pancung. “Menurutmu, apakah mahasiswa sekarang masih dapat dikatakan sebagai bintang?” tanya teman saya itu kembali.

Saya tersenyum mendengar pertanyaan dia. Saya tahu dia bertanya seperti itu karena sudah membaca “Bintang” dalam kelakar saya sebelumnya. Melihat saya diam dan hanya tersenyum, teman tadi kembali mengulang pertanyaannya yang pertama, “Apakah mahasiswa dapat menjadi bintang?”

“Pertanyaanmu yang kedua tadi apa?” saya balik bertanya. Dia mengulangi kembali pertanyaan keduanya tentang kondisi mahasiswa sekarang, apakah masih bisa dikatakan jadi bintang atau tidak. “Nah, dari pertanyaan keduamu, pertanyaan pertama sudah terjawab. Jika kamu bertanya mahasiswa sekarang masih dapat dianggap jadi bintang atau tidak, berarti kamu percaya bahwa mahasiswa pernah adi bintang. Artinya, mahasiswa dapat juga jadi bintang kan?” ucapku masih dalam keadaan tersenyum. Saya tahu maksud pertanyaan dia adalah mahasiswa di kampus itu, kampus yang juga pernah menjadi tempat aku menimba ilmu.

Peh tèm kami pun mengalir flash back. Saya kembali ingat saat masih menyandang predikat mahasiswa. Kepada teman saya yang terpaut satu tahun di bawah saya (yang seharusnya dia juga sudah menyelesaikan sarjananya), saya berkisah.

“Kamu tahu, siapa yang menggulingkan Soeharto dari jabatannya sebagai presiden?” ucapku sedikit meniru gaya diplomatis orang-orang kampanye. “Mahasiswa, Bos!”

Oya, tak usah mengingat terlalu jauh, mulai saja dari pengalaman kamu saat menjadi mahasiswa di sini. Apa kamu masih ingat setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, dan tiga tahun lalu? Ya, saat aku masih jadi mahasiswa juga di sini. Kamu ingat kan?

Rektor perguruan tinggi kita, ketika masih dijabat oleh bapak yang dulu itu, mengancam mahasiwa jika menggelar ospek dengan alasan perpeloncoan. Lalu, kita dan beberapa teman mahasiwa lainnya bersikukuh menjelaskan kepada rektor bahwa tidak akan ada perpeloncoan, tapi rektor tetap melarang adanya Ordikmaru di kampus kita. Rektor mengancam akan mengeluarkan mahasiwa dari kampus ini, jika tetap menggelar ospek, apa pun alasannya. Namun, apa yang terjadi, fakultas kita tetap mengadakan perkenalan dengan mahasiswa baru kan? Dan kita buktikan kepada rektor bahwa tak ada perpeloncoan selama kegiatan tiga hari itu. Kita sukses. Mahasiswa jadi bintang!

Tahun kedua setelah tsunami, larangan serupa kembali datang. Waktu itu rektor di perguruan tinggi ini sudah berganti. Ancaman yang sama tetap ditebarkan. Bagi mahasiwa senior yang mengadakan perkenalan kampus kepada mahasiswa baru, apa pun nama kegiatannya, akan di-DO. Kenyataannya, fakultas kita tetap menyelenggarakan perkenalan kampus itu. Kamu yang waktu menjadi ketua BEM, apa benar dikeluarkan dari perguruan tinggi ini? Ancaman skorsing selama dua semester pun hanya berlaku di selembar kertas kan? Karena kita memang bintang, bersinar terang dan tak menipu dengan sinar yang kita miliki. Akhirnya, sukses perkenalan dengan mahasiswa baru kita kan?

Nah, coba ingat pula tahun kemarin, larangan dan ancaman sama juga datang dari rektor perguruan tinggi ini. Tapi, apa yang terjadi? Di fakultas, dekan kita saja menyetujui acara perkenalan kampus dengan mahasiwa baru. Bahkan, dekan kita ikut acar perkenalan dengan mahasiswa baru, meskipun sekejap. Karena apa? Karena perkenalan itu penting, Bos. Artinya, mahasiswa kala itu tetap masih jadi bintang.

Teman, saya tidak tahu apakah sekarang mahasiswa masih boleh kita anggap jadi bintang. Pertanyaanmu yang satu ini, sepertinya mesti dijawab sendiri, sebab kamu sendiri saat ini masih mahasiswa. Hahahaha….

Tapi, kalau boleh kumenduga, mahasiswa sekarang juga masih boleh dikatakan sebagai bintang, yaitu bintang gosip. Hehehe.. maaf, becanda. Tapi, benar kok, menurutku mahasiwa sekarang masih tetap bintang. Bintang di bumi kan sering dibicarakan, seperti kita yang sering membicarakan tangguhnya mahasiswa yang dapat menggulirkan presiden waktu itu, sekarang pun mahasiwa di kampus kita jadi bahan perbincangan para senior-senior yang sudah tamat dari sini. Mereka selalu membincangkan kalian, para mahasiswa sekarang, yang tak berkutik dari ancaman Pak Rektor. Jadi bintang juga namamnya kan? Teman, Boh kruet rasa peunajôh ureueng dusôn, yôh goh tapubuet bek bagah that talakee ampôn, hai mahasiswa!

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: