Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Buleuen

oleh Herman RN

Dalam cang panah sebelumnya, saya pernah menyatir tentang “Bintang”. Ada anggapan bahwa bulan adalah induk bintang. Entah karena ia lebih besar dari bintang. Yang jelas, kata “bulan” acapkali dikaitkan dengan keindahan.

Entah karena cahayanya yang terang menyinari sejagat alam, bulan sering dikaitkan dengan kata “indah”. Misalnya, ada perempuan yang cantik, kerap dikatakan wajahnya bak bulan. Seorang anak diminta menggambar tentang langit yang indah, selalu memakai gambar bulan, di samping ada awan pelangi atau bintang (jika dia menggambar alam saat malam).

Keindahan tentang bulan semakin lengkap saat ia berbentuk bulat penuh. Bulan yang sudah bulat penuh disebut orang dengan bulan purnama. Maka ketika ada dara yang dikatakan memiliki wajah bak bulan purnama, berbarti lengkaplah sudah kesempurnaan wajahnya diciptakan Tuhan.

Jikan bulan purnama letaknya di langit, ada bulan yang juga indah, yang bukan hanya ada di langit. Mungkin bulan yang satu ini lebih indah dari purnama empat belas yang diangung-agungkan orang itu. Ia ada di langit, ada dibumi, ada di hati, terutama sekali hati umat Islam. Sangking indahnya bulan yang satu ini, ia dinanti-nanti oleh segenap Mukmin dan Mukminat bansigom donya.

Berbeda dengan purnama yang umumnya terbit setiap tanggal empat belas/lima belas perhitungan hari, bulan yang satu ini hanya ada setahun sekali. Bahkan, bulan yang satu ini benar-benar penuh tiga puluh hari (kadang ada juga 29 hari) hitungannya. Karena itu, ia lebih dirindukan daripada purnama.

Jika telah tiba bulan ini, tiga keuntungan yang dipilah setiap hitungan sepuluh harinya diberikan kepada orang-orang yang beridabah di dalamnya. Di sana ada rahmat, ampunan, dan dijauhkan dari api neraka.

Masih pada bulan yang satu ini, ada malam yang sangat mulai, yakni malam diturunkannya Alquran yang menjadi pedoman bagi umat Islam. Sungguh dahsyat bulan itu, makanya ia lebih indah dari seribu purnama di langit. Bayangkan saja, mendapati malam lailatul qadar yang terdapat hanya satu malam dalam bulan tersebut, sama dengan mendapati seribu bulan yang amat baik lagi barakah. Karena itu, disebutkan bahwa kepada mereka yang mendapatkan malam lailatulqadar tersebut sama dengan beribadah dalam seribu bulan lainnya.

Umur manusia mana di dunia ini yang sampai seribu bulan? Sungguh dahsyat, bukan? Bersebab itulah bulan satu ini sangat dinanti-nantikan oleh kaum mukmin. Bulan itu adalah Ramadhan, bulan penyempurna segala bulan. Sungguh beruntunglah umat Islam karena ia diberi satu bulan yang lebih sempurna dari bulan-bulan lainnya. Meukurông uroe tanda musém khueng; meukurông buleuen tanda ie raya. Seumpurnalah amai bandum ureueng, ‘oh meuteumeung buleuen puasa. Wallahhualam…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: