Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Lamsulet

oleh Herman RN

Serupa pawai akbar tujuh belasan atau perayaan hari besar kenegaraan, mereka beramai-ramai ke rumah Tuhan. Yang laki-laki memakai peci, yang perempuan berkostum serba putih. Gerombolah itu beriringan menuju sebuah bangunan berkubah runcing. Ada gambar bulan dan bintang di puncaknya. Mereka sebut rumah itu dengan “masjid”.

“Bulan ini bulan mulia, bulan penuh rahmat, berkah, dan ampunan. Di bulan ini, telah ditutup pintu neraka dan pintu syurga terbuka lebar-lebar. Di bulan ini, segala jenis jin yang suka merayu manusia telah dirantai. Karenanya, mari kita perbanyak amal ibadah di bulan ini.” Seruan itu terdengar lantang dari pengeras suara yang dipajang di sebuah kubah masjid gampông Lamsulet.

Gampông itu terletak di sudut sebuah kota yang dulunya air laut pernah banjir di sana. Sejak air laut naik ke gampông mereka yang kemudian surut lagi, masyarakat gampông itu terlihat rajin memenuhi tempat-tempat ibadah, terutama sekali masjid, entahlah dengan gereja atau wihara.

“Apa benar di bulan ini, jin, syetan, dan segala jenisnya dirantai seperti pencuri yang ditangkap polisi?” ujar Dolah, seorang anak usia 13 tahun, sepulang dari masjid malam itu.

“Ya iyalah, ini kan bulan Ramadhan,” sahut Udin.

“Makanya, bulan ini kesempatan kita taubat, Dolah, karena kita sudah terlalu banyak buat dosa tempo hari,” timpal Saiful.

Dolah, Udin, dan Saiful merupakan tiga sekawan yang orang-orang gampông Lamsulet menjulukinya bak pinang dibelah tiga. Pasalnya, kemana-mana mereka selalu bertiga, bermain bertiga, mandi di sungai bertiga, mau pilih masjid untuk salat tarawih pun, bikin perjanjian bertiga. Mereka dijuluki seperti itu, karena jika ada yang mencari seseorang dari mereka, sangat mudah, tinggal bertanya pada yang duanya.

Seperti suatu hari, saat bunda Dolah sangat memerlukan Dolah untuk mengambilkan daun pisang, bunda Dolah sudah mencari ke sana sini, tetapo ditemui. Tapi, begitu ke rumah Saiful.. “Saiful, apa kamu ada melihat Dolah?”

“Tadi katanya dia pergi ke pasar, Makcek. Dia bilang Makcek yang suruh dia cari daun pisang untuk buat timpan,” jawab Saiful.

“Tak pintar-pintarnya anak satu itu. Disuruh ambil daun pisang di belakang rumah, malah mencari ke pasar,” kata bunda Dolah. “Ya sudahlah, Saiful, Makcek pulang dulu ya.”

Pernah juga suatu kali, Pak Imam mencari Udin. Setelah dicari dan ditanya kepada anak-anak seusia mereka, tetap ada yang tahu keberadaan Udin. Namun, setelah Pak Imam bertemu dengan Dolah, posisi Udin pun dapat dilacak. Begitulah mereka. Jika yang satu hilang, yang dua lagi pasti tahu ke mana hilangnya yang satu. Mereka pun digelar awak gampôngnya bak pinang dibelah tiga.

***

Malam berikutnya, rombongan serupa karnaval tujuh belasan kembali tampak menuju masjid gampông Lamsulet. Rombongan itu semakin terlihat ramai ketika pulangnya. Mereka jalan beringinan, yang perempuan keliahatan putih-putih, sedangkan yang laki-laki, peci mereka ada yang putih, ada yang hitam, sebagian tak berpeci, tapi masuk juga rombongan serupa pawai tersebut.

Malam itu, Udin, Dolah, dan Saiful tak langsung pulang ke rumah. Mereka berhenti di pos ronda gampông. Tak ada orang di sana, selain mereka bertiga. Kegiatan ronda malam, sejak masuk bulan puasa memang sudah ditiadakan di gampông itu. Padahal, sebelumnya dilaksanakan ronda malam keliling desa oleh kaum pemuda dan bapak-bapak. Bukan karena perintah polisi atau tentara seperti waktu gampông Lamsulet masih dalam konflik, tapi inisiatif orang gampông sendiri menggelar ronda malam. Pasalnya, di gampông mereka kerap terjadi pencurian. Namun, sejak masuk bulan Ramadhan, kegiatan itu ditiadakan. Alasannya, menurut Pak Geuchik, nyaris sama dengan ceramah Pak Imam malam kemarin, karena bulan puasa adalah bulan rahmat, syetan dirantai dan dipenjara. Jadi, takkan ada syetan yang berkeliaran, yang bakal menggoada manusia-manusia untuk mencuri.

“Dolah, kulihat kelapa-kelapa Teungku Husen yang di kebun lebat sekali sudah buahnya. Bagaimana?” ujar Udin, sejenak setelah duduk di balai pos jaga. Matanya mengerdip ke arah Saiful. Saiful hanya tersenyum sambil menghempaskan juga pantatnya di bala jaga tersebut.

“Tak tahulah aku bagaimana bisa lebat. Kelapa di belakang rumahku, sudah tiga bulan tidak ada yang bisa diambil buahnya. Belum sempat tua, sudah duluan dibolongin tupai.”

“Bukan lebatnya yang kutanya, Pantengong! Maksudku, bagaimana kalau kita petik beberapa buah. Lumayan untuk jajan lebaran nanti.”

“Begini, Dolah,” sela Saiful. “Maksud Udin, kita hanya memetik beberapa buah, lalu kita jual. Uangnya kita tabung untuk jajan lebaran.”

“Aku tak mau!”

“Alah kau.. sok alim pula kau kali ini kutengok. Biasanya, kalau ada target, kau yang duluan semangat,” sergah Udin.

“Tapi, ini kan bulan puasa, nanti puasa kita bisa batal. Kata Pak Imam, pahala puasa kita bisa berpindah ke orang lain. Tingkat membicarakan aib orang saja, pahala puasa kita pindah ke orang yang kita bicarakan itu. Jadi, kalau kita mencuri kelapa Teungku Hasan, berarti pahala puasa kita akan pindah sama dia.”

“Hahahaha… keciprat ilmu dari mana kau?! Eh, Dolah, kamu mimpi baca kitab apa semalam, ha?”

“Bukan, tapi itu kata Pak Imam. Bunda juga bilang begitu kok.”

“Hem.. begini, kawan, kita puasa itu kapan?”

“Sekarang, selama bulan Ramadhan,” jawab Dolah.

“Bukan itu, maksudku, kita puasa, menahan lapar dan haus itu siang atau malam?” Udin mulai geram mendengar jawaban bodoh temannya itu.

“Siang,” sahut Dolah mantap.

“Itu artinya kita puasanya siang. Nah, ini kan waktunya malam, berarti tidak ada yang batal malam ini, sebab puasa itu siang, Dolah.”

“Tapi…”

“Lagian, kita hanya mengambil beberapa buah dalam satu batang. Mungkin bisa jadi dalam satu batang kita petik dua atau tiga saja agar tak tanda Teungku Hasan kalau kelapanya ada yang petik. KITA panjat tiga batang malam ini. Lagian, kau ingat kan, beberapa kali kita minta sebuah kelapa muda untuk minum buka puasa pada Teungku itu, tak pernah diberikan sekali pun. Itung-itung malam ini kita kasih pelajaran bagi dia,” ucap Saiful.

Akhirnya, malam itu mereka jadi mengambil kelapa Teungku Hasan. Seperti biasa, Dolah kena tugas tukang panjat, sedangkan Udin menanti di bawah pohon sebagai tukang pilih, dan Saidul di pinggir jalan mengawasi kalau-kalau ada penduduk yang melintas.

Dolah menyiapkan pelepah daun pisang sebegai tali penyangga kakinya. Dia siap memanjat. Satu batang kelapa sukses diambil hasilnya. Tiga buah kelapa sudah disembunyikan di sebalik semak. Pohon kedua juga berhasil dipetik tiga buah kelapa. Namun, saat Dolah memanjat pohon ketiga, baru sampai setengah, terdengar suara teriakan “maling”.

Udin berlari ke arah Saiful di pinggir jalan. Saiful yang lebih tua setahun dari Udin dan Dolah cepat menyikapi suasana. Didekatinya pohon kelapa yang dipanjat Dolah. “Tenang! Tenang! Bukan kita. Warga mengejar seseorang yang lari dari kandang ayam Pak Imam,” ucapnya sambil mendongak ke atas, ke arah Dolah.

Suara teriakan maling, pencuri, semakin terdengar jelas ke arah mereka. “Pancuri.. pancuri.. maling.. tangkap…”

Entah siapa memberi komando, Udin menghambur ke balik pohon kelapa yang dipanjat Dolah, sedangkan Saiful menyelinap di balik parit jalan. Di atas pohon kelapa, Dolah hanya bisa menahan getar kakinya. Dari atas pohon itu, dia melihat jelas serombongan orang sedang mengejar seseorang yang berlari ke arah kebun Teungku Hasan. Dolah menahan napas. Kakinya menggigil hebat.

Tak jauh dari tempat persembunyian Saiful, seorang lelaki terjerambab. Sebelah kakinya menyepak buah kelapa yang disembunyikan Udin di balik semak. Saat itu pula orang-orang yang menjerit dan mengejar menangkap pencuri itu. Si pencuri dihajar hingga babak belur. Dolah melihat jelas kejadian itu sembari berusaha menaham gigil kakinya. Selepas dihadiahi bogem mentah, pencuri itu dibawa ke balai desa. Saat orang-orang meninggalkan lokasi itulah, Dolah turun perlahan.

Malam itu, mereka tidak mengambil kelapa yang sudah berhasil mereka petik. Ketiganya memilih pulang sambil membawa ketakutan masing-masing. Dolah yang menyaksikan dengan jelas adegan pemukulan terhadap pencuri ayam Pak Imam bergumam tidak akan mencuri lagi. Dia membayangkan jika malam itu ketahuan oleh warga mencuri kelapa Teungku Hasan, pastilah tamat riwayatnya.

Keesokan harinya, Dolah pergi ke sungai pagi sekali. Selepas salat subuh, dia langsung menuju sungai hendak mandi. Dia belum berani melihat wajah warga, makanya memilih mandi pagi-pagi sekali. Tapi, di sungai dia tetap menemukan seorang warga gampôngnya. Lelaki itu dilihatnya sedang mengangkat bubu dari sungai.

Teungku Hasan?!” ujarnya setengah menjerit.

Lelaki yang ditegur seketika melihat ke arah Dolah. Hanya sesaat. Menyadari yang menegurnya seorang anak kecil, Teungku Hasan melanjutkan kerjanya. Dia mengangkat bubu kembali, menuangkan isinya di tanah.

Teungku, mengapa diangkat bubu Pakcek Karmin. Eh, Teungku mengambil ikan-ikannya ya? Kan bisa batal puasa, Teungku.”

“Hust.. anak kecil tahu apa kamu. Kalau mau mandi, mandi saja sana. Setelah itu, pergi sekolah. Nanti telat.”

Dihardik seperti itu, Dolah diam. Dia mandi, lalu bergegas pulang. Dalam hati dia sempat berpikir, pantas Teungku Hasan selama bulan puasa ini menjadi tukang jual ikan. Rupanya dia mengambil ikan dari bubu Pak Karmin. Dolah pernah mendengar dari Teungku Hasan kalau dirinya menjual ikan selama bulan puasa sambil melalaikan puasa. “Kerja menjual ikan hanya duduk-duduk sambil menunggu waktu dhuhur. Daripada duduk di balai jaga, yang ada hanya membicarakan aib orang lain, kan lebih baik buka dagangan ikan di depan rumah. Modal kita hanya sebuah meja kecil dan selembar goni untuk tempat ikan. Kita terhindar dari menggunjing, rezeki pun datang,” ucap Teungku Hasan.

***

Di sekolah, Dolah, Udin, dan Saiful, kembali mendengar nasihat sama dari gurunya agamanya seperti yang diutarakan Pak Imam malam kemarin. “Bulan Ramadhan ini, kita perbanyak amal ibadah, mumpung syetan-syetan yang biasa menggoda manusia sedang dirantai oleh malaikat-malaikat Allah,” kata guru mereka.

“Bu, apa betul syetan dan jin dirantai?” tanya Dolah saat diberi kesempatan bertanya.

“Ya, benar sekali. Semua jenis syetan dirantai dengan rantai yang besar.”

“Berarti seyetan tidak bisa menggoda manusia selama bulan puasa ini ya, Bu, karena kakinya dirantai?”

Guru agama itu mengangguk mantap. “Lantas mengapa masih ada yang mencuri ayam di rumah Pak Imam kemarin malam, Bu?” kata Dolah cepat. “Terus, mengapa masih ada yang mengambil ikan di bubu orang lain di bulan ini, Bu? Terus, kalau ada yang berpikir mencuri-curi minum sewaktu puasa, itu bukan karena godaan syetan ya, Bu? Jadi, siapa yang goda, Bu? Apa malaikat? Terus, kalau mencuri waktu malam, masih bisa ya, Bu, karena puasanya cuma siang? Terus…”

Guru agama mendehem. Dolah tak jadi melanjutkan kalimatnya. Hening. Anak-anak di ruangan semua sedang menunggu jawaban dari guru agama mereka.

Jumat, 5 Sep ’08, pukul 00:00-02:25 WIB

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: