Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kursi

Oleh Herman RN

Macam cara orang mencari sensasi. Entah karena bulan ini disebut suci. Yang jelas, demi kursi, banyak cara dilakukan. Perkara halal-haram mungkin urusan kedua, yang penting mendapat muka. Entahlah.

Kursi hanya sebuah benda. Nyaris di setiap rumah ada kursi. Persoalan kursi empuk atau kursi kayu, ini dia yang sedang hangat-hangatnya di kampong kita. Apalagi, kalau dikatakan kursi basah, meski tidak disiram air, tetap basah untuk diperebutkan. Maka, tarik ulur memperlihatkan wajah garang sudah menjadi salah satu jalan.

Pengorbanan, itulah yang terdepan. Kalau perlu mengorbankan kepunyaan pribadi. Jika kepunyaan pribadi bisa dikorbankan, mengapa tidak kepunyaan lembaga? Hehehe.. Akhirnya, aksi turun menurunkan bendera lawan pun terjadi.

“Ya, mulai saja dengan menurunkan bendera lawan. Biar bendera kita saja yang berkibar,” kata Apa Ta’euen pada teman-temannya.

Itu pun terjadi. Hari ini bendera kelompok Apa Caplok diturunkan, besoknya giliran bendera Apa Bangai. Eh, tak tahunya, kelompok Apa Caplok dan Apa Bangai semakin terkenal di masyarakat. Dua kelompok ini mulai mendapat simpati dari masyarakat. Sejumlah media pun mulai menjadi juru kabar memperkenalkan dua kelompok yang mendapat perlakuan tak sehat dalam persaingan kursi tersebut.

Apa Ta’euen mulai putar otak. Akhirnya, keesokan hari, dia memerintahkan anak buahnya untuk memotong bendera kelompok sendiri. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan anak buah Apa Ta’euen. Namun, setelah dijelaskan bahwa ini salah satu mencari sensasi, pahamlah para anak buah tersebut. Walhasil, jika Apa Ta’euen hanya memerintahkan potong tiang bendera, anak buahnya malah membakar bendera tersebut.

Menyikapi tingkah polah anak buahnya yang membakar bendera sendiri, Apa Ta’euen tidak marah. Dia malah senang. Sembari mengusap bulu halus di bawah dagu, Apa Ta’euen berujar, “Besok, bendera-bendera kita yang di ujung lorong kampong tetangga itu, semuanya diturunkan, bakar semua, biar masyarakat simpati kepada kita,” ucapnya serius.

Demikianlah sejurus dongeng di kampong ini. Semua demi kursi. Tak puas mengumbar janji, korbankan milik lembaga sendiri. Yang penting dapat simpati. Kalau perlu, sekaligus dengan empati. Maka, berlagaklah Apa Ta’euen seperti ureueng nyang tueng bila. “Ini sudah bisa bagi kami. Kami tak marah tiang bendera kami ditebang, bendera kami dibakar. Kami percaya Tuhan bersama yang benar,” katanya membawa nama Tuhan segala dalam kancah ‘kursi’.

Ah, kawan saya pernah menyatir, bahwa dalam kancah memperebutkan kursi, jual menjual ayat sudah menjadi rahasia umum. “Mencari ayat yang ada kaitannya dengan bendera lembaga, lambang lembaga, adalah kebiasaan pada merekea (pengerja kursi) itu sejak dari dulu,” kata teman saya.

Mungkin teman saya benar, sebab sedari dulu pula, indatu pernah berujar, “Ureueng malém peudeuh peungeuh, ureueng ceubeueh peudeuh nyang tueng bila.” Seolah-olah dialah udangnya, yang lain ikan, seakan dialah yang malang saja (sehingga butuh ditolong dan disokong), yang lain hidup dalam bahagia. Ah… kursi…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: