Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mantra

oleh Herman RN

Hei alu kapi alu, gunong geulungku bak teungoh jalan, bandum sebab na bak jaroeku, keudéh bak Allah pulang keumatian. Dari Tiro sampoe u Bireuen, katrép meujangeun keulinci percobaan. Pat droeneuh? Bungong jeumpa bungong meulu, keulhèe bungong sigura-gura. Jinoe ka trôh di Simpang Maplam, ileumèe dalam lon cuba-cuba. Huh…

Entah darimana Apa Dolah mendapatkan mantra itu, tiba-tiba saja dia ingin mencobanya. Menurut dia, mungkin karena sekarang bulan puasa, cukup mujarab bagi segala mantra. Apalagi, firasatnya mengatakan bahwa mantra dia adalah suci, dituntut pada orang-orang suci, di masjid pula. Maka, dicobalah praktik ilmu dalamnya itu, yang orang-orang seberang bilang “Ilmu Kanu Ragan”. Apa Dolah mencoba pada teman sekerjanya.

Tob kiri tob kanan, kuhila riwang-riwéng, beusoe putéh beusoe itam, han dipajôh badan watèe ulon ngieng. Sret.. disabetlah leher Pang Saman, teman seperguruannya, seusai membaca kalimat terakhir dari mantranya. Darah muncrat ke kiri dan kanan, melekat di pucuk-pucuk daun. Pasalnya, saat Apa Dolah menyabetkan rencongnya ke leher Pang Saman, mereka sedang gotong royong di halaman sebuah masjid.

Pang Saman tergeletak di tanah bersimbah merah. Belum habis masa sekarat Pang Saman, Apa Dolah kembali menghambur ke arah temannya yang lain, Geuchik Ma’un. Geuchik Ma’un pun mendapat tusukan rencong Apa Dolah. Demikian seterusnya, Apa Dolah terus berpindah ke rekan-rekannya yang lain. Dua, tiga, lima, sudah berjatuhan. Semuanya bermandikan darah. Lambat-laun mereka yang ditebas, ditusuk, dan disabet, itu tak berkutik lagi.

“Hahahaha…” Apa Dolah tertawa puas, karena lama sudah dia merindukan dapat mempraktik ilmu dalamnya. Hari itu, sudah terwujud. Sayangnya, rekan-rekan seperguruannya, yang dia jadikan sebagai kelinci percobaan, tewas semua. Apa Dolah pun akhirnya berurusan dengan polisi.

Usut punya usut, Apa Dolah dan rekan-rekannya itu berguru tentang ‘ilmu suci’ katanya. Tempat belajar mereka pun tak tanggung-tanggung, di rumah tuhan. Namun, entah dari mana punca itu bermula, ilmu yang didapat Apa Dolah telah merenggut nyawa temannya sendiri. Padahal, sang guru pernah berwasiat, menuntôt beusunggô-sunggôh, bek awai pioh sigolom trôh bak punca.

Namun, kelihatannya Apa Dolah terpancing dengan gelagat akrobat maut yang sering ditontonnya dari orang-orang yang menjual ayat Tuhan saat bermain. Akhirnya, Apa Dolah pun mencoba, karena dia beranggapan sudah mampu membaca kitab kuning. Sang guru, entah sedang apa saat itu sehingga hanya melihat saja lakon muridnya. Padahal, ilmu Apa Dolah, dia yang beri.

Sedikit lagi tentang Apa Dolah. Dia ikut perguruan itu juga karena ikut-ikutan. Dia melihat teman-temannya dijuluki suci dengan terlibat dalam perguruan tersebut, sebab kelompok itu mendulang ilmunya dari satu masijd ke masjid yang lain, dari satu kampong ke kampon lain. Maka, ikutlah Apa Dolah dalam klompotan tersebut. Andai saja, Apa Dolah ingat, bahwa buet bèk teumirèe, tapi meugurèe, mungkih itu tak terjadi. Satu lagi, ada pepatah mengatakan, “Buet gob bèk tarindu, meukeumat iku han ék tahila.” Kenyataannya, Apa Dolah memang sudah meukeumat ngon polisi. Dan perguruan mereka pun mulai dibicarakan seperti orang-orang membicarakan bintang di langit. Jadilah bintanglah kelompok perguruan Apa Dolah.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: