Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Daud

Oleh Herman RN

Kancah politik di Aceh Besar semakin hangat saja. Bagaimana tidak, kisruh mundurnya seorang pimpinan yang dahulu terpilih secara demokratis oleh rakyat ternyata tidak diladeni oleh anggota dewan. Dan sekarang, suhu politik di sana semakin memuncak dengan pengakuan sang pemimpin yang mau menjalankan roda pemerintahannya kembali sampai anggota dewan mau menerima surat pengunduran dirinya.

Menariknya, ada sinyalemen, sekelompok orang dalam sebuah lembaga yang dulunya mendukung Daud jadi pemimpin, kepanasan sebab tak dapat bagian proyek. Hatta, ini salah satu isu penyebab pengunduran diri si Daud. Tentu saja ada yang suka, ada yang tidak, terkait ketidakmauan Daud memberikan ‘kado’ untuk sebuah lembaga itu, yang mendukung Daud masa hendak menjadi bupati.

Menurut Apa Dolah, ketidakmauan Daud memberikan proyek kepada lembaga yang pernah mengusungnya tidak bisa menjatuhkan vonis terhadap Daud bahwa dia adalah boh panah dalam hadih maja “Awai boh bayeuk dudo boh panah, panee lom leumah sinalop kana.”

Pasalnya, Daud yang dikenal sufi itu sangat mahfum makna boh panah dan boh bayeuk dalam menjalankan kehidupannya. Itu kata Apa Dolah. Sebab, hadih maja tersebut sangat jelas menginginkan kalimat lanjutan, “Meunyo hana ék tatimbôn tamah, panee lom leumah guna meuguna.” Artinya, siapa mencari guna siapa, masih menjadi pertanyaan dari kasus pemimpin Aceh Besar tersebut. Andaikan hadih maja tersebut diucapkan oleh lembaga yang pernah mengusung Daud jadi pemimpin, tentunya bermaksud hendak mengatakan bahwa Daud tak lebih dari “Kacang lupa kulit”. Namun, andai saja hadih maja itu, Daud yang duluan mengutarakannya, artinya lembaga dimaksud terlalu berharap imbalan pribadi. Padahal, citra lembaga tersebut sempat menjadi harum dengan kelugasan kepemimpinan Daud selama memimpin Aceh Besar.

Terhadap siapa yang duluan mengutarakan hadih maja itu, Apa Dolah belum tahu pasti. Ini pula yang sedang diselidiki oleh sejumlah kalangan, meskipun Daud, kemarin, sudah mengatakan beberapa hal penyebab ia mengundurkan diri. Salah satu alasan disebutkannya karena politik panas di wilayah Aceh Besar. Ada yang percaya, ada yang tidak terhadap alasan itu, sebab panggung sudah dimulai oleh Daud. Jika memang sekedar berdalih politik panas di daerahnya, politik di daerah mana pula yang tidak mungkin panas sehingga Daud harus menulis tangan surat pengunduran dirinya sampai tiga lembar? Atau, jika sekedar politik itu panas yang menjadi alasan dia mengundurkan diri, mengapa pula baru sekarang dia ungkapkan? Berat sangatkah mengatakan kalimat “politik itu panas” dari awal sehingga mesti membuat kancah pemerintahan Aceh serupa biduk kertas di tengah laut?

Ah, tak ada yang tahu pasti tentang itu. Yang jelas, kembalinya Daud dalam sismtem pemerintahan Aceh Besar mengingatkan Apa Dolah pada seorang filsuf Rusia, Leo Tolstoy. Kata Tolstoy, “Arti sejati kehidupan adalah mengabdi pada nilai-nilai kemanusiaan.” Lantas, yang mengacaukan kehidupan manusia(rakyat), apa pula namanya? Hom hai..

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: