Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Islam

oleh Herman RN

Suatu hari kawan saya pernah berujar, “Ayat Allah bukan untuk dijual dan bukan untuk diperjudikan.” Hal itu dikatakannya saat mengomentari Musabaqah Tilawatil Qur’an di suatu tempat. Dia menilai, perhelatan MTQ tidak lebih dari jual ayat serupa orang kampanye. Di samping itu, menurut kawan saya yang tak etis saya sebutkan namanya di sini, ajang MTQ juga sama halnya dengan judi, yakni bernasib-nasiban mencari keuntungan dari pembacaan kalam Ilahi. Itu makanya dia kurang setuju.

“Ah, kawan, aku tak tahu kau dari golongan mana sehingga berujar seperti itu,” kataku menanggapi keluhannya.

Kupikir masalah itu sudah selesai. Ternyata, saat salah satu syarat kelulusan calon legeslatif di Aceh ini dikatakan harus mampu membaca Al-Quran, kawan saya tadi kembali berkomentar. “Nah, coba lihat, ke mana arah Islam mereka bawa. Demi urusan politik pun, Al-Quran kembali diperlombakan. Nanti, setelah lulus baca Quran, pekerjaannya tetap menipu rakyat. Makanya kubilang Al-Quran itu bukan untuk dijual atau diperjudikan,” katanya.

Mungkin temanku itu ada benarnya. Namun, aku melihat sisi lain dari kegiatan uji kemampuan baca Al-Quran bagi para caleg. Jika kawanku itu pesimis anggota dewan terhormat nantinya dijabat oleh para pembaca Al-Quran, sedangkan ditakutkan perbuatan mereka tidak mencerminkan apa yang dikandung Quran (dan Hadis), maka pertanyaan berikutnya, bagaimana pula jika yang menjadi anggota dewan kelak dari orang yang sama sekali tidak mampu membaca Al-Quran?

Kawanku, mungkin inilah salah satu yang ditamsilkan sebagai Islam KTP. Terlepas dari islam-islaman itu, yang patut diingat adalah kampong kita ini pintu gerbang masuknya Islam pertama di Nusantara. Tak dapat dipungkiri pula bahwa penduduk asli kampong kita penganut agama Islam. Bagaimana jika yang duduk di kursi terhormat, hanya orang yang islam-islaman? Membaca Al-Quran saja dia tidak mampu?

Sungguh kawan, aku terkejut membaca berita di media kampong kita. Dikatakan bahwa di rata daerah, puluhan bakal caleg gagal dalam uji kemampuan baca Al-Quran. Yang sangat kuterkejut lagi adalah para bakal caleg itu—jika kita telusuri, merupakan orang-orang yang berwawasan luas dan berpendidikan tinggi. Ah, ternyata baca Al-Quran surat pendek saja tidak lulus.

Maaf kawan, bukan maksudku hendak menjelekkan mereka. Sungguh tak ada maksud untuk itu, apalagi sekarang sedang bulan puasa. Bulan yang bukan puasa saja kita dilarang saling menjelekkan. Namun, sekali lagi, karena kampong kita ini bernama Aceh. Kampong yang katanya sudah ikhlas menerima penerapan syariat Islam. Kampong yang apabila disebutkan namanya saja, bangsa-bangsa luar akan lekas berpikir, “Itu kampongnya orang-orang Islam.”

Kawan, aku jadi teringat sebuah kisah yang diceritakan seorang teman. Katanya, jika orang Aceh bepergian ke luar semisal ke pulau Jawa atau boleh jadi ke luar negeri, sering diminta menjadi imam saat salat berjamaah. Ingat, sudah menjadi trend daerah kita, anggota dewa suka bepergian, studi banding, katanya. Nah, andai saja di luar nantinya ada yang meminta kepada anggota dewan kita menjadi imam, sungguh aku tak tahu apa yang terjadi, jika permintaan itu ditujukan kepada anggota dewan yang lulus tanpa bisa membaca Al-Quran.Kawan, mungkin ini kesedihan kesekian yang patut kita berbagi. Sebab, aku yakin tidak seorang pun dari kita mau menyandang malu karena image jamaah. Misalnya, begitu ketahuan seorang dari orang kampong kita tidak mampu menjadi imam karena dasar membaca ayat Allah tidak ada, maka kita sebagai orang satu kampong akan mendapat aibnya semisal anggapan, “Apa juga orang Aceh, baca Alfatihah saja tida bisa.” Ibaratnya seperti petuah indatu, “Alèe tob beulacan, nyang malèe ureueng jak sajan.”

Maka dari itu, terserah padamu, kawan. Apakah menurutmu uji kemampuan membaca Al-Quran itu masih tidak penting? Terserah pula kepada KIP dan tim pengujinya. Jika memang mereka terpaksa diluluskan semua (bisa baca Al-Quran ataupun tidak) karena pertimbangan tidak ada yang lain, apa boleh bulat pula di saya. Namun, kearifan ureueng Aceh tidak menyebutkan “Daripada tak ada, lebih baik ada (walaupun rusak).” Akan tetapi, ureueng Aceh akan bilang “Leubèh göt rhô nibak singèt, leubèh göt buta nibak juléng.”

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: