Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Gampông

oleh Herman RN

Orang bijak berkata “Apalah arti sebuah nama”. Kenyataannya, tanpa ada nama, orang sulit menyapa dan menyebut sesuatu itu dengan apa. Perkara seperti ini bukan hanya menyangkut soal gelar pada manusia, tetapi juga masalah tempat (daerah) sehingga perlu diberikan nama pada sesuatu yang ingin disebutkan itu.

Katakan saja nama sistem pemerintahan paling bawah, yakni gampông. Kendati masa pemerintahan Soeharto dengan undang-undang nomor 5 tahun 1979 pernah berupaya menghilangkan nama gampông dengan menyetarakan semuanya dengan penyebutan desa, kata “gampông” bagi ureueng Aceh tetap hidup dan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Sudahlah tentang defenisi gampông dan luka masa orde baru itu, kelakar hari ini sekedar menyimak kembali nama-nama gampông di Aceh. Agar tak melebar cakap, kita batasi saja tentang nama-nama gampông di Banda Aceh dan Aceh Besar dulu.

Menurut hemat saya, banyak gampông di Aceh menggunakan kata “Lam” di depannya. Agar tak terlalu luas, kita lihat saja pada nama-nama gampông di Banda Aceh dan Aceh Besar. Ada Lamgugop, Lamglumpang, Lambhuk, Lampriet, Lamtemen, Lampaseh, Lamlagang, Lambaro, Lambarih, Lampu’uk, Lamtuba, Lamseupeung, Lamtamot, Lampakuk, Lambitra, Lamjabat, Lamdingin, Lamnga, Lampisang, Lampeuneurut, Lamkunyet, Lamteh, dan tentunya masih banyak lagi, yang tak mungkin bisa saya ingat dalam waktu sesingkat ini. Jadi, kalau ada yang nama gampông yang tertinggal, silakan ditambah sendiri.

Sampai saat ini, masih ada yang bertanya mengapa nama-nama gampông di Aceh terlalu suka menggunakan kata “Lam”. Saya sendiri kurang tahu. Namun, seorang teman dalam ceritanya pernah membubuhkan nama sebuah gampông di Aceh dengan sebutan—maaf—Lamkrèh. Betapa kata “Lam” di sana dimaknai dengan “dalam” sehingga gampông Lamkrèh adalah sebuah perwujudan daerah yang masyarakatnya mengamalami sakit mendalam karena tingkah zaman buruk oleh polah pemimpinnya. Maka, kesakitan itu digambarkan teman saya dalam bentuk nama gampông “Lamkrèh”. Jika perih yang dirasakan sudah sampai ke dalam (maaf sekali lagi) “krèh”, saya tidak tahu bagaimana menggambarkan kesakitan tersebut.

Demikian perihnya kehidupan masyarakat di gampông itu sehingga gampôngnya pun bernama demikian. Lantas, dengan gampông Lam yang lain, ternyata masih ada juga yang suka melempar jarum dalam jerami. Berlagak “Akulah yang udangnya” masih ada sampai sekarang. Berpura menyelamatkan padi warga dari amuk api menjadi kebiasaan yang diwariskan turun temurun. Kalau perlu, bakar rumah sendiri demi mencari kata simpati. “Ureueng malém peudeuh peungeuh, ureueng ceubeueh peudeuh nyang tueng bila,” kata hadih maja.

Dalam bentuk lain, Tengsoe Jahjono berpendapat, “Siang berpakaian sufi, malam berkostum pencuri. Topeng-topeng tergantung pada setiap biliknya, maka berubahlah ia setiap saat. Walau perut terganjal, panjang usia dipersempit limitnya.” Sungguh dari semua itu, rakyat sedang diajarkan berbohong. Maka, di negeri dongeng yang lain, timbul sebuah nama gampông lagi, yakni Lamsulét. Entah sampai kapan rakyat mendapatkan nama gampông Lambeutoi??? Wallahu’alam. Yang jelas, berjanji dan bersumpah sudah menjadi makanan sehari-hari sembari menjual kata “insya Allah”.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: