Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ingat!!!

oleh Herman RN

Alkisah itu terjadi juga. Mulanya dicurigai karena penghuni hutan membawanya ke sebuah tempat. Masyarakat bilang, ke tempat semayam penghuni rimba tersebut. Namun, kejadian itu terkuak juga, bahwa si dara lima belas tahun itu bukan diambil penghuni rimba yang ditamsilkan seperti hantu atau genderuwo, melainkan diciduk sesama manusia, dinikmati tubuhnya, lalu dibunuh.

Beraneka ungkapan makian melesat dari banyak mulut saat melihat kondisi si dara yang ditemukan tak lagi bernyawa terjepit di akar sebatang kayu. Sadis memang, di bulan suci penuh rahmat, berkah, dan ampunan ini, malah orang mencari dosa dan murka. Namun, itulah fenomenanya.

Ini bukan sekedar kisah, tapi sungguhan terjadi di belahan utara negeri kita. Awalnya karena uang, namun berujung nyawa melayang. Bukan karena perampokan, tapi lebih kepada “tak boleh melihat uram pha”. Karena itu, sudah menjadi kesejatian jika nasihat orang tua mesti tak cukup sekedar di dengar, tapi juga dijalankan.

Lihat saja, si dara malang di Pirak Timu itu. Niat semula mencari biji sawit untuk memperoleh sedikit jajan di Hari Raya yang hanya tinggal bilangan jari. Namun, entah si bejat dari mana, akhirnya si dara dibunuh, setelah terlebih dahulu diperkosa. Ya, kembali lagi kepada kata semula, gara-gara (maaf) uram pha.

Kasus seperti ini biasa hanya kita dapati pada koran yang datang dari negeri jauh di seberang. Namun, belakangan, perkara uram pha di negeri kita semakin menyalak. Bahkan, kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual sudah ikut mewarnai media lokal kampung kita yang isinya juga orang-orang negeri kita. Ah, ini bulan puasa, tapi berita tentang itu harus menjadi santapan sahur dan berbuka kita yang disiarkan banyak media?

Mungkin tak salah jika cang panah ini mencoba mengingatkan kembali kita pada sebuah kata bijak indatu kita. “Jeut-jeut na uteuen pasti na rimueng; jeut-jeut na krueng pasti na buya.Teuma pat jiduek rimueng ngon buya nyan, ini yang menjadi nasihat pada kita, orang tua dan para dara. Bèk gara-gara bubông sèng tuwoe keu bubông ôn meuria; bèk nafsu keu pèng, tuwoe keu bahya.

Ingat dan awas selalu pesan Bang Napi, “Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya, tapi juga karena ada setiap kesempatan.” Kadang di jalan, kadang di sekolah, kadang di taman, kadang di meunasah, kadang di jembatan, kadang pula di sawah. Maka, masihkah memberi kesempatan pada mata-mata jalang dengan memperlihatkan uram pha?

Padum keuh mangat geuleupak gop tob; Nyang leubeh mangat that ie reu-ôh droe. Padum keuh ék gop peuingat; Nyang leubeh göt that taingat keudroe!

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: