Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Biarlah…

oleh Herman RN

Hari Raya Fitri tinggal bilangan sebelah jari. Perkara Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji mulai jadi cerita menyambut pagi. Belum lagi masalah pengungsi korban tsunami. Mereka juga punya punya cerita sendiri. Misalkan saja, pejabat BRR yang punya besar gaji menggelar buka puasa akbar di Jakarta, para korban tsunami tetap masih di barak, entah pun sempat menggigit jari. Jangan-jangan karena sudah sering menggigit jari, mereka tak lagi punya jari (mungkin).

Pembaca yang budiman (berbudi dan beriman), masalah sedih dan BRR bukanlah cerita baru di gampông kita. Mungkin tak ada lagi gunanya saya bercerita tentang BRR bersama pasukan “aib”-nya itu. Mereka sudah kebal dengan berbagai kritikan dan masukan. Jangankan sekedar dihujat lewat tulisan, didatangi ke rumah aibnya itu pun sudah sering dilakukan orang, baik oleh para korban maupun aktivis kemanusiaan. Namun, yang namanya seminar mencari sisa lebih dari pagelaran masih tetap dilakukan. Demikan halnya dengan buka puasa bersama dengan alasan mempererat tali silaturrahmi. Alih-alih buka puasa bersama dengan hanya Rp150 ribu per orang, tetapi dana lebih dari yang dianggarkan masih bisa masuk—kalau bukan kantong belakang, ke kantong depan.

Alasannya memang sederhana. Mereka buka puasa bersama di pusat sana sebagai pelepas penat dan mengikat tali silaturrahmi. Itu makanya pembesarpembesar rumah aib itu bertandang ke pusat. Melepas penat? Mereka berpikir perlu melepas penat karena telah banyak urusan kemanusiaan diurusnya di gampông kita. Tapi, masyarakat korban tak perlu melepas penat, meskipun kadang penat masyarakat lebih berat dari penan mereka.

Bagaimana tidak. Masyarakat berpikir bagaimana mencari pagi untuk makan siang, mencari siang untuk makan malam. Sedangkan pejabat-pejabat di rumah aib itu, cukup sekedar berpikir, masalah makan, sudah berlebih-lebihan. Makanya, saya tak hendak lagi berkisah bagi masukan untuk ‘rumah aib’ itu, meskipun para ‘pejabat aib’ pernah mengatakan BRR adalah milik kita, rakyat Aceh.

Wahai para pengungsi yang kalian tak lagi dianggap sebagai korban bencana tsunami karena telah lama kisah itu pergi, lupakan saja rumah aib berwarna putih itu. Sudah saatnya membiarkan para pejabat di sana tenang bersama aib tsunami ini. Mereka—para pejabat aib itu—terlalu kebal untuk didemo, terlalu bako untuk dihujat, terlalu ceubeueh untuk diberi masukan. Jadi, usah lagi mengulurkan tangan kepada mereka. Mungkin mereka akan sangat terhormat jika kita diamkan saja. Maka itu, mari mencoba untuk tidak mengadu kepada orang-orang di ‘rumah aib’ itu. Masih banyak lat batat kayèe batèe di dunia ini yang dapat diolah. Sedangkan sumbangan dunia untuk janda dan yatim tsunami, biarkah ditelan di rumah aib itu. Bukankah mereka punya alasan tersendiri melakukannya, yakni bahwa mereka juga korban tsunami.

Karena itu, biarlah mereka yang menikmati sedekah untuk korban tsunami itu. Percuma saja diminta, direngek, yang ada hanya mebuahkan luka bertambah. Biarlah mereka berbuka puasa di gedung bertingkat serta memeperoleh tiket pesawat, cukupkanlah diri kita berbuka dalam gelap pengab seadanya saja. Biarlah mereka menggelar kembali seminar-seminar ala internaional untuk menghabiskan uang rakyat, karena sudah menjadi tradisi daerah kita lebih suka adu cakap daripada berbuat nyata untuk rakyat. Dan kita, cukup sekedar mengingat bahwa “Bala tasaba, nekmat tasyukô, sinan nyang le ureueng bahgia.”

Wahai para korban tsunami, usah tangisi lagi nasib hari ini. Mari kita senyumi para pejabat di rumah aib itu yang sedang tertawa. Berikan mereka senyum. Jangan berikan mereka karton bertuliskan hujatan, tapi saatnya kita kirimkan kalungan bunga ucapan selamatan. Bukankah sudah sangat lama mereka ingin diucapkan selamat?

Ya, ucapan selamat. Kalau dari luar, ‘rumah aib’ itu tak pernah terlihat ada cela sehingga banyak bangsa luar yang bersedekah untuk negeri ini mengucapkan selamat kepada mereka—penghuni rumah aib tersebut. Hemat saya, mereka belum pernah mendapatkan ucapan selamat dari korban stunami yang tinggal di barak atau tenda-tenda. Maka, mari kirimkan kalung bunga untuk mereka. Ucapkan sebaris kalimat merdu yang menjadi mimpi mereka. Mari ucapkan selamat kepada mereka. Biarlah… biarlah mereka bangga dan bertepuk dada dengan ucapan selamat dari korban tsunami. Pasti, media seluruh dunia akan mengabarkan bahwa ‘rumah aib’ itu sudah berhasil karena sudah dapat ucapan selamat dari korban tsunami. Mungkin ini jalan untuk mengakhiri cepat masa kerja pejabat aib itu, sebab kalau mereka dianggap dunia sudah berhasil, rumah aib itu pun akan ditutup (mungkin). Mari ucapkan selamat kepada mereka. Karena mereka sudah terlalu kebal dengan ucapan meminta dari kita.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: